KABARBURSA.COM – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk atau dalam kode saham GMFI optimistis mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang 2026 di tengah prospek cerah industri perawatan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) global maupun domestik. Perseroan menyiapkan berbagai strategi ekspansi, diversifikasi bisnis, hingga penguatan manajemen risiko untuk menangkap peluang pasar yang terus berkembang.
Dalam Public Expose-nta GMFI memaparkan capaian kinerja, strategi pengembangan usaha, serta arah pertumbuhan perusahaan ke depan.
Dari sisi kinerja keuangan, GMFI mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar USD114,94 juta atau meningkat 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan tersebut, laba berjalan GMFI melonjak menjadi USD6,76 juta atau tumbuh 78,28 persen secara tahunan.
Manajemen menjelaskan pertumbuhan tersebut ditopang oleh strategi ekspansi pasar, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, serta optimalisasi operasional yang didukung implementasi program perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement.
Prospek industri MRO dinilai masih sangat menjanjikan. GMFI mengungkapkan bahwa industri MRO global telah pulih sepenuhnya dari dampak pandemi dengan nilai pasar mencapai USD114 miliar pada 2024 dan diperkirakan meningkat menjadi USD156 miliar dalam 10 tahun ke depan.
Kondisi tersebut memunculkan fenomena yang dikenal sebagai MRO Supercycle, yakni meningkatnya kebutuhan perawatan pesawat akibat tingginya utilisasi armada dan bertambahnya usia pesawat di berbagai negara. Di saat yang sama, kapasitas industri MRO global masih terbatas sehingga membuka peluang besar bagi pelaku usaha di sektor ini.
Indonesia juga diperkirakan menjadi salah satu pasar penerbangan terbesar dunia. Pada 2030, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat secara global dengan jumlah armada nasional meningkat dari sekitar 600 unit menjadi 974 unit pada 2034.
Pertumbuhan armada tersebut diperkirakan akan mendorong kebutuhan jasa MRO domestik hingga mencapai USD2,1 miliar atau sekitar Rp34 triliun pada 2034. Segmen engine maintenance diproyeksikan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 48 persen, diikuti component maintenance sebesar 23 persen dan line maintenance sebesar 20 persen.
Selain pasar penerbangan komersial, GMFI juga melihat peluang besar dari sektor pertahanan. Program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dijalankan pemerintah, termasuk pengoperasian Airbus A400M dan Hercules C-130J, dinilai akan meningkatkan kebutuhan layanan perawatan pesawat militer dalam beberapa tahun mendatang.
Sebagai salah satu pemain utama MRO di kawasan, GMFI menilai posisi perusahaan sangat strategis untuk menangkap peluang tersebut. Namun manajemen menegaskan pertumbuhan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko secara disiplin.
Untuk mengurangi ketergantungan pada pelanggan grup, GMFI terus memperluas basis pelanggan dari kalangan non-grup, baik domestik maupun internasional, termasuk sektor pemerintah dan pertahanan. Perseroan juga melakukan pengalokasian kapasitas hanggar dan workshop secara selektif berdasarkan tingkat profitabilitas dan nilai strategis jangka panjang.
Di sisi keuangan, GMFI menerapkan empat langkah utama untuk menjaga likuiditas, yakni memperkuat disiplin konversi kas, memprioritaskan pengelolaan modal kerja, mengelola kewajiban secara disiplin, serta memperkuat struktur ekuitas perusahaan.
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, GMFI mengandalkan enam pendorong utama bisnis. Faktor tersebut meliputi pertumbuhan industri penerbangan dan MRO yang terus meningkat, posisi strategis GMFI sebagai pemain regional, momentum pemulihan kinerja sejak 2025, diversifikasi usaha, disiplin pengelolaan risiko, serta upaya meningkatkan daya tarik saham di pasar modal melalui peningkatan likuiditas dan partisipasi investor.
Untuk mendukung target pertumbuhan, GMFI menjalankan sejumlah proyek ekspansi strategis sepanjang 2026.
Salah satunya adalah perluasan kapasitas maintenance melalui kerja sama dengan PT Pelita Air Service di Bandar Udara Pondok Cabe. Fasilitas yang mulai beroperasi pada Juni 2026 tersebut akan digunakan untuk perawatan pesawat turboprop, ATR, serta helikopter Bell-412 dan jenis rotary wing lainnya.
Langkah tersebut sekaligus memungkinkan optimalisasi hanggar utama GMFI di Cengkareng agar lebih fokus melayani perawatan pesawat jet.
Perseroan juga memperluas jangkauan internasional melalui pengembangan fasilitas hanggar MRO di kawasan Timur Tengah dan Afrika atau Middle East and Africa (MEA) melalui skema joint venture. Ekspansi ini diharapkan memperkuat kapasitas operasional sekaligus memperluas basis pelanggan global.
Di dalam negeri, GMFI bersama Kementerian PPN/Bappenas dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) terus mengembangkan proyek Aerospace Park. Setelah groundbreaking dilakukan pada Desember 2025, proyek tersebut memasuki tahap pengembangan lanjutan sepanjang 2026 dan diharapkan menjadi salah satu pusat industri dirgantara nasional pada masa mendatang.
Tidak hanya fokus pada bisnis inti perawatan pesawat, GMFI juga memperkuat lini usaha aerostructure dan manufaktur komponen pesawat. Pengembangan bisnis ini didukung kemampuan engineering, fasilitas produksi, serta sertifikasi AS9100 yang diterbitkan oleh SIRIM QAS International.
Melalui langkah tersebut, GMFI berupaya meningkatkan keterlibatan dalam rantai pasok industri dirgantara global sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
Perseroan juga terus memperkuat bisnis non-aviasi melalui pengembangan segmen Industrial Solutions dan Power Services. Strategi ini diarahkan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari pelanggan di luar grup dan afiliasi melalui ekspansi peluang usaha, akuisisi yang selektif, serta peningkatan kontrak berulang atau recurring contracts.
Pada sektor Government and Defense, GMFI mencatat sejumlah pencapaian penting sepanjang 2025, termasuk penyelesaian perawatan helikopter Bell-412 milik TNI Angkatan Darat serta dua pesawat VIP Boeing 737-800 milik pemerintah.
Memasuki awal 2026, kemampuan pemeliharaan pesawat militer GMFI juga diperluas. Jika sebelumnya fokus pada pesawat C-130J Hercules milik TNI Angkatan Udara, kini Perseroan telah menambah kapabilitas untuk Airbus A400M dan Boeing 737 Series sebagai bagian dari dukungan terhadap program modernisasi alutsista nasional.
Dengan prospek industri yang positif, berbagai proyek ekspansi yang tengah berjalan, serta disiplin dalam pengelolaan risiko dan likuiditas, GMFI optimistis dapat mempertahankan tren pertumbuhan sepanjang tahun ini.
Perseroan menargetkan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas layanan perawatan, ekspansi pasar internasional, peningkatan kontribusi pelanggan non-grup, pengembangan bisnis non-commercial aircraft, diversifikasi usaha aerostructure, serta peningkatan efisiensi operasional dan ketahanan keuangan.
Sebagai informasi, GMFI merupakan perusahaan penyedia jasa industrial services serta perbaikan, perawatan, dan overhaul pesawat terbesar di Indonesia. Berawal sebagai Divisi Teknik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, perusahaan kini telah melayani lebih dari 190 pelanggan dari 70 negara dan mengantongi sertifikasi dari 30 otoritas penerbangan dunia, termasuk FAA Amerika Serikat, EASA Eropa, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia.
GMFI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2017 dengan kode saham GMFI. Saat ini Perseroan terus memperluas bisnis ke sektor power services dan industri pertahanan guna memperkuat posisinya sebagai perusahaan MRO yang bernilai dan berdaya saing global.
Namun menilik data perdagangan sahamnya Kamis, 11 Juni 2026 saham GMFI hanya di level 51 per lembarnya. Bahkan freefloat-nya di bawah ketentuan bursa yakni 6,52 persen, sementara regulator sudah mulai mewajibkan perusahaan tercatat memiliki saham beredar minimal 15 persen.(*)