Logo
>

RI Didorong Gabung Gerakan Electrify Now untuk Tarik Investasi dan Perkuat Ketahanan Energi

Gerakan Electrify Now dinilai dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus meningkatkan daya tarik investasi hijau.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
RI Didorong Gabung Gerakan Electrify Now untuk Tarik Investasi dan Perkuat Ketahanan Energi
Elektrifikasi dinilai menjadi kunci menarik investasi baru, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Foto: IG @pertamina.

KABARBURSA.COM – Ketika konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global, sejumlah negara mulai mencari cara agar tidak terus-menerus menjadi sandera harga minyak dan gas. Salah satu jalan yang kini didorong secara global adalah elektrifikasi ekonomi berbasis energi terbarukan.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai perlu mengambil posisi lebih agresif dengan bergabung dalam gerakan global “Electrify Now”. Langkah itu dianggap penting bukan hanya untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjaga daya tarik Indonesia di mata investor yang mulai bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

Inisiatif Electrify Now diluncurkan dalam rangkaian London Climate Week dan didukung sekitar 40 organisasi serta aliansi internasional. Gerakan ini mendorong berbagai negara mempercepat penggunaan listrik berbasis energi terbarukan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Targetnya cukup ambisius. Porsi listrik dalam konsumsi energi final global didorong naik dari 21 persen menjadi 35 persen pada 2035.

Lewat gerakan tersebut, pemerintah di berbagai negara didorong menerjemahkan target global ke dalam kebijakan nasional. Mulai dari pembangunan energi terbarukan, penguatan jaringan transmisi listrik, hingga pengembangan teknologi penyimpanan energi.

Selain itu, kerja sama internasional juga dinilai penting untuk mempercepat proses elektrifikasi melalui pertukaran pengalaman, dukungan teknis, dan penyusunan perencanaan yang lebih matang.

CEO We Mean Business Coalition, Maria Mendiluce, mengatakan elektrifikasi akan menjadi fondasi utama transformasi ekonomi dunia dalam beberapa dekade mendatang. Menurutnya, banyak perusahaan global mulai mengalihkan investasi mereka ke teknologi dan infrastruktur berbasis listrik karena dianggap lebih kompetitif sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis.

“Era pertumbuhan ekonomi berikutnya akan dibangun berbasis energi listrik. Negara yang mampu menciptakan iklim investasi yang mendukung elektrifikasi akan menentukan arah penciptaan lapangan kerja, industri baru, dan kemakmuran di masa depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Rabu, 24 Juni 2026.

Pandangan serupa datang dari Kepala Eksekutif Global Renewables Alliance, Bruce Douglas. Ia menilai dunia kembali menghadapi ancaman krisis energi yang serius akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Kita menghadapi krisis energi besar kedua hanya dalam empat tahun. Tidak pernah ada saat yang lebih mendesak untuk beralih ke elektrifikasi energi terbarukan. Krisis minyak dan gas saat ini dapat merugikan rumah tangga, bisnis, dan pemerintah hingga USD1 triliun (sekitar Rp17.000 triliun),” katanya.

Menurut Douglas, elektrifikasi berbasis energi terbarukan harus menjadi jantung strategi energi jangka panjang setiap negara. Karena itu, kampanye Electrify Now diharapkan menjadi prioritas dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan sistem energi yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan.

Dalam forum yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menegaskan Indonesia perlu mempercepat pembangunan sistem energi yang bertumpu pada listrik berbasis energi terbarukan. Menurutnya, sistem tersebut jauh lebih tangguh menghadapi gejolak harga energi fosil yang kerap dipengaruhi konflik geopolitik global.

“Bagi Indonesia, krisis ini merupakan seruan untuk mempercepat transformasi struktural kita dengan membangun peta jalan transisi yang jelas, yang menyediakan jalur jangka panjang yang stabil untuk sektor listrik kita hingga tahun 2060,” ujarnya.

Di tingkat global, dorongan mempercepat elektrifikasi juga datang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres. Ia menyebut elektrifikasi sektor transportasi, bangunan, dan industri sebagai salah satu cara tercepat untuk menekan emisi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

“Ini memang masa terbaik dan terburuk. Terburuk karena dampak iklim semakin intensif, titik kritis semakin dekat, dan krisis energi telah mengungkap risiko besar ketergantungan pada bahan bakar fosil. Tetapi juga yang terbaik karena revolusi energi terbarukan sedang berlangsung. Revolusi energi bersih, elektrifikasi, penurunan biaya, peningkatan ambisi dan peluang yang sangat besar,” kata Guterres.

Bagi Indonesia, pesan yang muncul dari London Climate Week cukup jelas. Di saat dunia mulai berlomba membangun ekonomi berbasis listrik, mempertahankan ketergantungan pada energi fosil bukan hanya berisiko bagi ketahanan energi nasional, tetapi juga bisa membuat Indonesia tertinggal dalam perebutan investasi masa depan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).