KABARBURSA.COM – Saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk atau PACK melesat nyaris menyentuh Auto Reject Atas pada sesi berjalan perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Saham emiten yang sedang bertransformasi ke bisnis nikel itu naik 28 poin atau 9,93 persen ke level Rp310.
Harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp310 yang sekaligus menjadi batas ARA harian.
Lonjakan muncul di tengah serangkaian aksi korporasi besar yang sedang dilakukan perusahaan. Salah satunya adalah pencatatak saham baru.
PACK mencatatkan 196.616 saham baru hasil konversi obligasi wajib yang efektif berlaku mulai 25 Mei 2026. Dengan tambahan tersebut, total saham beredar perusahaan kini mencapai 32,37 miliar lembar saham.
Pasar langsung mengaitkan pencatatan saham baru tersebut dengan langkah agresif perusahaan mempercepat transformasi bisnis menuju sektor tambang dan perdagangan nikel. Sentimen itu membuat saham PACK kembali menjadi arena spekulasi trader jangka pendek.
Masuknya Pengusaha Kalimantan Haji Isam
PACK sebelumnya dikenal sebagai PT Solusi Kemasan Digital Tbk. Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan berubah arah bisnis dan mulai fokus membangun ekosistem investasi berbasis komoditas dan energi, terutama nikel.
Transformasi tersebut semakin terlihat setelah masuknya pengusaha Kalimantan Selatan Haji Isam ke dalam struktur kepemilikan saham perusahaan. Sebelumnya, Haji Isam membeli 6,83 miliar saham PACK atau setara 21,12 persen kepemilikan.
Nilai transaksi pembelian tersebut mencapai Rp936,65 miliar dengan harga Rp137 per saham. Masuknya nama besar seperti Haji Isam langsung mengubah persepsi pasar terhadap PACK.
Saham yang sebelumnya bergerak relatif sepi mulai berubah menjadi saham dengan volatilitas tinggi. Aktivitas transaksi meningkat dan minat spekulatif mulai bermunculan.
Akuisisi Tambang Nikel
Euforia terbaru di saham PACK dipicu rencana akuisisi dua perusahaan tambang nikel sekaligus. PACK akan mengambil alih sebagian saham PT Karayatama Konawe Utara atau KKU dan PT Konutara Sejati atau KS.
Nilai total transaksi mencapai sekitar USD75,91 juta. Perusahaan akan mengakuisisi 15,62 persen saham KKU dan 14,62 persen saham KS.
Langkah tersebut membuat pasar semakin yakin arah transformasi bisnis PACK memang serius menuju sektor pertambangan nikel. Komoditas nikel sendiri masih menjadi salah satu tema besar pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Permintaan kendaraan listrik global dan agenda hilirisasi pemerintah membuat saham berbasis nikel tetap memiliki daya tarik tinggi. Karena itu, setiap emiten yang masuk ke sektor tersebut biasanya langsung mendapat perhatian besar dari pasar.
Pendanaan Utang
Di balik euforia kenaikan saham, pasar juga mulai menyoroti struktur pendanaan yang digunakan PACK. Akuisisi dua tambang tersebut akan dibiayai melalui perpetual loan atau pinjaman pemegang saham dari PT Eco Energi Persada atau EEP.
Nilai pinjaman mencapai USD93,14 juta dengan bunga 8 persen per tahun. Karena EEP merupakan pemegang saham pengendali PACK, transaksi tersebut masuk kategori transaksi afiliasi.
Nilai perpetual loan juga tergolong besar. Angkanya setara sekitar 48,06 persen dari total ekuitas perusahaan.
Dana tersebut akan digunakan sekitar USD33,49 juta untuk pembelian saham KS dan USD42,42 juta untuk pembelian saham KKU. Sisanya digunakan untuk kebutuhan transaksi terkait lainnya.
Melesat Nyaris 10 Persen
Pergerakan PACK hari ini memperlihatkan bagaimana pasar sangat responsif terhadap kombinasi aksi korporasi besar, perubahan bisnis, dan masuknya figur kuat di belakang perusahaan.
Harga saham dibuka di level Rp282 sebelum langsung melesat menuju Rp310. Nilai transaksi mencapai Rp172,8 miliar dengan volume perdagangan 5,79 juta lot.
Lonjakan tersebut memperlihatkan minat spekulatif masih sangat tinggi. Trader jangka pendek tampak agresif mengejar momentum setelah saham berhasil menembus area psikologis Rp300.
Setelah menyentuh area Rp310, pasar kini mulai memantau apakah PACK mampu bertahan di atas level psikologis Rp300. Area tersebut menjadi titik penting untuk menentukan apakah euforia jangka pendek masih berlanjut atau mulai melemah.
Jika harga mampu bertahan stabil di atas Rp300 dengan volume besar, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan profit taking mulai membesar, volatilitas saham kemungkinan kembali meningkat.(*)