Logo
>

BSML Jual Lima Aset, Butuh Modal Berlayar di 2026?

Penjualan tiga kapal BSML menjadi langkah penyehatan neraca untuk melunasi utang perbankan, di tengah penurunan pendapatan dan tekanan laba yang membuat perseroan memilih fokus pada efisiensi.

Ditulis oleh Yunila Wati
BSML Jual Lima Aset, Butuh Modal Berlayar di 2026?
Salah satu armada milik PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. Foto: Dok BSML.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bintang Samudra Mandiri Lines Tbk (BSML) memutuskan untuk mendivestasi tiga kapalnya. Keputusan ini diambil mengingat kinerja keuangan BSML di kuartal ketiga 2025 tergerus.

    Dalam RUPSLB yang dilaksanakan di Jakarta pada 17 Desember 2025, diputuskan bahwa Perseroan akan menjual aset produktif berupa tiga unit kapal tunda (tug boat) berkapasitas masing-masing 2000 HP dan dua unit kapal tongkang dengan kapasitas masing-masing 300 feet.

    Diketahui, penjualan dilakukan untuk melunasi kewajiban Perseroan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI. 

    “Penjalan tersebut dilakukan dengan estimasi transaksi mencapai Rp60 miliar,” tulis manajemen, dikutip Senin, 22 Desember 2025.

    Adapun nilai transaksi tersebut tergolong material, karena setara dengan 45,74 persen dari total ekuitas Perseroan, di mana per 30 September 2025 ekuitasnya tercatat sebesar Rp131 miliar.

    Jika ditarik ke kondisi kinerja keuangan terakhir, pendapatan BSML menunjukkan tren penurunan tajam secara kuartalan. Pada Q3-2025, total pendapatan hanya sekitar Rp15 miliar, turun drastic dibandingkan Q4 202 yang masih di angka Rp53 miliar dan Q3 2024 yang mencapai Rp69 miliar.

    Penurunan volume usaha ini otomatis menekan laba, di mana pada Q3 2025 berada di Rp3 miliar, dengan laba bersih praktis nol. Bahkan dalam beberapa kuartal sebelumnya, laba bersih hanya di kisaran Rp1-2 miliar. Walau begitu, angka ini relative tipis untuk menopang ekspansi atau pembaruan armada.

    Dari sisi rasio, tekanannya semakin nyata. EPS kuartalan anjlok ke 0,12 jauh di bawah capaian kuartal-kuartal sebelumnya yang masih berada di atas 0,7. Sebagai akibat, PE ratio melonjak ekstrem hingga di atas 1.000 kali.

    Kenaikan PE ratio ini bukan karena harga saham terlalu mahal, tetapi karena laba yang menyusut tajam. Sementara, return on equity dan return on assets juga turun ke bawah 0,2 persen, yang artinya aset serta ekuitas belum dimanfaatkan secara optimal.

    Dalam kondisi seperti ini, Langkah BSML sudah tepat karena mempertahankan aset produktif yang utulisasinya rendah justru berpotensi menjadi beban, baik dari sisi biaya perawatan maupun depresiasi.

    Dengan kata lain, keputusan RUPSLB ini lebih tepat dibaca sebagai langkah penyehatan dan penyesuaian skala bisnis, bukan sinyal ekspansi agresif. BSML tampaknya memilih memperkuat fondasi terlebih dahulu, memastikan likuiditas dan efisiensi, sebelum berbicara soal pertumbuhan di 2026. 

    Dalam konteks kinerja keuangan yang sedang melemah, menjual kapal adalah cara tercepat untuk mengubah aset menjadi kas dan memberi ruang bernapas bagi perusahaan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79