Logo
>

TPIA Kasih Sinyal Baik Pasca 10 Hari di Tendang MSCI

TPIA ambruk 73 persen sepanjang 2026 setelah keluar dari MSCI dan diterpa aksi jual asing. Namun lonjakan free float dan bertambahnya investor membuka cerita yang berbeda.

Ditulis oleh Yunila Wati
TPIA Kasih Sinyal Baik Pasca 10 Hari di Tendang MSCI
TPIA sudah kehilangan sekitar 73 persen nilainya. (Foto: dok TPIA)

KABARBURSA.COM Tidak banyak saham yang mampu membuat investor mengalami perubahan emosi secepat PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Dalam hitungan hari, saham ini bisa terjun bebas, lalu tiba-tiba melonjak lebih dari 20 persen, sebelum kembali terkoreksi. 

Pergerakan ekstrem itu terjadi bukan tanpa alasan. Sejak awal tahun, TPIA sudah kehilangan sekitar 73 persen nilainya. Penurunan itu membuat banyak investor bertanya, apakah saham ini masih memiliki masa depan?

Pukulan terbesar datang ketika MSCI secara tak terduga mengeluarkan TPIA dari indeksnya pada proses rebalancing terbaru. Keputusan tersebut memaksa banyak investor institusi global melakukan penyesuaian portofolio, sehingga tekanan jual tidak bisa dihindari. 

Sepanjang tahun ini saja, arus dana asing yang keluar dari TPIA diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp4,9 triliun.

Tekanan tersebut semakin besar ketika SCG Chemicals (SCGC), salah satu pemegang saham jangka panjang TPIA, melepas sekitar 14,86 persen kepemilikannya dengan harga rata-rata sekitar Rp1.123 per saham. Aksi korporasi itu sempat memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan jual masih akan berlanjut.

SCGC Keluar, Free Float TPIA Menarik

Namun, cerita tidak sesederhana itu. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan SCGC memang turun menjadi sekitar 15,71 persen. Akan tetapi, konsekuensi yang muncul justru membuat struktur saham TPIA menjadi lebih menarik. 

Porsi saham publik atau free float meningkat signifikan hingga sekitar 25,7 persen, sementara tiga pemegang saham utama masih menguasai sekitar 74,3 persen saham perseroan.

Perubahan ini bukan sekadar angka statistik. Free float yang lebih besar berarti likuiditas saham meningkat, sehingga peluang TPIA untuk kembali memenuhi persyaratan indeks global di masa depan menjadi semakin terbuka. 

Bagi investor institusi, likuiditas merupakan salah satu faktor penting sebelum memutuskan untuk kembali masuk ke sebuah saham.

Jumlah Investor Naik, Minat Beli Masih Besar

Menariknya lagi, ketika investor asing memilih keluar, investor domestik justru mulai berdatangan. Data per 31 Mei 2026 menunjukkan jumlah pemegang Single Investor Identification (SID) TPIA bertambah 11.469 orang sehingga total investor mencapai 38.456 SID. 

Kenaikan jumlah investor ini menunjukkan bahwa di tengah kepanikan pasar, masih banyak pelaku pasar yang melihat penurunan harga sebagai peluang akumulasi.

Pergerakan harga beberapa hari terakhir juga menggambarkan kondisi tersebut. Setelah sempat turun ke level 1.305 pada 5 Juni, TPIA langsung bangkit dengan kenaikan hampir 23 persen pada 8 Juni menjadi 1.605. 

Sehari berikutnya, saham ini kembali melonjak lebih dari 21 persen ke level 1.955. Walaupun pada 10 Juni terkoreksi sekitar 5 persen menjadi 1.855, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat beli masih cukup besar setiap kali harga mengalami pelemahan.

Dari sisi transaksi, pola yang terbentuk juga cukup menarik. Pada 8 Juni, investor asing sempat mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp258 miliar, sebelum kembali melakukan penjualan bersih sekitar Rp261 miliar pada 9 Juni. 

Secara teknikal, TPIA juga masih menyimpan cerita yang belum selesai. Koreksi tajam setelah keluarnya saham ini dari MSCI meninggalkan gap harga yang cukup lebar di kisaran 2.600 dan 3.000. 

Dalam analisis teknikal, area tersebut sering menjadi magnet yang berpotensi dikunjungi kembali apabila sentimen mulai membaik dan tekanan jual mereda.

Meski demikian, jalan menuju pemulihan tentu tidak akan mudah. Risiko aksi jual lanjutan dari pemegang saham besar masih menjadi perhatian pasar. 

Selain itu, belum ada kepastian apakah TPIA akan kembali masuk dalam indeks MSCI pada evaluasi berikutnya. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, volatilitas tinggi kemungkinan masih akan menjadi teman sehari-hari investor saham ini.

Di sisi lain, perubahan struktur kepemilikan justru bisa menjadi fondasi baru bagi TPIA. Free float yang meningkat, jumlah investor ritel yang terus bertambah, serta potensi likuiditas yang lebih baik memberikan cerita yang berbeda dibanding beberapa bulan lalu. 

Saham ini mungkin memang sedang berada dalam fase terberatnya, tetapi justru di fase seperti inilah pasar biasanya mulai mencari titik balik.

Pertanyaan terbesar, apakah seluruh sentimen negatif sudah sepenuhnya tercermin dalam harga? Jika tekanan jual mulai berakhir dan arus dana asing kembali masuk ke pasar Indonesia, TPIA berpeluang mengubah statusnya dari saham yang ditinggalkan menjadi salah satu kandidat pemulihan paling menarik di Bursa Efek Indonesia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79