Logo
>

PGAS Dua Hari Hijau Beruntun, Bawa Kabar Baik Apa?

PGAS menguat 3,70 persen ke Rp1.540, tetapi masih turun 22 persen sepanjang 2026. Orderbook, valuasi murah, dan bertambahnya investor mulai memberi sinyal yang berbeda.

Ditulis oleh Yunila Wati
PGAS Dua Hari Hijau Beruntun, Bawa Kabar Baik Apa?
Dua hari berturut-turut di zona hijau, PGAS masih jauh dari kata pulih. (Foto: dok PGAS)

KABARBURSA.COM PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ditutup menguat 3,70 persen ke level Rp1.540 setelah sehari sebelumnya melonjak 6,83 persen ke Rp1.485.

Dua hari berturut-turut di zona hijau tentu menjadi kabar baik. Namun, PGAS jauh dari kata pulih. Sejak awal tahun, saham ini masih terkoreksi sekitar 22 persen dan menjadi salah satu emiten BUMN yang berada di bawah tekanan paling besar.

Pertanyaannya, apakah kenaikan dua hari terakhir menjadi awal pembalikan arah atau hanya technical rebound di tengah sentimen yang masih berat?

Jika melihat perjalanan harga dalam sepekan terakhir, volatilitas PGAS memang cukup tinggi. Pada 2 Juni saham ini berada di level Rp1.825 sebelum perlahan turun menjadi Rp1.780 pada 3 Juni dan Rp1.720 pada 4 Juni. Tekanan semakin besar pada 5 Juni ketika harga anjlok 11,63 persen ke Rp1.520.

Pelemahan belum berhenti. Pada 8 Juni, PGAS kembali kehilangan 8,55 persen dan ditutup di Rp1.390. Baru setelah itu muncul pembalikan arah dengan kenaikan 6,83 persen pada 9 Juni dan dilanjutkan penguatan 3,70 persen pada 10 Juni ke level Rp1.540.

Bid Tebal, Tiga Kali Lipat Antrean Jual

Menariknya, kebangkitan tersebut diikuti perubahan struktur transaksi yang cukup sehat.

Pada perdagangan 10 Juni, saham PGAS dibuka di Rp1.485, sempat menyentuh level tertinggi Rp1.560 sebelum ditutup di Rp1.540 dengan harga terendah Rp1.440. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp90,88 miliar dengan volume mencapai 606,51 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 11.900 kali.

Struktur orderbook juga memberikan gambaran yang menarik.

Di sisi permintaan, antrean beli mencapai total 141.737 lot atau lebih dari tiga kali lipat antrean jual yang hanya sekitar 41.762 lot. Bid terbesar berada di level Rp1.525 sebanyak 5.909 lot, disusul Rp1.500 sebanyak 5.297 lot dan Rp1.510 sebanyak 3.527 lot.

Sementara itu, di sisi penawaran, offer terbesar berada di level Rp1.550 sebanyak 8.226 lot, sedangkan level Rp1.545 hanya memiliki antrean sekitar 1.998 lot.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minat akumulasi mulai muncul di bawah harga penutupan, sementara tekanan jual terlihat relatif lebih terbatas. Secara psikologis, struktur orderbook seperti ini biasanya menunjukkan investor mulai berani mengoleksi saham ketika harga masih berada di area diskon.

Sentimen Negatif PGAS

Meski demikian, tekanan fundamental belum sepenuhnya hilang.

Sepanjang tahun ini, PGAS menghadapi ketidakpastian kebijakan energi nasional dan kenaikan harga energi yang ikut menekan volume distribusi gas. Pada kuartal pertama 2026, volume distribusi gas tercatat turun sekitar 8 persen secara kuartalan, sementara margin ikut tergerus karena biaya pembelian LNG mengikuti pergerakan Indonesia Crude Price (ICP).

Di tengah tantangan tersebut, manajemen justru mulai mengarahkan fokus bisnis pada sektor midstream dan downstream. Salah satu langkah strategis yang banyak diperbincangkan adalah potensi divestasi aset hulu melalui Saka Energi, meski hingga kini belum ada jadwal resmi yang diumumkan.

PGAS juga masih menghadapi ketidakpastian hukum terkait penyelesaian sengketa LNG dengan Guvnor Singapore. Perseroan bahkan telah membentuk pencadangan sekitar 55 persen dari total nilai gugatan, sebuah langkah konservatif yang menunjukkan perusahaan telah mengantisipasi potensi risiko tersebut.

Namun di balik berbagai sentimen negatif itu, valuasi PGAS mulai terlihat menarik.

Saat ini saham PGAS diperdagangkan di kisaran tujuh kali price earning ratio (PER), level yang relatif murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah perusahaan energi di kawasan.

Selain itu, muncul harapan baru dari wacana dukungan institusi milik negara yang berpotensi melakukan pembelian kembali saham-saham BUMN strategis untuk menjaga stabilitas pasar. Jika skenario tersebut terealisasi, PGAS menjadi salah satu nama yang berpotensi memperoleh sentimen positif.

Data kepemilikan saham juga memperlihatkan kondisi yang cukup solid.

Per Mei 2026, PT Pertamina (Persero) masih menguasai 56,964 persen saham PGAS, sementara porsi saham publik tetap stabil di 43,03 persen. Jumlah pemegang saham justru bertambah sebanyak 638 investor menjadi 73.495 investor, dengan total saham beredar tetap 24,24 miliar lembar.

Artinya, di tengah koreksi harga yang mencapai 22 persen sepanjang tahun, justru semakin banyak investor yang memilih masuk dibanding meninggalkan saham ini.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79