KABARBURSA.COM – Industri otomotif China mencatat tonggak baru setelah ekspor kendaraan pada Juni 2026 untuk pertama kalinya menembus angka 1 juta unit. Lonjakan tersebut tidak hanya menegaskan dominasi China di pasar global, tetapi juga menunjukkan pergeseran pusat pertumbuhan industri otomotif ke kawasan ASEAN, yang selama ini menjadi basis kuat produsen mobil Jepang.
Berdasarkan data Asosiasi Produsen Otomotif China (CAAM) yang dirilis pada 9 Juli, ekspor kendaraan China mencapai 1,037 juta unit pada Juni 2026. Jumlah itu meningkat 11,6 persen dibandingkan Mei dan melonjak 75,1 persendibandingkan periode yang sama tahun lalu.
CarNewsChina melaporkan, sepanjang semester pertama 2026, total ekspor kendaraan China telah mencapai 5,096 juta unit, atau tumbuh 65,3 persen secara tahunan.
Capaian tersebut jauh melampaui proyeksi awal CAAM yang memperkirakan ekspor kendaraan sepanjang 2026 hanya mencapai 7,4 juta unit, dengan pertumbuhan sekitar 4,3 persen. Di tengah pelemahan pasar domestik akibat penurunan penjualan dua digit, ekspor justru menjadi penopang utama industri otomotif Negeri Tirai Bambu.
Seberapa Penting Pasar ASEAN bagi China?
Di balik lonjakan ekspor tersebut, perubahan peta permintaan global mulai terlihat. Pertumbuhan tidak lagi hanya bertumpu pada pasar tradisional, tetapi bergeser ke kawasan berkembang, terutama ASEAN.
Data Organisasi Produsen Kendaraan Bermotor Internasional (OICA) menunjukkan permintaan kendaraan selama lima bulan pertama 2026 meningkat 35 persen di Vietnam dan 15 persen di Thailand. Selain ASEAN, pasar Rusia juga mencatat pertumbuhan permintaan sebesar 10 persen.
Kondisi tersebut menjadikan kawasan ASEAN sebagai salah satu tujuan ekspansi utama produsen otomotif China yang terus memperluas penetrasi pasar melalui kendaraan listrik maupun kendaraan energi baru.
Momentum ini juga memperbesar tekanan bagi produsen otomotif Jepang yang selama puluhan tahun mendominasi pasar Asia Tenggara. Ketika produsen China agresif menawarkan kendaraan listrik dengan teknologi terbaru, sejumlah merek global masih bergerak lebih lambat dalam proses elektrifikasi.
Perubahan terbesar juga terlihat pada komposisi ekspor kendaraan China. Untuk pertama kalinya, kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) menyumbang lebih dari separuh total ekspor bulanan.
Pada Juni 2026, ekspor NEV mencapai 523.000 unit, atau meningkat 1,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Artinya, lebih dari 50 persen kendaraan yang dikirim China ke pasar luar negeri kini merupakan kendaraan energi baru.
Sementara itu, selama Januari hingga Juni 2026, ekspor NEV mencapai 2,355 juta unit, naik 1,2 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan berkontribusi 46,2 persen terhadap total ekspor kendaraan China.
Produsen China Manfaatkan Lambatnya Transisi Pabrikan Global
Keberhasilan ekspor tersebut tidak hanya didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik, tetapi juga perubahan persaingan di industri otomotif global. Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), Cui Dongshu, produsen otomotif China mampu memanfaatkan celah yang muncul ketika sejumlah pabrikan global seperti Volkswagen dan Toyota masih bergerak lebih lambat dalam transisi menuju kendaraan listrik.
Didukung rantai pasok yang lengkap, mulai dari baterai, motor listrik, hingga sistem kontrol elektronik, produsen China mampu menawarkan kendaraan dengan teknologi seperti pengisian cepat 800 volt, integrated casting, dan sistem bantuan mengemudi pintar. Kombinasi tersebut bahkan membuat kendaraan listrik China dapat dipasarkan dengan harga premium sekitar 10 persen di Eropa.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), Cui Dongshu, menilai keberhasilan tersebut ditopang rantai pasok kendaraan listrik China yang semakin matang.
Menurutnya, keunggulan biaya produksi baterai, motor listrik, dan sistem kontrol elektronik membuat produsen China mampu bersaing di pasar global. Di sisi lain, teknologi seperti sistem pengisian cepat 800 volt, integrated casting, hingga teknologi baterai eksklusif memungkinkan kendaraan China dijual dengan harga premium sekitar 10 persen di pasar Eropa.
Selain itu, produsen otomotif China juga dinilai berhasil mengisi celah pasar yang ditinggalkan lambatnya transisi elektrifikasi dari produsen otomotif tradisional seperti Volkswagen dan Toyota dengan menawarkan fitur pengisian cepat dan sistem bantuan mengemudi yang lebih canggih.
Apa Tantangan untuk Pabrikan China?
Meski mencatat pertumbuhan ekspor yang memecahkan rekor, CAAM memperkirakan laju ekspansi tersebut berpotensi melambat pada paruh kedua tahun ini.
Cui Dongshu mengingatkan sejumlah tantangan mulai bermunculan, mulai dari penerapan tarif karbon Uni Eropa, investigasi anti-subsidi terhadap kendaraan listrik China, hingga tingginya basis ekspor pada paruh kedua 2025.
Meski demikian, dengan kuatnya permintaan dari ASEAN, Timur Tengah, dan Rusia, ekspor kendaraan diperkirakan tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama industri otomotif China sepanjang 2026.(*)