KABARBURSA.COM - Antrean menuju pasar perdana sangat menarik. Hingga Senin, 6 Juli 2026 pukul 12.00 WIB, empat saham IPO yang tampil dalam data Web e-IPO mencatat nilai offering yang berbeda cukup jauh.
Di tengah proses penawaran yang masih berjalan untuk sebagian emiten dan telah berakhir untuk lainnya, Prodia Diagnostic Line (PRDL) muncul sebagai saham dengan antrean terbesar.
Berdasarkan data tersebut, PRDL mencatat nilai offering sebesar Rp1.159.822 juta atau sekitar Rp1,16 triliun. Angka ini menempatkan PRDL jauh di depan tiga saham IPO lain yang dibandingkan, yakni Rans Entertainment Indonesia (RANS), Bach Multi Global (BACH), dan Esa Medika Mandiri (EMMI).
Posisi kedua ditempati RANS dengan nilai offering Rp842.671 juta atau sekitar Rp842,67 miliar.
Sementara itu, BACH berada di posisi berikutnya dengan Rp714.803 juta atau sekitar Rp714,80 miliar. Dan EMMI mencatat nilai paling rendah di antara empat saham tersebut, yakni Rp544.935 juta atau sekitar Rp544,94 miliar.
PRDL membangun selisih cukup besar terhadap RANS yang berada di urutan kedua. Jarak keduanya mencapai sekitar Rp317,15 miliar. Dengan kata lain, nilai offering PRDL pada saat data dihimpun sudah sekitar 37,6 persen lebih tinggi dibandingkan RANS.
Jarak berikutnya lebih sempit. RANS unggul sekitar Rp127,87 miliar dibandingkan BACH. Jika dibandingkan secara persentase, nilai offering RANS sekitar 17,9 persen lebih besar daripada BACH. Sementara BACH berada sekitar Rp169,87 miliar di atas EMMI, atau hampir 31,2 persen lebih tinggi.
Cerita menjadi berbeda ketika status masa penawaran ikut diperhitungkan. PRDL masih menjalani offering sampai 7 Juli 2026. Artinya, angka Rp1,16 triliun yang tercatat pada 6 Juli pukul 12.00 WIB berada dalam periode penawaran yang belum selesai.
RANS juga masih membuka masa offering hingga 8 Juli 2026, satu hari lebih lama dibandingkan PRDL.
Di sisi lain, BACH dan EMMI telah berstatus closed. Karena masa penawarannya sudah ditutup, nilai yang terlihat pada pembaruan tersebut menjadi titik pembanding terhadap dua saham lain yang masih berada dalam proses offering.

PRDL menjadi pusat perhatian dalam perbandingan angka karena bukan sekadar memimpin, tetapi juga menjadi satu-satunya saham yang telah menembus level Rp1 triliun. Dengan catatan sekitar Rp1,16 triliun, PRDL unggul sekitar Rp445,02 miliar dibandingkan BACH dan sekitar Rp614,89 miliar terhadap EMMI.
Jika dibandingkan dengan EMMI sebagai pemilik angka terendah, nilai offering PRDL telah mencapai lebih dari dua kali lipat.
RANS menghadirkan cerita berbeda. Nilainya memang belum menyentuh Rp1 triliun, tetapi posisinya sudah berada di atas dua IPO yang masa penawarannya telah ditutup. Dengan Rp842,67 miliar, RANS unggul sekitar Rp297,74 miliar dibandingkan EMMI.
Pada saat yang sama, RANS masih memiliki masa offering hingga 8 Juli 2026.
Jika seluruh angka empat saham itu dijumlahkan, total nilai offering mencapai sekitar Rp3,26 triliun. PRDL menyumbang porsi terbesar, sekitar 35,5 persen dari total tersebut. RANS mengambil porsi sekitar 25,8 persen, BACH sekitar 21,9 persen, sedangkan EMMI sekitar 16,7 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan betapa besar kontribusi dua nama teratas. PRDL dan RANS secara bersama-sama mencatat sekitar Rp2,00 triliun. Jumlah itu setara lebih dari 61 persen dari keseluruhan nilai offering empat saham yang dibandingkan. Sementara gabungan BACH dan EMMI berada di kisaran Rp1,26 triliun.
Selisih PRDL dan RANS juga menjadi bagian penting dari cerita antrean ini. Keduanya sama-sama masih menjalani masa offering ketika data diperbarui, tetapi PRDL sudah lebih dahulu melewati Rp1 triliun. RANS berada sekitar Rp157,33 miliar di bawah ambang tersebut. Perbedaan waktu penutupan masa penawaran turut membedakan keduanya: PRDL sampai 7 Juli, sedangkan RANS sampai 8 Juli.
BACH berada di tengah peta persaingan. Nilai Rp714,80 miliar membuatnya tertinggal dari dua saham teratas, tetapi masih berada di atas EMMI. Selisih BACH terhadap PRDL mencapai sekitar Rp445 miliar. Terhadap RANS, jaraknya lebih kecil, sekitar Rp127,87 miliar.
Adapun EMMI menutup perbandingan dengan Rp544,94 miliar.
Tentang IPO PRDL
Seperti diberitakan sebelumnya oleh KabarBursa.com, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) memasuki pasar modal dengan membawa bisnis yang dekat dengan kebutuhan layanan kesehatan sehari-hari.
Perusahaan ini bergerak di bidang alat kesehatan dan perangkat diagnostik medis, mulai dari manufaktur hingga distribusi produk untuk kebutuhan pemeriksaan laboratorium.

Perjalanan IPO PRDL sendiri dimulai melalui masa penawaran awal atau bookbuilding pada 18 Juni hingga 23 Juni 2026. Dalam periode tersebut, perseroan menawarkan saham pada kisaran harga Rp100 hingga Rp120 per lembar.
Melalui aksi korporasi ini, PRDL melepas sebanyak 522,9 juta saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.
Dengan skala saham yang ditawarkan itu, proses penawaran menjadi pintu masuk bagi publik untuk memiliki bagian dari perusahaan yang telah beroperasi lebih dari satu dekade di industri alat kesehatan.
Prodia Diagnostic Line memulai operasinya sejak 2010. Kegiatan usaha utamanya berada di bidang manufaktur dan distribusi alat kesehatan untuk kebutuhan diagnosis medis. Ruang lingkup bisnisnya juga mencakup industri alat ukur dan alat uji elektronik, perdagangan alat laboratorium dan alat kesehatan, hingga jasa pengujian serta kalibrasi alat kesehatan.
Bisnis tersebut tidak berhenti pada penjualan perangkat. Perseroan juga menjalankan kegiatan pendukung berupa laboratorium kalibrasi dan jasa pemeliharaan alat. Selain itu, perusahaan memproduksi instrumen analitis, timbangan, neraca, serta inkubator laboratorium.
Dari sisi produk, portofolio PRDL terbagi dalam empat kategori utama. Perseroan memiliki produk untuk kimia klinik, hematologi, imunologi, dan biomolekular. Secara keseluruhan, jumlah stock keeping unit atau SKU aktif yang dikelola mencapai sekitar 1.083.
Skala produk itu berjalan bersama jaringan pemasaran yang telah menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Hingga saat ini, Prodia Diagnostic Line tercatat hadir di 370 dari total 514 kabupaten dan kota. Jangkauannya tersebar di seluruh 38 provinsi.
Di dalam jaringan tersebut, perseroan melayani sekitar 7.611 pengguna akhir. Pelanggannya berasal dari sektor pemerintah maupun swasta. Cakupan ini menggambarkan posisi operasional PRDL sebelum perusahaan resmi menyelesaikan proses pencatatan saham di pasar modal.
Basis operasional perusahaan berada di Kawasan Industri Jababeka III, Jalan Tekno Boulevard Blok A3 Unit 3A-5-6, Cikarang, Jawa Barat. Dari lokasi tersebut, perseroan menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan distribusi perangkat diagnostik serta alat kesehatan.(*)