KABARBURSA.COM - OPEC+ menghadapi dilema besar di tengah potensi kembalinya Iran ke pasar minyak global. Di satu sisi, kartel produsen ini ingin menjaga harga tetap stabil. Namun, di sisi lain, mereka juga berisiko kehilangan pangsa pasar jika terlalu agresif memangkas produksi.
Situasi ini menjadi semakin kompleks karena tambahan pasokan Iran berpotensi masuk dalam waktu cepat, sementara kebijakan produksi OPEC+ saat ini masih dalam fase penyesuaian.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono menilai, respons OPEC+ tidak akan langsung agresif, melainkan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan pergerakan harga.
Menuturnya, OPEC+ saat ini berada dalam posisi dilematis. Respons mereka kemungkinan akan terbagi dalam dua tahap, yakni tahap akomodasi (wait and see). Selain itu, Arab Saudi dan Rusia kemungkinan tidak akan langsung memangkas produksi.
“Mereka akan membiarkan Iran mengisi kuotanya kembali (Iran biasanya dikecualikan dari pemangkasan saat di bawah sanksi) selama harga tetap di atas USD 70,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.
Sementara untuk tahap Intervensi adalah ketika harga Brent merosot ke bawah USD 65 akibat banjir minyak Iran, OPEC+ diprediksi akan melakukan pemangkasan sukarela tambahan (sekitar 500k - 1 juta bpd) untuk menyeimbangkan pasar.
“Namun, perselisihan internal mengenai pangsa pasar (market share) bisa memicu volatilitas jika anggota lain enggan mengalah pada Iran,” jelasnya.
Sejauh ini, OPEC+ masih aktif mengelola pasokan untuk menjaga keseimbangan pasar. Total pemangkasan produksi kelompok ini mencapai sekitar 5,3 juta barel per hari (bpd) atau setara sekitar 5 persen dari permintaan global, yang terdiri dari pemangkasan kolektif dan pemangkasan sukarela oleh negara inti seperti Arab Saudi dan Rusia.
Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya kaku. Reuters melaporkan, sepanjang 2025, OPEC+ sempat mulai mengembalikan produksi sekitar 2,9 juta bpd untuk merebut kembali pangsa pasar, sebelum akhirnya menahan kenaikan produksi pada awal 2026 akibat ketidakpastian permintaan dan geopolitik.
Bahkan, pada April 2026, OPEC+ hanya menyepakati kenaikan produksi terbatas sekitar 206 ribu bpd—angka yang dinilai simbolis di tengah ketidakpastian pasar global.
Langkah hati-hati ini mencerminkan posisi OPEC+ yang tengah “menjaga keseimbangan tipis” antara mempertahankan harga dan menjaga dominasi pasar.
Di sisi lain, dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang menggerakkan harga minyak. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, sempat mengganggu distribusi minyak global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, dikutip dari Reuters.
Kondisi ini membuat harga minyak sempat melonjak tajam, meski kenaikan tersebut lebih dipicu oleh risiko geopolitik ketimbang kekuatan fundamental permintaan.
Dalam konteks ini, kembalinya Iran justru menjadi variabel yang dapat mengubah arah pasar. Jika pasokan Iran masuk dalam jumlah besar, tekanan terhadap harga minyak berpotensi meningkat, terutama jika permintaan global tidak tumbuh signifikan.
Namun, keputusan OPEC+ tidak hanya soal menjaga harga. Persaingan pangsa pasar antar anggota juga menjadi faktor penting. Negara seperti Arab Saudi memiliki fleksibilitas sebagai produsen utama, sementara negara lain menghadapi keterbatasan kapasitas atau tekanan geopolitik.
Kondisi ini membuka potensi friksi internal di dalam OPEC+, terutama jika harus menentukan siapa yang harus menanggung pemangkasan produksi tambahan saat Iran kembali ke pasar.
Pada akhirnya, arah harga minyak global dalam beberapa bulan ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pasokan Iran, tetapi juga oleh bagaimana OPEC+ menyeimbangkan dua kepentingan besar: mempertahankan harga atau mempertahankan pengaruh di pasar global. (*)