Logo
>

Akal-akalan Narasi Hijau PGEO, Berlindung di Baseline Jadul Demi Poles Citra ESG

PGEO dikritik memakai baseline lama untuk klaim reduksi emisi, sementara performa tahunan dan pengelolaan limbah justru melemah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Akal-akalan Narasi Hijau PGEO, Berlindung di Baseline Jadul Demi Poles Citra ESG
Pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di Area Lahendong, Sulawesi Utara. Di tengah narasi transisi energi dan klaim penurunan emisi, laporan keberlanjutan PGEO 2025 justru memunculkan sorotan soal stagnasi efisiensi dan penurunan kinerja pengelolaan limbah. Foto: Dok. PGEO.

KABARBURSA.COM — Di atas kertas, laporan keberlanjutan atau Sustainability Reportn2025 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tampak sebagai sebuah kemenangan bagi transisi energi. Emiten panas bumi ini dengan bangga memamerkan reduksi intensitas emisi sebesar 6,55 persen. Namun, di balik angka yang tampak "sejuk" tersebut, tersembunyi sebuah taktik statistik yang lazim digunakan korporasi untuk memoles performa, yakni penggunaan baseline masa lalu sebagai tameng stagnasi saat ini.

Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, PGEO menetapkan tahun 2022 sebagai titik acuan (baseline) dengan angka intensitas emisi sebesar 44 g COe/kWh. Dengan membandingkan angka tahun 2025 yang berada di level 41,12 g COe/kWh terhadap tahun 2022, klaim reduksi 6,55 persen pun lahir.

Namun, jika kita menggunakan kacamata performa tahun-ke-tahun (year-on-year), narasi keberhasilan ini mulai retak. Pada tahun 2024, intensitas emisi PGEO sebenarnya sudah menyentuh angka 41,09 g COe/kWh. Artinya, dari 2024 ke 2025, intensitas emisi PGEO justru naik tipis sebesar 0,07 persen.

Secara teknis, PGEO tidak sedang bergerak maju dalam hal efisiensi emisi per unit energi. Emiten BUMN ini sedang mengalami regresi tipis atau setidaknya stagnasi.

Anomali Klaim Efisiensi

Yang lebih mencurigakan adalah kontradiksi antara klaim efisiensi energi dan realitas emisi yang dihasilkan. PGEO melaporkan lonjakan penghematan energi (energy savings) yang fantastis—naik lebih dari dua kali lipat dari 40.058 MWh di 2024 menjadi 90.502 MWh di 2025.

Secara logika operasional, penghematan energi sebesar lebih 125 persen ini seharusnya berkontribusi signifikan pada penurunan intensitas emisi. Namun, mengapa angka intensitas emisi justru bergeming di level 41? Hal ini memicu pertanyaan besar di mana penghematan energi itu terjadi?

Jika penghematan hanya terjadi pada aspek administratif atau pendukung (kantor dan fasilitas umum) namun tidak menyentuh proses ekstraksi gas buang (Non-Condensable Gas) di sumur-sumur panas bumi, maka klaim efisiensi tersebut hanyalah "kosmetik" yang tidak berdampak pada inti masalah lingkungan.

Kritik juga patut diarahkan pada catatan kaki mungil yang sering terlewatkan oleh mata awam. Dalam data emisi 2025, terdapat keterangan mengenai “penyajian kembali informasi karena ada perubahan satuan penghitungan" (GRI 2-4).

Dalam praktik akuntansi hijau, perubahan metode atau satuan di tengah jalan adalah "bendera merah" (red flag). Perubahan ini berpotensi mengaburkan perbandingan apel-ke-apel antar tahun. Publik patut bertanya apakah angka 41,12 g COe/kWh tersebut akan tetap sama jika menggunakan metode penghitungan tahun sebelumnya? Tanpa transparansi mengenai alasan perubahan satuan, PGEO seolah-olah sedang membangun labirin data yang sulit ditembus.

Lampu Kuning Manajemen Limbah

Kecurigaan terhadap menurunnya performa operasional semakin diperkuat oleh data pengelolaan limbah. Di tengah narasi energi bersih, kemampuan PGEO mengelola limbah non-B3 melalui skema 4R justru terjun bebas dari 61,98 persen (2024) menjadi hanya 38,88 persen (2025).

Penurunan drastis kapasitas pengolahan limbah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kapasitas produksi PGEO tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur lingkungan. Perusahaan tampak lebih sibuk mengejar angka emission avoidance (penghindaran emisi)—yang secara teoritis pasti naik seiring bertambahnya produksi—daripada membenahi "dosa-dosa" operasional di lapangan.

PGEO sedang mempertontonkan gaya komunikasi korporasi klasik, yakni menonjolkan angka besar yang terlihat bagus secara historis untuk menutupi melambatnya inovasi hijau di masa kini. Dengan terus berlindung di balik baseline 2022, PGEO mencoba meyakinkan publik bahwa mereka masih di jalur yang benar. Namun, data tahunan berbicara lain. Faktanya efisiensi sedang mandek dan beban limbah mulai tak terkendali.

Bagi sebuah perusahaan yang mengusung panji energi terbarukan, stagnasi adalah langkah mundur. Dan bagi publik, laporan keberlanjutan ini seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar brosur prestasi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).