KABARBURSA.COM - Saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) kembali tertekan di sesi pertama perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Ini adalah kali kedua bagi JELI berada di Auto Reject Bawah (ARB) setelah tiga hari berturut-turut berada nyaman di zona hijau.
Pada perdagangan siang hari ini, saham JELI berada di level Rp1.275, turun 220 poin atau 14,72 persen, sekaligus menyentuh batas ARB. Saham terkunci di harga terendah harian.
Selama sesi perdagangan, harga pembukaan, tertinggi, terendah, hingga penutupan sama-sama berada di Rp1.275. Artinya, tidak ada ruang bagi saham yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026, untuk bergerak.
Tekanan jual terlihat sangat dominan pada antrean orderbook. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, tidak terdapat antrean beli (bid) di harga ARB. Sebaliknya, antrean jual menumpuk di sisi offer.
Antrean terbesar berada tepat di harga Rp1.275, yakni mencapai sekitar 290.200 lot dengan lebih dari 80 ribu antrean. Jumlah tersebut mewakili sekitar 78 persen dari total antrean jual yang mencapai 370.020 lot.
Setelah itu, antrean jual mulai menipis di level Rp1.280 sebanyak 1.081 lot, Rp1.285 sebanyak 257 lot, dan Rp1.290 sebanyak 214 lot.
Dominasi antrean pada harga ARB ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar memilih keluar di harga terendah yang masih diizinkan pada hari ini. Selama antrean tersebut belum terserap, ruang bagi saham untuk kembali diperdagangkan secara normal akan bergantung pada munculnya permintaan beli yang mampu menyerap tekanan jual tersebut.
Sempat Reli Tajam Tiga Hari Berturut-turut?
Secara historis, JELI sebelumnya sempat mencatatkan reli tajam sejak pencatatan perdana. Pada 7 Juli 2026 saham ditutup di Rp1.125, kemudian naik menjadi Rp1.405 pada 8 Juli dan kembali melonjak ke Rp1.755 pada 9 Juli.
Namun, tren berbalik pada 10 Juli, ketika saham turun 14,81 persen ke Rp1.495, sebelum kembali terkoreksi 14,72 persen menjadi Rp1.275 pada 13 Juli.
Nilai transaksi pada perdagangan terakhir tercatat sekitar Rp14,26 miliar dengan volume 111.820 lot. Volume ini lebih rendah dibandingkan pada perdagangan sebelumnya, yang mencapai Rp871,3 miliar.
Dari sisi aktivitas investor asing, pada 10 Juli asing masih membukukan beli bersih sekitar Rp278,81 juta. Namun, sehari sebelumnya, pada 9 Juli, tercatat terjadi jual bersih sekitar Rp15,97 juta.
Bagaimana Peluang JELI?
Secara teknikal, posisi JELI saat ini masih berada dalam fase yang cukup menantang karena saham ditutup dalam kondisi ARB lock. Di sini, pembentukan harga sepenuhnya bergantung pada keseimbangan antara antrean jual dan munculnya minat beli.
Beberapa indikator jangka menengah seperti MACD, ADX, serta mayoritas moving average masih menunjukkan tren yang cenderung positif. Akan tetapi, sinyal tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena harga saat ini berada dalam kondisi terkunci di batas bawah perdagangan.
Dalam situasi seperti ini, indikator teknikal sering kali belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil karena transaksi tidak berlangsung secara normal.
Dari sisi level teknikal, area Rp1.263 menjadi zona support terdekat berdasarkan pivot point klasik. Sementara apabila tekanan jual mulai mereda dan antrean ARB berhasil diserap, area Rp1.431–Rp1.460 menjadi resistance awal yang perlu ditembus sebelum saham berpeluang melanjutkan pemulihan.
Untuk jangka pendek, perhatian pasar masih akan tertuju pada perkembangan antrean di harga Rp1.275. Selama antrean jual di level tersebut masih mendominasi dan belum diimbangi masuknya permintaan beli, pergerakan saham berpotensi tetap berada di bawah tekanan.
Sebaliknya, apabila antrean mulai berkurang dan transaksi kembali terbentuk, peluang terjadinya proses penyeimbangan harga akan semakin terbuka.
Tetap Lanjutkan Ekspansi?
PT Niramas Utama Tbk (JELI) tetap melanjutkan rencana ekspansi usai resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), meski industri manufaktur tengah menghadapi tekanan.
Perseroan memilih memanfaatkan mayoritas dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat efisiensi operasional.
Direktur PT Niramas Utama Tbk Adhi S Lukman, mengatakan keputusan tersebut diambil karena perusahaan memandang investasi sebagai strategi jangka panjang, terlepas dari kondisi ekonomi yang berfluktuasi dalam jangka pendek.
"Kami beranggapan investasi itu jangka panjang. Meskipun jangka pendek ada gangguan, kami yakin industri makanan dan minuman masih memiliki potensi yang luar biasa," kata Adhi usai pencatatan saham perdana JELI di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Adhi, sekitar 70 persen dana IPO akan digunakan untuk belanja modal. Dari jumlah tersebut, sekitar 51 persen dialokasikan untuk investasi mesin baru guna meningkatkan kapasitas produksi, sementara sekitar 18 hingga 19 persen digunakan untuk memperkuat sistem logistik dan otomatisasi (automation).
"Sebanyak 51 persen benar-benar untuk investasi baru, sedangkan sekitar 18-19 persen untuk memperbaiki logistik dan automation supaya lebih efisien," ujarnya.
Ia menegaskan dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat fundamental perusahaan melalui peningkatan kapasitas dan produktivitas. "Dana IPO ini benar-benar kami gunakan untuk meningkatkan kapasitas dan memperkuat fundamental perusahaan," katanya.(*)