KABARBURSA.COM – Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu memprediksi kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV) akan menjadi teknologi yang paling diuntungkan apabila pemerintah memperluas insentif kendaraan rendah emisi tidak hanya untuk battery electric vehicle (BEV), tetapi juga mencakup hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga kendaraan bermesin konvensional.
Menurut Yannes, karakter pasar Indonesia membuat kendaraan hybrid memiliki posisi yang berbeda dibanding teknologi elektrifikasi lainnya. HEV dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat karena tidak bergantung pada infrastruktur pengisian daya.
“Dalam jangka pendek saya melihat HEV masih menjadi teknologi yang paling diuntungkan. Alasannya karena teknologi ini sesuai dengan pola mobilitas masyarakat Indonesia yang sering melakukan perjalanan jarak jauh tanpa bergantung pada infrastruktur pengisian daya,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 10 Juli 2026.
Pandangan tersebut muncul di tengah usulan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) agar pemerintah memberikan insentif yang lebih inklusif bagi seluruh teknologi kendaraan rendah emisi. Selama ini, kebijakan fiskal pemerintah lebih banyak diarahkan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik berbasis baterai.
Di pasar domestik sendiri, kendaraan hybrid terus berkembang sebagai salah satu segmen elektrifikasi. GAIKINDO kini bahkan memisahkan laporan penjualan HEV, PHEV, dan BEV sebagai kategori tersendiri, menunjukkan bahwa ketiga teknologi tersebut mulai memiliki pasar yang semakin jelas.
Pemisahan tersebut menjadi indikator meningkatnya perhatian industri terhadap perkembangan masing-masing teknologi elektrifikasi di pasar nasional.
Berbeda dengan kendaraan listrik murni, HEV tidak memerlukan pengisian daya melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Sistem baterainya diisi melalui mesin pembakaran dan regenerative braking sehingga pola penggunaannya tidak jauh berbeda dengan kendaraan konvensional.
Karakter tersebut membuat HEV kerap diposisikan sebagai teknologi transisi menuju elektrifikasi penuh, terutama di negara yang infrastruktur pengisian dayanya masih berkembang seperti Indonesia.
Mengapa HEV Dinilai Paling Siap Memanfaatkan Perluasan Insentif?
Yannes menjelaskan, selain HEV, kendaraan plug-in hybrid juga memiliki prospek yang baik karena menawarkan fleksibilitas menggunakan tenaga listrik maupun mesin bensin.
“PHEV juga memiliki prospek yang baik karena memberikan fleksibilitas menggunakan listrik maupun bensin. Sementara itu, BEV tetap memiliki potensi terbesar dalam jangka panjang ketika jaringan SPKLU semakin merata, harga baterai semakin turun, dan biaya kepemilikan makin kompetitif,” ujarnya.
“Jadi, saya melihat persaingan antarteknologi ini bukan saling menggantikan, tetapi berkembang mengikuti kesiapan ekosistemnya,” sambung akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.
Dari sisi industri, perluasan insentif dinilai berpotensi langsung dimanfaatkan produsen Jepang yang selama ini mendominasi pasar otomotif nasional. Toyota, Honda, Suzuki hingga Mitsubishi Motors telah lebih dulu mengembangkan berbagai model hybrid sebagai bagian dari strategi elektrifikasi mereka.
Toyota, misalnya, mengandalkan Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid yang diproduksi di dalam negeri, sementara Honda memperluas lini e:HEV sebagai bagian dari transisi menuju kendaraan listrik penuh. Suzuki juga mengembangkan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) pada sejumlah modelnya.
Dengan portofolio yang sudah tersedia di pasar, kebijakan insentif dinilai dapat memberikan dampak lebih cepat terhadap penjualan tanpa harus menunggu peluncuran model baru maupun pembangunan ekosistem tambahan.
Bagaimana Dampaknya terhadap Persaingan Jepang dan China?
Yannes menilai, apabila insentif diperluas secara proporsional, produsen Jepang dan China kemungkinan akan merespons dengan strategi yang berbeda.
“Kalau insentif diperluas secara proporsional, saya justru melihat iklim investasi akan semakin positif. Pabrikan Jepang kemungkinan memperkuat lini HEV karena sesuai dengan kekuatan mereka pada jaringan aftersales, reliabilitas produk, dan loyalitas konsumennya,” ujarnya.
Di sisi lain, menurut dia, produsen asal China berpotensi mempercepat investasi perakitan completely knocked down (CKD) sekaligus memperluas pengembangan kendaraan PHEV.
“Sebaliknya, produsen China berpotensi mempercepat investasi CKD serta pengembangan PHEV dengan harga sejajar HEV Jepang maupun BEV yang semakin menyasar harga LCGC Jepang, karena China memiliki keunggulan biaya produksi dan teknologi baterai yang tidak dapat disaingi negara mana pun di dunia,” katanya.
Meski demikian, Yannes mengingatkan agar perluasan insentif tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan kendaraan. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kebijakan tersebut mampu mendorong transfer teknologi, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengembangan industri baterai nasional, serta memperkuat jaringan pemasok komponen lokal.
Dengan pendekatan tersebut, insentif tidak hanya menjadi stimulus jangka pendek bagi pasar otomotif, tetapi juga memberi nilai tambah bagi industri manufaktur nasional dan investasi jangka panjang.(*)