KABARBURSA.COM – Pengembangan baterai solid-state disebut belum siap untuk diadopsi secara luas meski industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) punya ekspektasi tinggi.
Hal itu disampaikan Profesor Ouyang Minggao dari Universitas Tsinghua dalam Forum Pengembangan Kendaraan Listrik Cerdas yang berlangsung pada 11–12 April 2026 di Beijing.
Melansir CarNewsChina, Outyang mengingatkan bahwa baterai solid-state masih menghadapi sejumlah tantangan ilmiah yang belum terselesaikan. Menurutnya, salah satu kendala utama terletak pada reaksi samping di antarmuka material yang dapat memengaruhi stabilitas kimia, mekanik, termal, hingga ketahanan terhadap udara.
Kondisi ini, kata dia, membuat pengembangan teknologi tersebut belum sepenuhnya matang untuk implementasi komersial dalam waktu dekat.
Ia juga menyoroti tingginya antusiasme industri terhadap baterai solid-state yang dinilai perlu disikapi dengan kehati-hatian. Ouyang mengingatkan perusahaan agar tidak terburu-buru meluncurkan produk berbasis teknologi ini.
Dalam paparannya, ia memperkirakan baterai solid-state dengan kepadatan energi sekitar 300 Wh/kg kemungkinan baru akan muncul pada akhir dekade 2030.
Dengan demikian, adopsi teknologi ini masih membutuhkan waktu seiring penyelesaian berbagai tantangan teknis yang ada.
Selain itu, Ouyang juga mengingatkan agar baterai solid-state tidak diposisikan sebagai sekadar alat pemasaran. Ia menilai pendekatan tersebut berisiko menciptakan kesenjangan antara ekspektasi industri dan kesiapan teknologi di lapangan.
Di sisi lain, China disebut telah mencatat kemajuan dalam pengembangan teknologi ini, termasuk kontribusi terhadap 44 persen aplikasi paten baru yang diterbitkan tahun lalu.
Kapasitas produksi elektrolit sulfida dalam negeri juga telah melampaui 20.000 ton, dengan harga yang turun signifikan dari 20 juta yuan per ton menjadi di bawah 1 juta yuan per ton.
Meski demikian, perkembangan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan hambatan utama dalam pengembangan baterai solid-state, terutama pada aspek stabilitas dan keamanan material.
Dalam konteks yang lebih luas, Ouyang menekankan bahwa arah pengembangan industri kendaraan listrik tetap bergantung pada kesiapan teknologi yang dapat diimplementasikan secara aman dan efisien, bukan semata pada ekspektasi pasar.(*)