Logo

INFOGRAFIS Konflik AS–Iran Panas, Energi Jadi Target

Terbit pada 23 March 2026 Oleh: Redaksi KabarBursa.com
INFOGRAFIS Konflik AS–Iran Panas, Energi Jadi Target

KABARBURSA.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian memanas dengan ancaman saling serang terhadap fasilitas listrik dan energi yang berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah. Mengutip Reuters, Sabtu (21/3/2026), Presiden AS Donald Trump mengultimatum Teheran untuk membuka penuh Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik Iran. Sehari berselang, Iran membalas dengan ancaman menyerang infrastruktur AS serta fasilitas energi dan desalinasi di kawasan Teluk, bahkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan potensi kehancuran permanen infrastruktur energi regional. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global, dengan analis IG Tony Sycamore menyebut ultimatum tersebut sebagai “bom waktu” yang meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi menekan pasar saham. Di tengah eskalasi, Selat Hormuz dilaporkan tetap terbuka terbatas, sementara harga minyak melonjak ke level tertinggi hampir empat tahun setelah Irak menetapkan force majeure pada ladang minyak asing dan konflik meluas melalui serangan Israel ke fasilitas gas Iran serta balasan Teheran ke negara-negara Teluk. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global—memicu krisis energi terburuk sejak 1970-an, dengan harga gas Eropa melonjak hingga 35 persen. Ke depan, pengamat Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak dunia masih akan melesat, di mana WTI berpotensi mencapai USD93,3 hingga USD107,1 per barel dan Brent menembus USD110 hingga USD116 per barel, didorong ketegangan kawasan dan gangguan pasokan energi. Lonjakan ini diperkirakan meningkatkan biaya transportasi, terutama avtur, sehingga memicu tekanan inflasi global dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.