KABARBURSA.COM – Tiga hari dibuang asing, Saham PT Astra International Tbk (ASII) nyatanya belum berhasil keluar dari tekanan besar. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham konglomerasi milik Grup Jardine itu turun dari level 6.000 menuju 5.400 atau terkoreksi sekitar 10 persen.
Tekanan paling dalam terjadi pada perdagangan 21 Mei 2026 ketika ASII anjlok 375 poin atau 6,28 persen ke level 5.600. Pelemahan itu lalu berlanjut sehari setelahnya dengan penurunan tambahan sebesar 200 poin menuju 5.400.
Pergerakan ini membuat pasar mulai mempertanyakan apakah tekanan ASII hanya koreksi jangka pendek atau justru menjadi sinyal pelemahan lebih panjang.
MNC Sekuritas melihat posisi ASII saat ini sedang berada pada bagian dari wave [c] dari wave Y dari wave (4). Secara teknikal, kondisi tersebut menandakan saham masih berada dalam fase koreksi lanjutan meski area bawah mulai mendekati zona akumulasi.
MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness di area 5.025 sampai 5.325 dengan target harga 5.600 hingga 5.975. Sementara batas risiko atau stoploss berada di bawah 4.950.
Asing Melepas ASII Hampir Rp226 Miliar dalam Tiga Hari
Data perdagangan memperlihatkan tekanan jual asing di saham ASII berlangsung cukup agresif sepanjang pekan berjalan.
Pada 20 Mei 2026, ASII mencatat net foreign sell sebesar Rp100,70 miliar. Tekanan itu berlanjut pada 21 Mei dengan net sell Rp103,50 miliar. Lalu pada 22 Mei, asing kembali mencatat penjualan bersih Rp54,05 miliar.
Artinya, hanya dalam tiga hari perdagangan, dana asing keluar dari ASII sekitar Rp258 miliar.
Tekanan tersebut terlihat jelas pada arah harga saham yang terus bergerak turun sejak gagal bertahan di area 6.000. Padahal pada 18 Mei, ASII sempat mencatat kenaikan 4,35 persen menuju level 6.000 dengan net foreign buy Rp42,83 miliar.
Kondisi itu menunjukkan perubahan sentimen pasar terjadi cukup cepat.
Meski begitu, nilai transaksi ASII masih tergolong sangat besar. Pada perdagangan 22 Mei, nilai transaksi mencapai Rp349,77 miliar dengan volume 650,64 ribu lot dan frekuensi 14.310 kali.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa likuiditas ASII masih sangat aktif meski tekanan jual meningkat.
Area 5.300 Mulai Menjadi Medan Pertahanan Buyer
Secara teknikal, area 5.300 mulai menjadi titik penting untuk membaca arah ASII berikutnya. Pada perdagangan terakhir, saham sempat menyentuh low 5.300 sebelum akhirnya ditutup di 5.400. Pantulan dari area bawah itu mulai dibaca sebagian trader sebagai sinyal awal adanya penyerapan jual.
MNC Sekuritas juga mulai membuka skenario buy on weakness di area 5.025 sampai 5.325. Zona tersebut kini menjadi wilayah yang kemungkinan dipantau pelaku pasar pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.
Jika ASII mampu bertahan di atas 5.300 dengan volume yang mulai stabil, peluang rebound menuju 5.600 mulai terbuka. Target berikutnya berada di area 5.975 yang sebelumnya menjadi area perdagangan sebelum tekanan besar muncul pekan ini.
Akan tetapi risiko koreksi lanjutan masih belum hilang. Karena selama tekanan asing masih berlangsung agresif, saham berpotensi kembali menguji area bawah.
Level 4.950 kini menjadi batas psikologis penting. Jika area tersebut ditembus, struktur teknikal ASII berpotensi berubah menjadi lebih bearish dalam jangka pendek.
Pasar juga masih memperhatikan sentimen sektor otomotif nasional yang bergerak lebih lambat dibanding awal tahun. Penjualan kendaraan domestik belum sepenuhnya pulih kuat, sementara tekanan biaya dan suku bunga pembiayaan masih menjadi perhatian pasar.
Kondisi tersebut membuat saham otomotif besar seperti ASII bergerak lebih hati hati.
Buyback Astra Mulai Mengurangi Free Float
Di tengah tekanan harga saham, Astra justru melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback. Per April 2026, jumlah saham treasuri ASII meningkat menjadi 434,68 juta saham atau setara 1,07 persen dari total saham beredar.
Perusahaan tercatat membeli kembali sekitar 14,95 juta saham sepanjang April 2026. Langkah ini membuat porsi saham publik atau free float turun menjadi 43,86 persen.
Meski penurunannya belum terlalu besar, pasar mulai melihat buyback ini sebagai sinyal bahwa manajemen menilai harga saham mulai menarik. Program buyback biasanya dilakukan perusahaan ketika harga pasar dianggap belum mencerminkan valuasi fundamental secara optimal.
Di sisi lain, langkah tersebut juga dapat membantu menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar tinggi.
Kepemilikan pengendali utama, Jardine Cycle and Carriage, tercatat tetap stabil di level 50,11 persen. Artinya, tidak ada perubahan struktur kontrol utama di tubuh Astra.
Pasar biasanya cukup sensitif terhadap perubahan kepemilikan pengendali pada saham konglomerasi besar. Karena itu stabilnya posisi Jardine memberi sinyal bahwa tekanan harga saham saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibanding perubahan fundamental kepemilikan.
Meski begitu, penurunan free float tetap menarik diperhatikan. Semakin kecil saham yang beredar di publik, semakin sensitif pula pergerakan harga terhadap arus dana besar. Dalam kondisi tertentu, struktur seperti ini bisa mempercepat rebound ketika tekanan jual mulai mereda.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.