KABARBURSA.COM – Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masuk puncak top foreign buy selama pekan perdagangan pendek 12–15 Januari 2026.
Dalam empat hari bursa tersebut, investor asing membukukan pembelian bersih Rp670,88 miliar di pasar reguler, di tengah pergerakan harga yang belum menunjukkan penguatan.
Berdasarkan data perdagangan Stockbit, pada penutupan Kamis, 15 Januari 2026, INCO ditutup melemah 0,78 persen di level 6.350. Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang 6.175–6.775 setelah dibuka di 6.700. Aktivitas perdagangan berlangsung padat dengan volume sekitar 821 ribu lot, nilai transaksi Rp527,1 miliar, dan frekuensi 79.049 kali.
Dari sisi arus dana, pembelian bruto investor asing selama periode tersebut mencapai Rp1,13 triliun, sementara penjualan bruto asing tercatat Rp460,56 miliar. Selisihnya menghasilkan pembelian bersih Rp670,88 miliar. Porsi transaksi asing berada di kisaran 44,05 persen dari total nilai, dengan domestik mengambil 55,95 persen.
Masuk ke peta pelaku, penyerapan asing di INCO tersebar pada sejumlah broker institusional. CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) tercatat sebagai pembeli bersih terbesar dengan nilai Rp175,7 miliar pada harga rata-rata 6.592.
Di bawahnya, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) membukukan pembelian bersih Rp155,6 miliar dengan harga rata-rata 6.431.
Selanjutnya, Mandiri Sekuritas (CC) mencatat pembelian bersih Rp53,2 miliar pada harga rata-rata 6.435. J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) menyerap Rp50,9 miliar dengan harga rata-rata 6.455, sementara CGS International Sekuritas Indonesia (YU) membukukan pembelian bersih Rp20,4 miliar pada harga rata-rata 6.484.
Struktur perdagangan memperlihatkan penyerapan berlangsung bertahap. Frekuensi tinggi mengindikasikan eksekusi tersebar, bukan transaksi blok sesaat.
Pada orderbook, antrean beli relatif tebal terbentuk di rentang 6.100–6.300, sementara sisi jual terdistribusi di area 6.400–6.575, menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sepanjang sesi.
Fundamental INCO Menjadi Latar Penyerapan Asing
Dari sisi fundamental, INCO melaporkan kinerja keuangan interim yang stabil sepanjang Januari–September 2025 dengan pendapatan sekitar USD 705,4 juta dan laba bersih sekitar USD 52,4 juta.
Kinerja tersebut ditopang aktivitas operasional dan efisiensi, seiring pengembangan fasilitas pengolahan nikel yang terus berjalan.
Sebagai konteks tambahan, pandangan analis terhadap INCO masih didominasi rekomendasi beli.
Per 12 Januari 2026, dari 29 analis yang dipantau, sebanyak 24 memberikan rekomendasi buy, empat hold, dan satu sell.
Target harga rata-rata berada di Rp5.597 dengan rentang estimasi terendah Rp4.000 dan tertinggi Rp8.800, sementara harga saham pada periode yang sama berada di kisaran 6.350. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.