KABARBURSA.COM – Ketua Geely, Li Shufu, menyoroti tantangan teknis kendaraan listrik berbasis baterai lithium. Sorotan itu berkaitan dengan bobot kendaraan, sekaligus menegaskan arah pengembangan alternatif energi melalui metanol.
Dalam Forum Pengembangan Kendaraan Listrik Pintar China 2026, Li menyatakan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai lithium memiliki bobot yang bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan kendaraan berbahan bakar metanol dengan kapasitas sebanding.
Pernyataan ini menjadi bagian dari penegasan strategi Geely yang terus mendorong metanol sebagai salah satu jalur energi alternatif.
Li menjelaskan bahwa perbedaan bobot tersebut berkaitan dengan kepadatan energi. Ia menyebut metanol memiliki keunggulan signifikan dibandingkan baterai lithium-ion.
“Lebih dari sepuluh kali lebih tinggi,” kata Li dikutip dari CarNewsChina, Minggu, 12 April 2026.
Dengan karakteristik tersebut, kendaraan berbahan bakar metanol dinilai mampu membawa muatan serupa dengan bobot kendaraan yang lebih ringan.
Menurutnya, bobot yang lebih tinggi pada kendaraan listrik berbasis baterai berpotensi meningkatkan konsumsi energi, terutama pada penggunaan di sektor transportasi berat.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kendaraan listrik baterai telah mencapai adopsi dalam skala besar di China, namun faktor efisiensi masih membuka ruang bagi alternatif lain.
Sejalan dengan itu, Li juga menyinggung dukungan kebijakan pemerintah China terhadap pengembangan energi alternatif. Ia merujuk pada pedoman Juli 2024 yang mendorong percepatan transisi ekonomi hijau, termasuk pengembangan infrastruktur pengisian daya, penggantian baterai, hidrogen, dan metanol.
Selain itu, pada Oktober 2024, enam departemen pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mendorong pengembangan basis energi terbarukan terintegrasi, yang mencakup angin, matahari, hidrogen, amonia, dan metanol. Menurut Li, kebijakan tersebut menjadi sinyal dimulainya substitusi energi dalam skala besar di sektor domestik.
Pengembangan kendaraan berbahan bakar metanol sendiri bukan hal baru bagi Geely. Perusahaan telah mengembangkan teknologi ini selama lebih dari dua dekade. Program percontohan resmi dimulai pada 2012 di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, yang kemudian diperluas secara nasional.
Pada 2019, delapan lembaga pemerintah pusat juga menerbitkan panduan untuk mendorong penggunaan kendaraan metanol di wilayah tertentu. Hingga kini, sebanyak 39 kota di 20 wilayah tingkat provinsi telah mengeluarkan lebih dari 80 kebijakan yang mendukung pengembangan kendaraan berbahan bakar metanol.
Implementasi teknologi ini juga telah masuk ke tahap produksi dan pengujian. Salah satunya melalui varian plug-in hybrid metanol dari sedan Galaxy Starshine 6 yang dilengkapi mesin 1,5 liter berdaya 93 kW.
Selain itu, Geely juga mengembangkan pengujian di sektor motorsport, termasuk mesin yang disebut “sepenuhnya kompatibel dengan bahan bakar metanol M100.”
Li menempatkan kendaraan berbahan bakar metanol sebagai solusi utama untuk sektor transportasi komersial dan angkutan berat.
Ia menilai teknologi ini memiliki potensi dalam efisiensi biaya operasional serta pengurangan emisi sepanjang siklus hidup, terutama jika dikombinasikan dengan produksi metanol berbasis energi terbarukan.
Di sisi bisnis, Geely juga mencatat pertumbuhan ekspor. Wakil Presiden Senior Geely Holding Group, Yang Xueliang, menyampaikan bahwa perusahaan mengekspor lebih dari 200.000 kendaraan pada kuartal pertama tahun 2026. Jumlah ini meningkat 126 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kendaraan energi baru menjadi kontributor utama. Sementara target ekspor tahunan juga dinaikkan dari 640.000 unit menjadi 750.000 unit.(*)