Logo
>

Tak Bantah Emisi Membengkak, Bos Jababeka (KIJA): ini Fase Pertumbuhan

Emisi dan konsumsi energi KIJA naik, SD Darmoni sebut konsekuensi ekspansi industri.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Tak Bantah Emisi Membengkak, Bos Jababeka (KIJA): ini Fase Pertumbuhan
Emisi dan konsumsi energi KIJA naik signifikan. Bos Jababeka SD Darmono menyebut hal ini adalah fase pertumbuhan di tengah ekspansi kawasan industri. Foto: IG @sddarmono.

KABARBURSA.COMPT Kawasan Industri Jababeka Tbk akhirnya memberikan tanggapan resmi perihal data laporan keberlanjutan atau Sustainability Report 2024 perusahaan yang menunjukkan tren pembengkakan emisi dan konsumsi energi. Meski data resmi menunjukkan kenaikan beban lingkungan yang signifikan, manajemen perusahaan dengan kode emiten KIJA ini menegaskan hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari ekspansi ekonomi kawasan industri.

Founder sekaligus Direktur Utama PT Jababeka, Setyono Djuandi Darmono atau akrab disapa SD Darmono, memberikan perspektifnya dalam menanggapi temuan data tersebut. Menurut pengusaha asal Muntilan, Jawa Tengah ini, publik perlu melihat angka-angka tersebut dalam konteks pertumbuhan aktivitas industri yang sedang berlangsung secara masif di ekosistem Jababeka.

“Kenaikan konsumsi energi, air, dan emisi pada 2024 mencerminkan meningkatnya aktivitas industri di kawasan Jababeka, seiring ekspansi tenant dan utilisasi kawasan,” kata Darmono kepada KabarBursa.com, Rabu, 29 April 2026.

Darmono menilai kenaikan angka absolut lingkungan di kawasan Jababeka tidak serta-merta menunjukkan kegagalan manajemen perusahaan dalam menjaga komitmen keberlanjutan. “Kami melihat ini sebagai fase pertumbuhan, bukan penurunan kinerja. Ke depan, fokus kami adalah menurunkan intensitas energi dan emisi per unit aktivitas melalui efisiensi, digitalisasi, dan energi terbarukan,” katanya.

Pernyataan Darmono tersebut merupakan respons atas temuan KabarBursa sebelumnya yang menyoroti rapor merah lingkungan KIJA sepanjang 2024. Dalam catatan laporan Sustainability Report tahun tersebut, emisi gas rumah kaca atau GRK Jababeka justru meroket 3 persen menjadi 81.011 ton CO2e dari tahun 2023 yang jumlahnya 78.665 CO2e. Tapi, dalam dua tahun terakhir (2022–2024), GRK Jababeka telah membengkak 7,1 persen karena emisi yang konsisten memanjak.

Bengkaknya jejak karbon ini dipicu oleh lonjakan konsumsi energi yang ugal-ugalan. Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) KIJA tercatat melonjak drastis hingga 17 persen menjadi 505.931 liter dari tahun 2023 yang sebesar 431.353 liter. Jika dihitung dari 2022, kenaikan konsumsi BBM mencapai 24 persen. Tak hanya itu, penggunaan listrik pun ikut terkerek naik 10 persen ke angka 30,8 juta kWh yang sebelumnya 28,1 juta kWh.

Di sisi lain, tekanan terhadap sumber daya alam lokal makin mengkhawatirkan dengan kenaikan produksi dan distribusi air bersih sebesar 18 persen.

Meskipun Jababeka mencatatkan penurunan limbah sebesar 17 persen, hal ini justru memicu keraguan metodologis. Manajemen mengakui dalam laporannya bahwa data limbah tersebut belum terintegrasi sepenuhnya dan baru mencakup entitas anak bernama PT Jababeka Infrastruktur. 

Artinya, data limbah riil bisa lebih besar dari yang dilaporkan pada 2024 lalu. Ketimpangan cakupan data antara emisi yang dilaporkan secara luas dengan limbah yang dilaporkan secara parsial ini menimbulkan celah skeptisisme bagi analis ESG.

"Data pengelolaan limbah dan efluen baru mempertimbangkan  data di entitas anak PT Jababeka Infrastruktur dan ke depannya ditambahkan oleh entitas anak lainnya," tulis manajemen KIJA dalam laporan keberlanjutannya.

Paradoks PROPER Hijau dan Fenomena Decoupling

Uniknya, meski ada kenaikan konsumsi BBM sebesar 17 persen dan GRK sebesar 3 persen, Jababeka melalui anak usahanya PT Jababeka Infrastruktur justru berhasil mempertahankan peringkat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024. Kontradiksi antara penghargaan pemerintah dengan data operasional yang memburuk ini memicu diskusi mengenai fenomena ESG Decoupling.

Berdasarkan jurnal ilmiah berjudul ESG Paradox on Performance and Decoupling: An Integrative SLR Approach (2026) karya M. Hendri Yan Nyale dkk., fenomena ini dijelaskan sebagai kesenjangan antara pengungkapan keberlanjutan dengan kinerja riil di lapangan.

Jurnal tersebut secara analitik menyebutkan bahwa ESG Decoupling sering terjadi akibat tekanan eksternal yang kuat, di mana perusahaan cenderung fokus pada pemenuhan standar administratif (simbolis) namun tertinggal dalam perbaikan kinerja substansial di lapangan.

Dalam abstraknya, Hendri dkk menyebutkan secara verbatim, "Analysis reveals that greenwashing is frequently driven by external pressures such as stakeholder expectations and weak regulatory enviroments (Analisis menunjukkan bahwa greenwashing sering kali dipicu oleh tekanan eksternal seperti ekspektasi pemangku kepentingan dan regulasi yang longgar).”

Hal ini berkorelasi dengan situasi di mana perusahaan berupaya memenuhi ekspektasi pasar dan regulator (melalui PROPER), namun secara substansi operasional masih mengalami kenaikan jejak karbon yang tinggi.

Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik tekstil di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 25 November 2025. Foto: Dok. IG @indroneku.

Darmono menanggapi hal ini dengan menyatakan bahwa pengelolaan kawasan industri dengan ribuan pabrik memiliki kompleksitas tersendiri. “Mengelola ribuan pabrik di kawasan seperti Jababeka perlu pendidikan ke tenants dan masukan agar kami mampu untuk terus meningkatkan kerja kami,” ungkapnya.

Manajemen KIJA berargumen bahwa indikator yang lebih relevan untuk menilai kinerja kawasan industri bukanlah angka absolut, melainkan metrik intensitas. Strategi perusahaan saat ini adalah bergerak dari industrial growth menuju green industrial.

Darmono menyampaikan harapannya agar publik melihat transformasi Jababeka secara utuh, mulai dari lahan gersang di akhir 1980-an hingga menjadi kota mandiri yang terintegrasi. Ia menegaskan komitmen lingkungan perusahaan tetap terjaga di tengah tantangan koordinasi ribuan tenant.

“Komitmen kami terhadap keberlanjutan juga tercermin dari pencapaian PROPER Hijau dan berbagai inisiatif lingkungan yang terus kami jalankan,” kata Darmono.

Meskipun narasi pertumbuhan ini menjadi pembelaan dari sisi bisnis, data menunjukkan tantangan besar bagi KIJA untuk membuktikan efektivitas platform Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) yang mereka bangun. 

Terlebih, dengan adanya temuan pelanggaran baku mutu emisi oleh salah satu tenant di Jababeka II oleh otoritas lingkungan hidup baru-baru ini, pembuktian terhadap komitmen "Green" Jababeka akan terus menjadi perhatian serius para investor berbasis ESG di bursa.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).