KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dalam beberapa waktu terakhir berada dalam satu lanskap yang tidak hanya dipengaruhi oleh harga di layar perdagangan, tetapi juga oleh rangkaian aksi korporasi dan penataan struktur yang berjalan paralel di dalamnya.
Di tengah kondisi tersebut, arah pergerakan saham menjadi cerminan dari interaksi antara fundamental, kebijakan pemegang saham, serta dinamika teknikal jangka pendek.
Dari sisi struktur kepemilikan, perubahan yang terjadi pada awal Januari 2026 memperlihatkan penataan ulang porsi saham negara. Pengalihan sebagian saham Seri B dari PT Danantara Asset Management (DAM) kepada BP BUMN membuat kepemilikan langsung BP BUMN meningkat menjadi 0,52 persen. Sementara, DAM tetap memegang porsi mayoritas sebesar 51,57 persen.
Perubahan ini tidak menggeser posisi negara sebagai pengendali, tetapi menunjukkan adanya konsolidasi struktur kepemilikan dalam kerangka regulasi terbaru.
Di sisi lain, kebijakan dividen menjadi salah satu elemen yang menjaga daya tarik saham. TLKM memberikan panduan pembayaran dividen minimal Rp21 triliun untuk tahun buku 2025, dengan estimasi dividend payout ratio yang berpotensi meningkat ke sekitar 91 persen.
Rasio ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dan kabar ini mencerminkan porsi distribusi laba yang semakin besar kepada pemegang saham di tengah kondisi kinerja yang tetap stabil.
Infranexia, Perbesar Skala Bisnis
Langkah strategis juga terlihat dari rencana konsolidasi aset melalui entitas Infranexia. Integrasi potensi jaringan serat optik PLN Icon Plus menjadi bagian dari upaya memperbesar skala bisnis infrastruktur digital.
Dengan jaringan lebih dari 400 ribu kilometer serta basis pelanggan yang luas, tambahan aset ini diperkirakan dapat mendorong kontribusi EBITDA secara signifikan, dengan proyeksi mencapai sekitar Rp12,7 triliun dalam skema proforma.
Konsolidasi ini tidak hanya berdampak pada operasional, tetapi juga pada persepsi pasar terhadap valuasi. Dengan asumsi pelepasan sebagian saham Infranexia ke investor strategis pada valuasi EV/EBITDA 9 hingga 12 kali, estimasi nilai wajar saham TLKM berada di kisaran Rp4.100 hingga Rp4.500.
Sementara itu, posisi valuasi saat ini di sekitar 5,1 kali EV/EBITDA 2026 masih berada di bawah rata-rata historis sektor. Artinya, masih ada ruang yang terbuka dalam perspektif penilaian.
Harga Masih Tertahan, Rekomendasi Buy on Weakness?
Namun, di tengah rangkaian tersebut, pergerakan harga saham masih menunjukkan dinamika jangka pendek yang belum sepenuhnya searah. Pada perdagangan terakhir, 10 April 2026, TLKM ditutup menguat tipis 0,63 persen ke level 3.210, dengan dominasi volume pembelian yang tetap terlihat.
Pergerakan harga masih tertahan di sekitar garis MA200, yang menjadi batas teknikal penting dalam struktur tren saat ini.
Dalam kerangka teknikal, posisi TLKM berada dalam fase yang belum sepenuhnya membentuk arah lanjutan. Area 3.010 hingga 3.120 menjadi zona yang sering menjadi titik reaksi harga, sementara ruang kenaikan berada di kisaran 3.300 hingga 3.410.
Struktur ini mencerminkan pergerakan yang masih berada dalam fase konsolidasi, di mana kenaikan belum diikuti oleh dorongan yang cukup kuat untuk menembus resistance utama.
Jika disandingkan dengan keseluruhan data, TLKM berada dalam kondisi yang memperlihatkan dua lapisan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, fundamental dan aksi korporasi menunjukkan penguatan melalui dividen tinggi dan ekspansi infrastruktur.
Di sisi lain, pergerakan harga masih bergerak dalam rentang terbatas, dengan tekanan teknikal yang belum sepenuhnya terlewati.
Memasuki perdagangan berikutnya, pergerakan saham TLKM akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap area teknikal yang sedang diuji. Selama harga masih bergerak di sekitar rentang saat ini, pergerakan cenderung berada dalam pola yang sama, dengan kenaikan yang tertahan dan penurunan yang mulai mendapat penopang.
Dalam struktur ini, arah pergerakan tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh interaksi antara kekuatan beli yang muncul dan tekanan yang masih tersisa di atas harga.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.