KABARBURSA.COM – Taman Safari Bogor membuka peluang penggunaan kendaraan listrik (EV) untuk menunjang operasional bisnisnya.
Penggunaan kendaraan listrik dinilai dapat menjadi solusi dalam meningkatkan efisiensi operasional di tengah kenaikan biaya energi dan kebutuhan operasional.
General Manager Taman Safari Bogor, Sere Nababan mengatakan, penggunaan kendaraan listrik telah masuk dalam kajian manajemen.
Menurutnya, adopsi EV dipertimbangkan seiring meningkatnya beban biaya bahan bakar minyak (BBM), sampai kebutuhan pakan satwa yang terus menekan biaya operasional Taman Safari Bogor.
Namun Sere menilai, penggunaan EV di Taman Safari Bogor masih menghadapi tantangan terkait karakteristik medan yang berbeda dengan kawasan wisata lain.
"Kita memang sedang menjajaki itu tapi kan medannya kami berat ya. Kalau di Taman Mini medannya flat, di sini kan gunung. Kita juga sudah mikir ke sana," ujar Sere saat ditemui di kantornya, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia kemudian menyebut, rencana penggunaan EV bukan merupakan respons jangka pendek terhadap kenaikan harga energi. Kajian penggunaan kendaraan listrik sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya perusahaan terhadap efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
"Masih terus kita jajaki. Itu kita melihat dari berapa tahun lalu tapi banyak faktornya. Kita kan juga mau supaya BBM, energi dan, alam itu kita jaga," kata Sere.
Maka dari itu, Taman Safari Bogor masih mengandalkan armada kendaraan bermesin konvensional untuk mendukung operasional.
Sere juga menegaskan perusahaan tetap menjalankan langkah efisiensi sembari menunggu solusi yang sesuai dengan kebutuhan operasional di kawasan pegunungan.
"Tapi kalau memang belum ada (EV) kan, the show masih go on. Kita masih tetap pakai yang existing. Tapi itu sudah menjadi prinsip termasuk dari holding company kami. Itu menjadi satu target yang harus kami segera selesaikan mengenai efisiensi dan transport," jelasnya.
Lebih lanjut, Sere mengungkapkan tekanan terhadap biaya operasional semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir.
Selain konsumsi BBM kendaraan operasional yang tinggi, perusahaan juga harus menanggung kenaikan biaya energi, bahan pangan, dan pakan satwa, serta pengoperasian berbagai fasilitas pendukung bagi pengunjung.
"Ya betul-betul pastinya semua biaya operasional naik ya. Karena kan tahu sendiri, penggunaan BBM kita juga kan tinggi. Itu juga sangat mempengaruhi dengan dinamika harga BBM," tutur Sere.
Ia menambahkan, biaya energi menjadi salah satu komponen yang mengalami kenaikan paling besar dalam operasional Taman Safari Bogor.
"Kayak kemarin untuk energi aja kita bisa kisarannya 30 persenan naik ya. Terus juga bahan-bahan pokok itu ya dua digit juga lah lumayan naik. Lumayan besar. Jadi ya prinsip kami untuk bisa tetap the show must go on ya efisiensi tetap kami lakukan," terangnya.
Di tengah tekanan biaya tersebut, Taman Safari Bogor berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi agar sektor pariwisata dapat terus tumbuh.
"Ya kami mohon supaya pemerintah taking care masyarakatnya untuk bisa menstabilkan harga di pasaran. Supaya semua bisnis termasuk pariwisata berjalan optimal," tutur Sere.
Pengunjung Taman Safari Bogor Melonjak
Ketidakpastian ekonomi yang disertai kenaikan berbagai biaya operasional perjalanan, belum sepenuhnya menekan minat masyarakat untuk berwisata ke Taman Safari Bogor.
Di tengah kondisi tersebut, Taman Safari Bogor justru mencatat peningkatan jumlah pengunjung selama libur sekolah dibandingkan masa liburan tahun lalu.
Sere menyatakan minat wisata di Taman Safari didorong adanya pergeseran pola konsumsi wisata dari perjalanan udara ke destinasi yang lebih mudah dijangkau.
Ia mengakui, tekanan ekonomi tetap memberikan dampak terhadap industri pariwisata. Menurut Sere, berbagai faktor seperti gejolak ekonomi global, kenaikan harga minyak dunia, serta biaya transportasi ikut mempengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan destinasi liburan.
"Pasti semua ada pengaruhnya, kami pun juga. Saat krisis atau perang yang terjadi itu pun, secara dampak kedatangan pengunjung terasa juga," ujarnya saat ditemui di Taman Safari Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Juli 2026.
Lebih lanjut, Sere melihat, kenaikan jumlah pengunjung Taman Safari Bogor sejauh ini dibanding tahun lalu salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya biaya perjalanan udara. Hal ini, mendorong banyak wisatawan keluarga memilih destinasi yang dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi.
"Kami sangat bersyukur, justru liburan sekolah ini antusiasme pengunjungnya sangat tinggi dibandingkan tahun lalu. Bisa jadi faktornya karena semua naik, BBM naik, avtur naik, tiket pesawat naik," katanya.
Menurut dia, kenaikan biaya transportasi membuat keluarga lebih selektif dalam mengatur anggaran liburan. Destinasi yang dapat dijangkau lewat jalur darat menjadi pilihan karena dinilai lebih ekonomis dibandingkan bepergian jarak jauh menggunakan pesawat.
"Banyak juga tamu-tamu ini kita lihat destinasinya memilih berlibur dengan kendaraan yang terjangkau. Artinya jaraknya tidak terlalu jauh dengan kotanya. Itu pandangan kami, analisa kami," ujar Sere.
Ia menambahkan, keberadaan jaringan Tol Trans Jawa turut mendukung peningkatan kunjungan wisatawan dari luar kota.
Berdasarkan pengamatan manajemen, banyak pengunjung datang menggunakan kendaraan pribadi dari berbagai daerah, termasuk luar Jakarta dan Jawa Barat.
"Tahun ini yang kami analisa justru banyak pengunjung luar kota datang karena memilih berlibur melalui jalur darat. Dan itu efeknya ke kami, bahkan ada mobil pengunjung dari Lampung hingga daerah di luar Jakarta," ucapnya.