INFOGRAFIS Rupiah Melemah, Cadangan Devisa Disorot
KABARBURSA.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS pada awal pekan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik, meskipun kemudian menguat kembali ke kisaran Rp16.869 per dolar AS. Ekonom Achmad Nur Hidayat menilai pergerakan tersebut tidak lagi sekadar fluktuasi pasar, melainkan sinyal tekanan ekonomi yang berpotensi berdampak pada inflasi, fiskal negara, serta dunia usaha, terutama karena melampaui asumsi kurs dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, memperbesar biaya impor energi, serta mempersempit ruang fiskal pemerintah. Di sisi lain, Bank Indonesia memang masih memiliki berbagai instrumen intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun langkah tersebut memiliki biaya yang tidak kecil, tercermin dari tren penurunan cadangan devisa Indonesia dari USD156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi USD151,9 miliar pada Februari 2026. Menurut Achmad, kondisi tersebut harus dibaca sebagai alarm kebijakan karena tekanan eksternal global kini mulai bertemu dengan kerentanan domestik, sehingga pelemahan rupiah berpotensi memperlebar defisit APBN hingga sekitar Rp3–4 triliun jika bertahan di kisaran Rp16.869 hingga Rp17.000 per dolar AS.