KABARBURSA.COM - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memasuki fase besar dalam restrukturisasi bisnisnya. Emiten telekomunikasi pelat merah itu akan memangkas jumlah anak usaha menjadi hanya 19 entitas hingga akhir 2026. Adapun posisi saat ini sebanyak 67 unit.
Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda besar Danantara Indonesia yang mendapat mandat dari pemerintah untuk merampingkan struktur BUMN dan anak usahanya. Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria, menyebut penyederhanaan ini dilakukan agar fokus bisnis Telkom menjadi lebih tajam dan kompetitif.
Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji, mengatakan proses restrukturisasi mencakup merger, divestasi, likuidasi, konsolidasi hingga pembentukan holding baru. Restrukturisasi itu kini mulai berjalan di hampir seluruh lini portofolio bisnis Telkom.
Pasar membaca proses tersebut tidak akan murah. Di tengah upaya efisiensi dan penyederhanaan struktur, laba TLKM justru berpotensi tertekan dalam jangka pendek.
Tekanan Biaya Meningkat karena Pensiun Dini
UOB Kay Hian dalam riset terbarunya menyoroti meningkatnya tekanan biaya akibat implementasi program pensiun dini dan perubahan metode depresiasi aset. Perubahan umur manfaat aset membuat Telkom harus melakukan penyajian kembali laporan keuangan sebelumnya serta membukukan tambahan depresiasi satu kali pada 2025.
Tekanan depresiasi bahkan diperkirakan masih berlanjut pada periode 2026 hingga 2028. Kondisi itu membuat UOB Kay Hian memangkas target harga saham TLKM menjadi Rp3.600 dari sebelumnya Rp4.200, meski rekomendasi buy tetap dipertahankan.
Saham Tergerus, Dana Asing Kabur
Tekanan fundamental jangka pendek itu terlihat mulai tercermin pada pergerakan saham. Dalam empat perdagangan beruntun sejak 20 Mei 2026, saham TLKM turun dari level 3.100 menjadi 2.920 sebelum akhirnya rebound tipis ke area 2.980 pada perdagangan 26 Mei 2026.
Pada 21 Mei 2026, saham TLKM terkoreksi 3,23 persen ke level 3.000. Tekanan berlanjut sehari kemudian setelah saham kembali turun 2,67 persen ke level 2.920.
Arus dana asing juga menunjukkan tekanan distribusi yang cukup besar. Dalam empat hari perdagangan dari 20 hingga 25 Mei 2026, asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp457,61 miliar.
Rinciannya, net sell asing mencapai Rp94,29 miliar pada 20 Mei, Rp134,66 miliar pada 21 Mei, Rp152,17 miliar pada 22 Mei, dan Rp76,49 miliar pada 25 Mei. Sementara itu, hanya dua hari yang mencatat net buy, yakni Rp59,27 miliar pada 18 Mei dan Rp7,25 miliar pada 19 Mei.
Jika ditotal dalam enam hari perdagangan terakhir, asing masih membukukan net sell sekitar Rp391,09 miliar. Tekanan tersebut terjadi di tengah tingginya aktivitas transaksi saham TLKM yang konsisten berada di atas Rp250 miliar hingga Rp600 miliar per hari.
23 Konsensus Rekomendasi Buy
Meski demikian, mayoritas analis sebenarnya belum kehilangan kepercayaan terhadap TLKM. Konsensus 23 analis masih menempatkan saham ini dalam kategori buy dengan komposisi 17 rekomendasi beli dan enam rekomendasi tahan.
Target harga rata-rata analis untuk 12 bulan berada di level Rp3.785 atau mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 26,6 persen dari posisi saat ini. Bahkan target tertinggi analis masih berada di level Rp4.500.
Namun pasar tampaknya masih menunggu kepastian hasil restrukturisasi tersebut. Investor mulai mempertanyakan apakah penyederhanaan anak usaha benar-benar akan mempercepat pertumbuhan bisnis digital Telkom atau justru menambah tekanan biaya dalam beberapa tahun ke depan.
Secara teknikal, area 3.000 kini menjadi level psikologis penting bagi TLKM. Saham ini sempat gagal bertahan di atas area tersebut sebelum kembali bergerak di bawahnya.
Jika mampu kembali menembus 3.000 hingga 3.050, peluang rebound jangka pendek masih terbuka menuju area 3.100. Namun bila tekanan asing berlanjut, area support berikutnya mulai mengarah ke kisaran 2.850 hingga 2.800.
Di tengah tekanan laba jangka pendek dan aksi jual asing, TLKM kini sedang berada dalam fase transisi besar. Pasar tidak lagi hanya melihat Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi konvensional, tetapi juga sedang menilai apakah restrukturisasi besar-besaran ini mampu mengubah mesin pertumbuhan bisnisnya dalam beberapa tahun mendatang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.