KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) menilai risiko dalam sistem keuangan global kini semakin saling terhubung seiring meningkatnya digitalisasi dan keterkaitan lintas negara. Kondisi tersebut membuat transmisi guncangan keuangan menjadi lebih cepat dan kompleks dibanding sebelumnya.
Deputi Gubernur BI Thomas A.M. Djiwandono mengatakan perkembangan arsitektur keuangan global saat ini telah mengubah pola hubungan antarotoritas dan antar kebijakan ekonomi.
Menurut dia, batas antara kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial kini semakin memudar.
“Dibutuhkan kerangka kebijakan yang terintegrasi, koordinasi antarlembaga yang erat, serta mandat hukum yang jelas di antara masing-masing lembaga,” ujar Thomas dalam keterangan tertulis dikutip, Sabtu, 9 Mei 2026.
Thomas menjelaskan percepatan digitalisasi sektor keuangan ikut memperbesar potensi transmisi risiko antarnegara maupun antarsektor. Situasi tersebut membuat otoritas keuangan perlu memiliki pendekatan kebijakan yang lebih terpadu untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
“Dalam kondisi tersebut, batas antara kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial semakin memudar,” kata dia.
BI menilai otonomi kelembagaan menjadi faktor penting di tengah perubahan lanskap keuangan global tersebut. Tidak hanya bagi bank sentral, independensi juga dinilai penting untuk regulator dan otoritas pengawas sektor keuangan lainnya.
Konferensi ICFP-JCLI tahun ini mengangkat tema Central Banking in Transition: Navigating Interconnected Risks and Institutional Governance and Autonomy in the New Financial Architecture.
Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas isu hukum, kelembagaan, ekonomi, hingga kebanksentralan.
Minat terhadap isu tata kelola bank sentral dan arsitektur keuangan global terlihat dari tingginya partisipasi dalam Call for Papers tahun ini. BI mencatat terdapat 291 makalah yang masuk dari penulis di 34 negara.
Melalui forum tersebut, BI mendorong penguatan perspektif dan eksplorasi gagasan baru dalam merespons tantangan kebijakan global yang semakin kompleks. Diskusi juga menyoroti dampak transformasi digital terhadap sistem pengawasan dan stabilitas sektor keuangan.
Dalam forum itu, para peserta menyimpulkan bahwa transformasi digital sektor keuangan tidak hanya membuka ruang inovasi baru, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap tata kelola yang lebih kuat.
Selain itu, kesiapan menghadapi krisis dan pengawasan yang adaptif dinilai menjadi elemen penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan ke depan.(*)