KABARBURSA.COM – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) membuktikan momentum pembalikan performa (turnaround) finansial yang masif pada kuartal I 2026 dengan mencetak lonjakan penjualan bersih sebesar 58 persen year on year (yoy) dan pertumbuhan laba bersih hingga 98 persen yoy.
Kinerja operasional yang kuat ini menjadi katalis utama meroketnya harga saham emiten perintis kendaraan listrik komersial tersebut hingga menyentuh level Rp660 per lembar saham pada pertengahan Juni 2026, atau melesat 560 persen semenjak mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 19 Juni 2023.
Genesis Korporasi dan Lintasan Transformasi Bisnis
Perjalanan bisnis VKTR merepresentasikan proses adaptasi strategis yang dinamis terhadap arah kebijakan energi bersih nasional.
Perusahaan ini berakar dari PT Bakrie Steel Industries yang didirikan pada tanggal 23 November 2007, dengan fokus awal pada distribusi kendaraan komersial konvensional dan komponen logam.
Pada tahun 2019, perusahaan memperluas operasinya dengan mendistribusikan suku cadang kendaraan komersial dan alat berat ke sektor kontraktor pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan perusahaan logistik besar.
Perubahan mendasar terjadi pada tanggal 29 Maret 2022, saat perusahaan secara resmi bertransformasi dan berganti nama menjadi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk.
Transformasi ini menandai reposisi bisnis secara total dari sektor komponen otomotif konvensional menuju perdagangan dan manufaktur kendaraan listrik, perakitan sasis, pembuatan karoseri bus listrik, serta penyediaan suku cadang asli (Original Equipment Manufacturer/OEM) dan aksesori kendaraan listrik.
Sebagai bagian dari penajaman fokus operasional, manajemen melakukan divestasi penuh terhadap seluruh portofolio bisnis non-inti yang tidak berkaitan dengan kendaraan listrik.

Anatomi Ekosistem Bisnis Hulu ke Hilir
Kekuatan fundamental dapur bisnis VKTR bersandar pada struktur anak usaha yang solid dan terintegrasi, yang memungkinkan perseroan menguasai rantai pasok komponen otomotif secara mandiri:
- PT Bakrie Autoparts (BA): Menguasai jaringan suplai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) terluas dengan kepemilikan 99,99 persen dan total aset Rp825,81 miliar per kuartal I 2026. BA memproduksi komponen besi cor jenis Ferro Casting (FC) dan Ferro Casting Ductile (FCD) untuk kendaraan komersial dan penumpang.
- PT VKTR Sakti Industries (VKTS): Entitas manufaktur dengan kepemilikan 60 persen dan aset Rp481,59 miliar yang menjadi motor utama perakitan armada listrik komersial perseroan.
- PT Braja Mukti Cakra (BMC): Anak usaha dengan porsi kepemilikan 50 persen dan aset Rp341,67 miliar yang bergerak khusus di sektor industri pembuatan komponen presisi seperti drum brake, hub wheel, fly wheel, dan disc brake.
- PT Bina Usaha Mandiri Mizusawa (BUMM): Memiliki total aset Rp78,07 miliar dengan kepemilikan 99,90 persen, berfokus pada industri pengecoran besi dan baja untuk menyediakan suku cadang general casting, otomotif, serta alat berat.
Infrastruktur Manufaktur dan Keunggulan Regulasi TKDN
Strategi lokalisasi produksi merupakan pilar utama VKTR dalam memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekaligus meminimalkan ketergantungan terhadap impor kendaraan utuh (Completely Built-Up/CBU).
Pembangunan fasilitas perakitan kendaraan listrik komersial berbasis Completely Knocked-Down (CKD) pertama di Indonesia dijalankan oleh VKTS di Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Proyek pengembangan pabrik senilai Rp300 miliar ini direalisasikan melalui kemitraan strategis dengan Karoseri Tri Sakti dan dukungan teknologi dari pabrikan EV global, BYD Auto.
Fasilitas produksi nasional ini diresmikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada hari Kamis, 9 April 2026.
Melalui kolaborasi ekosistem bersama Karoseri Tri Sakti, kapasitas produksi pabrik berhasil dikembangkan secara masif dari kapasitas awal sebesar 3.000 unit menjadi 10.000 unit bus dan truk listrik per tahun saat fasilitas telah mencapai tahap operasional penuh.
Kecepatan lini produksi di pabrik Magelang ini tercatat mampu menyelesaikan perakitan bodi hingga 6 unit bus listrik per hari.
Lokalisasi ini difokuskan untuk menghasilkan produk bus listrik ukuran 12 meter dan 8 meter dengan pencapaian tingkat TKDN melebihi 40 persen. Angka TKDN di atas batasan psikologis 40 persen ini memberikan keunggulan regulasi bagi VKTR dalam memenangkan tender pengadaan armada instansi pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Hingga kini, bus listrik VKTR masih menjadi satu-satunya pemasok armada bus listrik Transjakarta yang dirakit di dalam negeri yang memenuhi ketentuan regulasi tersebut.
Sementara itu hingga akhir kuartal I 2026, realisasi portofolio proyek riil yang dijalankan oleh VKTR telah mencatatkan dampak nyata pada pengurangan emisi gas buang di sektor transportasi massal.
Secara kumulatif, armada kendaraan listrik VKTR telah menempuh lebih dari 17 juta kilometer operasional dengan estimasi total pengurangan emisi mencapai sekitar 15 ribu ton CO₂ dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil konvensional.
Dengan total pasokan akumulatif sebanyak 152 unit bus listrik yang beroperasi di jaringan Transjakarta (mencakup sekitar 30 persen dari total populasi armada bus listrik Transjakarta), serta diversifikasi portofolio ke segmen truk pemadat sampah (garbage compactor) dan shuttle bus pendidikan, dapur bisnis VKTR terbukti berhasil melewati kurva investasi padat modal menuju fase profitabilitas komersial yang stabil dan berkelanjutan.
Inovasi Model Bisnis: Sinergi Raksasa dan Skema e-MaaS
Guna mengatasi hambatan utama penyerapan kendaraan listrik di Indonesia, khususnya tingginya biaya investasi awal bagi operator swasta dan daerah, VKTR mengimplementasikan langkah konsolidasi korporat serta inovasi skema pembiayaan.
Pada tanggal 20 Februari 2024, VKTR menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan anak usaha PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), yaitu PT IMG Sejahtera Langgeng (IMGSL), yang melahirkan sebuah perusahaan patungan (joint venture).
Kolaborasi strategis antara Grup Bakrie dan Grup Salim di sektor kendaraan listrik ini dirancang untuk mendominasi pasar kendaraan listrik, baik di segmen kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial nasional.
Di sisi lain, VKTR memelopori dekarbonisasi transportasi massal tanpa membebani keuangan pemerintah daerah melalui skema kerja sama e-Mobility as a Service (e-MaaS) bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) yang disepakati pada 15 Maret 2024.
Melalui model e-MaaS, beban penyediaan armada bus listrik dialihkan dari model belanja modal (CAPEX) menjadi belanja operasional (OPEX) bagi pihak operator.
Otoritas transportasi publik seperti Transjakarta tidak perlu melakukan pembelian unit di awal; mereka cukup membayar biaya sewa bulanan atau biaya pemakaian berbasis tarif rupiah per kilometer operasional.
Analisis Dinamika Finansial dan Solvabilitas
Laporan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025 merefleksikan posisi perusahaan yang berada pada fase transisi dari tahap investasi intensif menuju fase komersialisasi skala penuh.
Pendapatan perseroan tumbuh menjadi Rp1,09 triliun pada tahun 2025, ditopang oleh percepatan pengiriman unit bus listrik serta kontribusi stabil dari segmen penjualan suku cadang otomotif konvensional.
Laba kotor juga mengalami peningkatan sebesar 10,40 persen menjadi Rp197 miliar karena adanya perbaikan kebijakan harga (pricing) pada segmen kendaraan listrik komersial.
Namun, laba bersih tahun berjalan tergerus menjadi Rp423 juta pada akhir tahun 2025 akibat lonjakan total liabilitas sebesar 22,20 persen menjadi Rp553 miliar seiring penarikan pinjaman modal kerja baru guna mendanai pembangunan fasilitas manufaktur di Magelang.
Memasuki triwulan I 2026, laporan posisi keuangan perseroan menunjukkan struktur modal kerja yang jauh lebih sehat dan likuid.
Berdasarkan lembar data keuangan emiten kuartal I 2026, total aset lancar perusahaan tercatat aman pada angka Rp745 miliar, ditopang oleh posisi Kas dan Setara Kas sebesar Rp63 miliar serta Investasi Jangka Pendek senilai Rp100 miIiar.
Rasio lancar (current ratio) perseroan berada pada posisi yang sangat solven sebesar 2,16 kali lipat dari total kewajiban jangka pendek yang berjumlah Rp344 miliar.
Sementara itu, lompatan piutang usaha pihak ketiga yang mencapai Rp237 miliar mencerminkan siklus penagihan hasil realisasi penjualan komersial pasca pengiriman unit massal secara riil.
Saham VKTR Ternyata Digerakkan oleh Ritel
Lonjakan fundamental keuangan pada awal tahun 2026 berkolerasi linear terhadap aktivitas akumulasi saham VKTR di pasar sekunder.
Berdasarkan data ringkasan broker periode year to date (ytd) tepatnya 2 Januari–19 Juni 2026, broker XL (Stockbit Sekuritas Digital) memimpin akumulasi terbesar dengan nilai valuasi Rp151 miliar (setara 1,5 juta lot saham), disusul oleh broker KI (Ciptadana Sekuritas Asia) dengan akumulasi senilai Rp66,8 miliar.
Porsi kepemilikan saham publik atau masyarakat non-warkat menguasai dominasi ekuitas beredar sebesar 61,2 persen.
Sedangkan induk usaha, PT Bakrie & Brothers Tbk, memegang porsi kepemilikan tetap di level 24,40 persen (10,67 miliar lembar saham) setelah melakukan serangkaian langkah divestasi strategis terukur sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan tahun 2025 untuk mendanai pengembangan awal ekosistem EV ini.
Meskipun ritel memegang kendali akumulasi jangka panjang, dinamika transaksi jangka pendek pada bulan Juni 2026 mencatatkan rotasi volume yang tinggi dari investor institusi.
Data perdagangan mencatat tekanan jual terbesar datang dari sekuritas asing JP Morgan (broker BK) yang melakukan distribusi senilai Rp16,5 miliar.
Namun, tekanan pasokan saham dari institusi asing tersebut langsung diserap dengan baik oleh akumulasi harian dari Ciptadana Sekuritas Asia (KI) sebesar Rp8,5 miliar dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) senilai Rp5,9 miIiar.
Perputaran arus modal yang cair ini menjaga volatilitas saham VKTR tetap berada dalam tren penguatan yang sehat di lantai bursa.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.