KABARBURSA.COM — Bagi seorang pengusaha, salah satu ujian keberanian tertinggi bukanlah saat ia merintis lini bisnis baru dari bawah, melainkan ketika ia harus merombak dan memisahkan pilar utama yang telah membesarkan namanya. Di sinilah letak ketajaman intuisi Garibaldi "Boy" Thohir selaku dirigen utama di balik gurita bisnisnya. Mengamati rekam jejak kepemimpinannya adalah mengamati sebuah kombinasi antara pragmatisme pasar, kalkulasi regulasi, dan keberanian melakukan disrupsi radikal terhadap pencapaiannya sendiri.
Mari tempatkan dua momen krusial korporasi dalam sebuah garis linimasa yang kontras: pertengahan tahun 2008 dan pengujung tahun 2024. Dua titik waktu ini menjadi saksi bagaimana Boy Thohir memandang arah angin industri energi dunia.
Pada Juli 2008, dokumen Prospektus IPO PT Adaro Energy Tbk resmi dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Kala itu, di tengah momentum tingginya permintaan komoditas energi global, Boy Thohir mengarsiteki pelepasan saham perdana berskala raksasa dengan melepas 11,13 miliar lembar saham ke publik. Langkah ini menetapkan harga penawaran sebesar Rp1.100 per saham dan berhasil menghimpun dana segar senilai Rp12,25 triliun. Melalui dokumen legal tersebut, basis modal kuat dibangun demi mendanai ekspansi masif penambangan batu bara termal (thermal coal) di Blok Tabalong, Kalimantan Selatan, serta memperkuat infrastruktur logistik dari hulu ke hilir. Keputusan tahun 2008 murni berbicara tentang strategi memperbesar volume operasional, menguasai pasar komoditas global, dan mengukuhkan posisi sebagai salah satu produsen emas hitam terbesar di Asia Tenggara.
Namun, lompatan eksponensial dalam dunia bisnis menuntut adaptabilitas yang dinamis. Enam belas tahun kemudian, tepat pada November 2024, di bawah kendali komando yang sama, lahirlah Prospektus IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Jika diletakkan bersebelahan, logika di balik Prospektus 2024 tampak berbalik 180 derajat dari Prospektus 2008. Di tahun 2008, tujuannya adalah meraup pendanaan publik untuk masuk dan membesarkan bisnis batu bara termal. Sebaliknya, melalui langkah spin-off atau pemisahan pilar bisnis di tahun 2024, Boy Thohir justru memilih untuk melepas dan memisahkan seluruh aset batu bara termal beserta rantai pasok pendukungnya dari tubuh entitas induk. Operasi pemisahan ini diwujudkan dengan menawarkan miliaran lembar saham AADI kepada publik guna memosisikannya sebagai entitas mandiri yang terpisah secara struktural dan finansial.
Langkah taktis ini bukan tanpa alasan analitik yang matang. Puncak dari arsitektur restrukturisasi ini ditandai dengan perubahan nama entitas induk menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Perubahan nomenklatur ini adalah sebuah langkah pembersihan portofolio secara menyeluruh. Dengan mengalihkan pilar batu bara termal ke dalam wadah AADI, Boy Thohir secara sadar membersihkan pembukuan dan profil risiko Alamtri Resources dari sentimen negatif yang melekat pada standar keberlanjutan global global (Environmental, Social, and Governance / ESG).
Melalui pemisahan ini, Alamtri Resources didesain untuk bergerak lebih lincah tanpa beban diskon valuasi akibat industri tinggi karbon. Langkah tersebut membuka jalan lebar bagi entitas ini untuk fokus menggarap sektor masa depan yang ramah pasar modal global: pilar pertambangan batu bara metalurgi (coking coal) untuk kebutuhan industri baja melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), penguatan investasi mineral kritis di bawah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), pilar utilitas, serta pembangunan infrastruktur energi terbarukan berskala besar di Kalimantan Utara.
Ini bukanlah wujud dari kepanikan korporasi, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang terstruktur. Alasan filosofis di balik keputusan berani ini tertuang secara presisi dalam gagasan tertulis Boy Thohir pada Presidential Messages di tahun transformasi tersebut.
"Satu hal yang juga tidak kalah penting adalah kami senantiasa mengevaluasi kinerja bisnis kami, di mana kami melihat bahwa salah satu strategi utama untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan adalah melalui langkah penataan kembali. Oleh karena itu, kami menetapkan tema besar korporasi kita, 'Restructuring Business Pillars for Sustainable Growth.' Langkah ini menjadi fondasi penting bagi masa depan grup, memastikan tiap pilar usaha mampu mengoptimalkan nilai kompetitifnya di tengah lanskap industri global yang terus berubah,” tulis Boy.
Melalui perbandingan dua prospektus ini, terlihat jelas evolusi peran Boy Thohir sebagai pengambil keputusan tertinggi. Jika masa mudanya diuji dengan kemampuan mengonsolidasikan modal untuk membangun imperium ekstraktif raksasa, maka kematangannya hari ini diuji lewat keberanian meredefinisi fondasi bisnis tersebut demi keberlanjutan melintasi generasi. Dari batubara termal menuju ekosistem hijau Alamtri, Boy Thohir membuktikan bahwa kepemimpinan premium menuntut kesiapan untuk membongkar zona nyaman demi mengamankan masa depan.
Beban Anak Pengusaha dan Pembuktian Bernama Adaro
Dunia bisnis sering kali melahirkan narasi romantis tentang para perintis yang merangkak dari nol. Namun, bagi seorang Garibaldi Boy Thohir, narasi yang harus ia hadapi justru sebaliknya, sebuah beban psikologis yang tidak kalah berat: ekspektasi raksasa sebagai anak pengusaha mapan. Lahir sebagai putra dari Mochamad Teddy Thohir, salah satu pilar utama yang ikut membesarkan Astra Group bersama William Soeryadjaya, membuat masa muda Boy berjalan di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah. Di lingkungan sosial dan dunia usaha, ia tidak memulai dengan kertas kosong, melainkan dengan sebuah standar pencapaian yang sudah dipatok sangat tinggi oleh generasi pertamanya.
Dinamika ini tumbuh bersama dalam ruang keluarga Thohir, membentuk karakter Boy dan sang adik, Erick Thohir. Sejak masa kecil, mereka berdua terbiasa melihat kedisiplinan dan etos kerja keras yang ditunjukkan oleh Teddy Thohir. Kendati tumbuh dalam kecukupan finansial, sang ayah tidak pernah memanjakan anak-anaknya dengan kemudahan instan. Nilai-nilai inilah yang memicu gejolak idealisme dalam diri Boy muda ketika ia menyelesaikan studinya di Amerika Serikat. Setelah meraih gelar Bachelor of Business Administration dari The University of Southern California pada tahun 1988 dan Master of Business Administration dari Northrop University pada tahun 1989, Boy dihadapkan pada persimpangan jalan karier yang krusial.
Alih-alih memilih jalur aman dengan bekerja di lembaga finansial internasional terkemuka, Boy justru memilih jalan terjal sebagai wirausahawan mandiri. Pilihan ini sempat memicu dialog mendalam antara dirinya dan sang ayah, sebuah momen yang membekas sebagai titik balik prinsip hidupnya. Boy mengenang percakapan verbatim tersebut ketika ia menolak tawaran mapan demi mengejar jalannya sendiri.
“Waktu saya lulus, almarhum ayah saya bilang, Boy, kamu kerja di Citibank atau di Chase Manhattan Bank. Saya bilang, ya tapi kalau saya kerja di bank asing, nanti saya gajinya dolar, pakai dasi, tapi kan saya cuma jadi sekrup dari satu mesin yang besar. Saya pengen jadi pengusaha, Pak. Ayah saya tanya, kamu tahu gak jadi pengusaha itu susahnya setengah mati? Saya bilang, ya saya mau coba. Karena bagi saya, uang itu bukan segalanya. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membangun sesuatu dari keringat saya sendiri,” kata Boy.
Langkah pembuktian itu tidak berjalan mulus. Boy sempat merasakan kerasnya dinamika bisnis, mulai dari menjadi calo tanah hingga mengalami kegagalan di sektor industri lain, sebelum akhirnya momentum besar itu datang pada tahun 2005. Momentum yang tidak hanya menguji ketajaman intuisinya, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bahwa ia telah keluar dari bayang-bayang nama besar Teddy Thohir.

Pada awal tahun 2005, sebuah peluang emas sekaligus berisiko tinggi muncul di lantai pasar modal dan industri pertambangan nasional. Kepemilikan saham Adaro, yang saat itu masih dikuasai oleh entitas asing dan didera sengketa hukum yang rumit di Singapura, berada dalam posisi goyah. Di sinilah kepemimpinan strategis Boy Thohir diuji. Ia tidak bergerak sendiri, melainkan mengambil peran sebagai dirigen utama yang berhasil mengonsolidasikan kekuatan modal domestik. Boy memimpin sebuah konsorsium lokal yang diisi oleh nama-nama besar di jagat bisnis Indonesia, termasuk Theodore Permadi Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Subianto.
Manuver tahun 2005 ini merupakan operasi akuisisi yang sangat berani. Konsorsium yang dipimpin Boy harus merogoh kocek hingga USD46 juta untuk membeli saham Adaro dari Deutsche Bank, yang bertindak sebagai agen penjual aset tersebut. Risiko hukum dan operasional sangat tinggi, mengingat citra batubara saat itu belum sekilau beberapa tahun setelahnya. Namun, Boy melihat apa yang gagal dilihat oleh pihak asing: potensi cadangan batubara kalori rendah hingga menengah di Kalimantan Selatan yang memiliki pasar sangat masif untuk pemenuhan energi jangka panjang.
Akuisisi ini menjadi titik balik penting nasional karena berhasil merebut salah satu aset strategis energi terbesar di Indonesia kembali ke pangkuan pengusaha lokal. Di bawah bendera konsorsium ini, Adaro mengalami restrukturisasi radikal, membersihkan seluruh sengketa masa lalu, dan mengkonsolidasikan operasionalnya dari hulu ke hilir hingga akhirnya siap melantai di bursa pada tahun 2008.
Bagi Boy Thohir, keberhasilan mengambil alih dan membesarkan Adaro sejak 2005 bukan sekadar urusan kalkulasi profitabilitas di atas kertas. Ini adalah validasi personal yang tuntas atas beban nama besar yang dipikulnya sejak muda. Adaro adalah pembuktian dingin bahwa Garibaldi Thohir bukan sekadar anak dari seorang pendiri Astra, melainkan seorang kreator nilai yang mampu mengarsiteki salah satu transaksi korporasi paling berdampak dalam sejarah modern bisnis Indonesia.
DNA Kehidupan dan Kesederhanaan di Tengah Imperium Rp61 Triliun
Menilai skala keberhasilan seorang Garibaldi Boy Thohir sering kali menjebak pengamat pada angka-angka nominal yang fantastis. Dengan total kekayaan bersih yang ditaksir mencapai USD3,8 miliar versi Forbes, atau setara dengan kisaran Rp61,5 triliun, Boy berada di jajaran elite oligarki finansial Indonesia. Namun, aspek paling anomali dari profil kepemimpinannya bukanlah seberapa besar kapital yang ia kuasai, melainkan bagaimana ia secara konsisten menolak gaya hidup glamor yang biasanya melekat pada status miliarder korporasi ekstraktif. Paradoks antara kepemilikan imperium raksasa dan pilihan personal untuk tetap membumi menjadi tesis penting dalam membedah psikologi kepemimpinannya.
Di tengah lanskap bisnis modern yang kerap merayakan heroisme personal CEO dan pameran kemewahan visual, Boy Thohir justru memilih pendekatan yang kontras. Kesederhanaan baginya bukan sekadar kosmetik pencitraan, melainkan sebuah instrumen strategis yang efisien. Karakter kepemimpinan yang jauh dari kesan luks ini berakar dari keyakinan bahwa legitimasi seorang pemimpin di mata ribuan karyawan, buruh tambang di lapangan, hingga jajaran investor global, dibangun lewat integritas perilaku, bukan lewat simbol-simbol status yang superfisial. Nilai pragmatis ini ia formulasikan sebagai karakter dasar yang wajib mengalir di setiap urat nadi organisasi bisnisnya.
Filosofi personal tersebut secara langsung ditransformasikan menjadi fondasi nilai budaya perusahaan atau corporate culture di dalam tubuh Adaro Group yang kini bertransisi menjadi Alamtri Resources. Secara analitik, penanaman nilai kesederhanaan dan kerendahan hati dalam ekosistem korporasi bernilai puluhan triliun rupiah memiliki fungsi manajerial yang sangat vital.
Kultur ini berfungsi sebagai peredam benturan kepentingan ego sektoral dan konflik internal di antara jajaran direksi, pemegang saham, maupun manajemen harian. Ketika pimpinan tertinggi mempraktikkan kerendahan hati, ruang untuk arogansi jabatan menjadi menyempit, sehingga menciptakan iklim kerja yang setara, cair, dan berbasis pada performa objektif.
Dampaknya terhadap efisiensi operasional grup selama puluhan tahun sangatlah masif. Kultur rendah hati mereduksi struktur birokrasi yang kaku, mempercepat pengambilan keputusan, dan memangkas biaya-biaya non-produktif yang biasanya habis untuk fasilitas pelengkap gengsi korporasi. Dalam industri komoditas dan energi yang fluktuatif, efisiensi adalah batas tipis antara bertahan hidup atau gulung tikar. Kesederhanaan kultur memastikan bahwa perusahaan tetap memiliki struktur biaya yang kompetitif dan tangguh di tengah siklus naik-turun pasar global.
“DNA Adaro adalah kesederhanaan dan kerendahan hati. Nilai-nilai inilah yang membuat kami terus bertumbuh besar tanpa kehilangan arah. Kami menyadari bahwa apa yang kami miliki hari ini adalah sebuah amanah, dan mengelola industri energi berskala besar membutuhkan kerja sama tim yang solid tanpa adanya sekat-sekat keangkuhan,” katanya.
Bagi Boy, kerendahan hati organisasi ini harus diimbangi dengan ketangguhan mentalitas wirausaha individu. Ia merumuskan bahwa keberlanjutan sebuah bisnis di tengah ketidakpastian zaman bertumpu pada tiga pilar utama karakter pengusaha sukses. Nilai pertama adalah fokus pada bidang yang digeluti, tidak mudah goyah oleh tren sesaat, dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap tekanan eksternal. Karakter ini dikombinasikan dengan inovasi yang tiada henti serta kemampuan manajerial keuangan yang disiplin.
Dalam pandangan mengenai resep mencetak keberhasilan di dunia usaha, Boy menjabarkan tiga kunci sukses tersebut.
Kunci jadi pengusaha sukses itu ada tiga hal penting. Pertama, kita harus fokus pada apa yang kita kerjakan dan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Bisnis itu bukan perlombaan lari jarak pendek, melainkan maraton yang membutuhkan daya tahan. Kedua adalah inovasi, karena lanskap industri selalu berubah. Dan yang ketiga adalah pengelolaan keuangan yang disiplin dan bijak.
Melalui sinkronisasi antara karakter personal dan budaya organisasi ini, Bab III memotret Boy Thohir sebagai seorang arsitek budaya kerja yang jeli. Ia berhasil membuktikan bahwa sebuah imperium bisnis bernilai puluhan triliun rupiah tidak harus dikelola dengan menara gading yang eksklusif dan glamor. Dengan menjadikan kesederhanaan sebagai DNA operasional, Alamtri Resources Indonesia memiliki jangkar emosional dan struktural yang kuat untuk terus melaju, mempertahankan efisiensi puncak, dan meredam gejolak dari dalam, bahkan ketika mereka sedang meniti ombak transisi bisnis terbesar dalam sejarah korporasi modern.
Mineral Kritis, Teknologi, dan Transisi Hijau
Ketajaman eksekutif seorang Garibaldi Boy Thohir tidak terletak pada kepatuhan kaku terhadap satu komoditas yang telah membesarkannya, melainkan pada kemampuannya mengendus arah perubahan zaman sebelum tren tersebut menjadi arus utama pasar. Ketika industri ekstraktif global mulai dihantam gelombang dekarbonisasi dan tuntutan keberlanjutan, Boy tidak memilih untuk bertahan di zona nyaman batubara termal.
Ia menunjukkan karakter kepemimpinan yang sangat adaptif dan pragmatis. Baginya, transisi energi bukan sekadar ancaman regulasi yang harus dihindari, melainkan sebuah restrukturisasi peluang pasar baru yang wajib ditaklukkan sebelum para pesaingnya menyadari pergeseran peta jalan ekonomi global.
Manifestasi dari visi masa depan ini terbaca jelas lewat diversifikasi agresif gurita bisnisnya ke sektor non-termal dan mineral kritis. Melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), Boy menggeser fokus ekstraktif grup pada komoditas batubara metalurgi (coking coal), bahan baku esensial yang tidak tergantikan dalam industri produksi baja global. Langkah ini terbukti genius secara finansial dan posisi pasar, karena ADMR mampu melantai di bursa dengan performa yang memikat investor yang menghindari batubara pembangkit listrik (thermal coal).
Tidak berhenti di situ, lengan investasi Boy mencakup penguasaan komoditas masa depan lainnya melalui kepemilikan saham di PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Lewat MDKA, ia menancapkan pengaruh kuat pada produksi emas, tembaga, hingga nikel melalui anak usahanya, Merdeka Battery Materials, yang menjadi komponen inti dari ekosistem baterai kendaraan listrik global.
Namun, jurnalisme analitik yang jeli juga harus melihat bagaimana kapasitas kepemimpinan krisis (crisis leadership) seorang Boy Thohir diuji dalam gurita bisnis non-termal ini. Ketika insiden operasional dan dinamika sosial pecah di proyek emas Pani, Pohuwato, Gorontalo pada September 2023, manajemen risiko yang ia tanamkan pada grup langsung diaktifkan. Melalui siaran pers resmi korporasi, Grup Merdeka tidak memilih jalur konfrontatif, melainkan langsung mengedepankan pendekatan dialog, musyawarah, serta komitmen penyelesaian yang mengutamakan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas jangka panjang proyek strategis tersebut. Pengelolaan risiko yang taktis ini menegaskan bahwa kematangan Boy sebagai pengusaha tercermin dari bagaimana ia menavigasi risiko di lapangan pertambangan yang kompleks.
Visi Boy Thohir mencapai puncaknya ketika ia memutuskan keluar sepenuhnya dari batas-batas industri ekstraktif dan melompat masuk ke episentrum ekonomi digital nasional: ekosistem GoTo (Gojek Tokopedia). Langkah seorang taipan tambang senior menyuntikkan dana besar dan menduduki posisi penting di korporasi teknologi sempat memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat pasar modal. Investasi ini bukan sekadar diversifikasi portofolio finansial biasa, melainkan sebuah kalkulasi strategis untuk mengawinkan efisiensi teknologi digital dengan kekuatan logistik riil yang dimiliki oleh jaringan bisnis lamanya.
Boy melihat GoTo tak hanya sebagai tren teknologi, melainkan sebagai infrastruktur sosial-ekonomi baru Indonesia yang memiliki daya jangkau jutaan pengguna. Dalam sebuah penjelasan personal yang sangat lugas, Boy Thohir membeberkan alasan filosofis dan bisnis mengapa dirinya yang berbasis di industri batubara bisa terpikat, jatuh cinta, dan kepincut pada ekosistem digital tersebut.
“Jujur, saya melihat GoTo ini bukan sekadar perusahaan teknologi biasa, tapi sebuah ekosistem yang punya dampak sosial sangat luar biasa bagi jutaan masyarakat Indonesia. Saya ini pengusaha konvensional, basis saya di batubara dan infrastruktur. Tapi ketika saya melihat bagaimana anak-anak muda di Gojek dan Tokopedia menciptakan inovasi yang bisa membantu jutaan UMKM dan driver di lapangan, saya jatuh cinta. Ini bukan cuma soal potensi valuasi ekonomi atau bisnis masa depan, tapi soal bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan kemajuan bangsa. Saya kepincut karena ada idealisme besar di dalamnya yang sejalan dengan prinsip saya bahwa bisnis itu harus membawa manfaat nyata bagi negara,” jelasnya.

Melalui kombinasi penataan mineral kritis di hulu dan investasi teknologi digital di hilir, Bab IV ini menegaskan bahwa potret Boy Thohir adalah potret seorang pragmatis ulung. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi pemain utama di masa depan, seorang CEO tidak boleh membiarkan dirinya terkunci dalam satu identitas industri.
Dengan bergerak cepat mengamankan posisi di sektor mineral hijau dan teknologi digital sebelum momentum global bergeser, Boy memastikan bahwa transisi dari era Adaro kuno menuju Alamtri Resources yang baru berjalan di atas fondasi yang kokoh, adaptif, dan siap menghadapi lanskap ekonomi baru dunia.
Politik Negara dan Estafet Tongkat Komando
Pada akhirnya, kedewasaan seorang pemimpin tertinggi tidak hanya diukur dari kemampuannya mempertahankan kekuasaan, melainkan dari keikhlasannya dalam merancang suksesi dan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas ego personal. Bagi Garibaldi Boy Thohir, fase ini menandai transisi eksistensial yang mendalam. Ia sedang bergeser dari seorang dirigen operasional harian yang agresif di lini depan, menjadi seorang pemikir strategis di balik layar yang menavigasi bisnis pada level makro, baik dalam konstelasi politik nasional maupun aliansi ekonomi internasional.
Secara korporasi, pergeseran peran ini dikukuhkan melalui keputusan krusial dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada Juni 2025. Langkah tersebut secara resmi menandai mundurnya Boy Thohir dari kursi Presiden Direktur atau CEO.yang telah didudukinya selama belasan tahun, untuk kemudian menempati posisi sebagai Wakil Presiden Komisaris. Secara analitik, keputusan ini merupakan bagian dari arsitektur tata kelola perusahaan modern demi menjaga keberlanjutan masa depan institusi melintasi generasi. Dengan melepaskan kendali operasional harian kepada jajaran profesional baru, Alamtri Resources bertransformasi menjadi korporasi yang institusional, tidak lagi bergantung pada figuritas tunggal sang pendiri.
Boy Thohir sendiri secara emosional mengakui bahwa penataan ulang posisi ini adalah langkah yang tidak bisa ditawar demi kebaikan organisasi. Ia menegaskan bahwa secara taktis harian, masa tugasnya di lapangan sudah selesai.
“Secara operasional harian, I am no longer di Adaro. Saya melihat bahwa ini harus ada keberlanjutan. Regenerasi itu mutlak dilakukan agar perusahaan ini bisa terus bertumbuh melintasi zaman. Tugas saya sekarang adalah memberikan arahan strategis dari fungsi pengawasan, memastikan fondasi yang sudah kita bangun tetap kokoh dijalankan oleh para profesional yang lebih muda,” katanya.
Keluar dari belenggu rutinitas operasional tambang justru membuat daya jangkau Boy Thohir di tingkat makro semakin meluas. Perannya kini bergeser menjadi jangkar diplomasi ekonomi nasional, salah satunya tercermin dari posisinya sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Tiongkok (KIKT). Dalam kapasitas internasional ini, Boy bertindak sebagai jembatan strategis yang memfasilitasi kemitraan bilateral berskala raksasa.
Peran diplomatis ini terlihat nyata ketika ia mengawal perhelatan Business Forum di Beijing dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden RI. Forum tersebut bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah operasi jaringan yang sangat cair dan berhasil mengunci komitmen investasi strategis bernilai signifikan mencapai USD10,07 miliar. Kelihaian Boy dalam merancang acara yang formal namun tetap meninggalkan kesan mendalam—seperti momen viral kebersamaan para tokoh bangsa—menunjukkan bahwa ia memiliki kapasitas memperkuat networking internasional yang jarang dimiliki pengusaha lain.
Pragmatisme Boy Thohir dalam menjalin aliansi global dan menyikapi arah politik domestik selalu berlandaskan pada satu prinsip tunggal: stabilitas dan keberlanjutan makro demi pertumbuhan ekonomi nasional. Baginya, komitmen korporasi terhadap hilirisasi dan inisiatif hijau tidak boleh terputus oleh pergantian kepemimpinan politik. Pandangan inilah yang mendasari arah dukungan strategisnya, di mana ia melihat pentingnya kesinambungan kebijakan dari era Presiden Joko Widodo ke era Presiden Prabowo Subianto demi mengamankan proyek-proyek masa depan seperti megaproyek hidrogreen di Kalimantan Utara.
Ketika ditanya mengenai posisi dan keterlibatan keluarganya dalam pusaran politik kekuasaan, Boy Thohir merumuskannya dengan sebuah kalimat filosofis yang sangat kuat dan menegaskan garis batas idealismenya.
“Politik keluarga saya adalah politik negara. Kami selalu mendahulukan kepentingan negara. Karena kalau kita sendiri tidak mendahulukan negara kita, kalau kita tidak bangga terhadap bangsa kita, siapa lagi? Masa orang lain? Jadi apa pun langkah yang kami ambil, dasarnya adalah the country comes first,” kata Boy.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.