Logo
>

Ini Profil DILD yang Dikoleksi Lo Kheng Hong 716,81 Juta Saham

Lo Kheng Hong menambah 12,67 juta saham DILD hingga kepemilikannya mencapai 6,92 persen. Namun saham Intiland masih bergerak lesu dengan tekanan asing besar sepanjang Mei 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
Ini Profil DILD yang Dikoleksi Lo Kheng Hong 716,81 Juta Saham
DILD merupakan emiten properti lama di Bursa Efek Indonesia yang sudah melantai sejak 1991. (Foto: dok Intiland Dild)

KABARBURSA.COM - Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menambah koleksi saham PT Intiland Development Tbk (DILD). Per 30 April 2026, Lo tercatat membeli sekitar 12,67 juta saham sehingga total kepemilikannya naik menjadi 716,81 juta saham atau setara 6,92 persen.

Masuknya kembali Lo Kheng Hong membuat saham DILD kembali menjadi perhatian pasar. Sebab, investor yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu dikenal cukup selektif dalam memilih saham berbasis aset besar dengan valuasi murah.

DILD sendiri merupakan emiten properti lama di Bursa Efek Indonesia yang sudah melantai sejak 1991. Fokus bisnis perusahaan berada di sektor pengembangan properti, kawasan terpadu, apartemen, kawasan industri hingga investasi properti di Jakarta dan Surabaya.

Portofolio DILD mencakup pengembangan kawasan mixed-use, hunian menengah atas, apartemen high rise, kawasan industri hingga jaringan hotel dan lapangan golf. Beberapa anak usaha utama yang menopang bisnisnya antara lain PT Intiland Grande, Taman Harapan Indah dan PT Intiland Sejahtera.

Dari sisi struktur pemegang saham, publik masih menguasai sekitar 41,3 persen saham dengan porsi free float sebesar 38,78 persen. Sementara pemegang saham besar lainnya berasal dari grup CGS dan Bina Yatra Sentosa.

Perkiraan Keuntungan Lo di DILD

Dengan total kepemilikan mencapai 716,81 juta saham, nilai investasi Lo Kheng Hong di DILD saat ini diperkirakan mencapai sekitar Rp87,45 miliar berdasarkan harga penutupan saham pada 26 Mei 2026 di level Rp122 per saham.

Sementara tambahan pembelian terbaru sebanyak 12,67 juta saham memiliki estimasi nilai sekitar Rp1,54 miliar. Namun hingga kini belum ada rincian harga rata-rata akumulasi saham yang dimiliki Lo Kheng Hong dalam keterbukaan informasi perusahaan.

Meski demikian, bila asumsi akumulasi dilakukan di kisaran harga perdagangan Mei 2026, yakni sekitar Rp120 hingga Rp129 per saham, maka posisi investasi terbaru investor tersebut diperkirakan masih berada di area break even atau keuntungan tipis.

Sebagai simulasi, apabila rata-rata harga akumulasi Lo berada di level Rp100 per saham, maka potensi keuntungan belum terealisasi (unrealized gain) yang dimiliki saat ini mencapai sekitar Rp15,77 miliar.

Namun bila rata-rata pembelian berada di kisaran Rp125 per saham, maka posisi investasinya justru masih mencatat potensi rugi tipis sekitar Rp2,15 miliar. Kondisi itu membuat arah keuntungan investasi Lo di DILD sangat bergantung pada harga rata-rata akumulasi yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir.

Bukukan Laba Bersih 1Q26 Rp2 Miliar

Meski bergerak di sektor properti yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan, fundamental DILD mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I 2026, DILD berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp2 miliar.

Angka tersebut memang masih kecil dibanding skala aset perusahaan. Namun kondisi itu menjadi perubahan besar dibanding kuartal I 2024 ketika DILD masih mencatat rugi bersih Rp84 miliar.

Pendapatan DILD pada kuartal I 2026 tercatat sekitar Rp620 miliar. Nilai tersebut sedikit turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp641 miliar.

Secara tahunan, DILD membukukan pendapatan sekitar Rp2,46 triliun pada 2025 dengan laba bersih Rp64 miliar. Sebelumnya pada 2024, laba bersih perusahaan mencapai Rp175 miliar.

Kapitalisasi pasar DILD saat ini berada di kisaran Rp1,26 triliun. Namun nilai enterprise value perusahaan mencapai sekitar Rp4,56 triliun, mencerminkan besarnya aset dan liabilitas yang masih melekat di bisnis properti tersebut.

Gerak Saham Masih Berat, Asing Rutin Jual

Di pasar saham, pergerakan DILD selama sebulan terakhir masih terlihat berat. Harga saham perlahan turun dari area 129 pada awal Mei menjadi 122 pada perdagangan 26 Mei 2026.

Dalam periode tersebut, saham DILD lebih banyak bergerak stagnan dengan likuiditas yang relatif tipis. Nilai transaksi harian mayoritas hanya berada di kisaran Rp2 miliar hingga Rp3 miliar.

Tekanan terbesar datang dari arus dana asing yang masih konsisten keluar. Sejak awal Mei hingga 22 Mei 2026, asing tercatat nyaris terus melakukan distribusi.

Pada 8 Mei 2026, net sell asing mencapai Rp782,31 juta. Tekanan berlanjut pada 11 Mei sebesar Rp461,67 juta dan 13 Mei mencapai Rp611,75 juta.

Distribusi asing terbesar lain terjadi pada 21 Mei 2026 dengan net sell Rp383,45 juta. Sementara itu, net buy asing baru mulai muncul tipis pada 25 Mei 2026 sebesar Rp2,67 juta.

Jika ditotal sejak 5 Mei hingga 25 Mei 2026, asing masih mencatat penjualan bersih lebih dari Rp4 miliar di saham DILD. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga saham sulit keluar dari fase konsolidasi panjang.

Area 120 Titik Pantul

Secara teknikal, area 120 kini menjadi support penting bagi DILD. Level tersebut beberapa kali menjadi titik pantul saham sepanjang Mei 2026.

Sementara resistance jangka pendek berada di area 125 hingga 128. Saham ini perlu kembali menembus area tersebut untuk membuka peluang pemulihan yang lebih kuat.

Masuknya Lo Kheng Hong membuat pasar mulai kembali melirik valuasi DILD. Namun di sisi lain, investor masih menunggu kepastian pemulihan sektor properti dan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan laba di tengah perlambatan daya beli.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79