KABARBURSA.COM – Saham-saham di Wall Street menguat pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026 setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS melandai. Penguatan tersebut membuat bursa saham AS menutup pekan dengan kinerja positif meski volatilitas pasar masih tinggi.
Sebagaimana dikutip dari CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average naik 294,04 poin atau 0,58 persen ke level 50.579,70. Indeks berisi 30 saham unggulan itu sempat mencetak rekor tertinggi intraday dan kembali menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang masa.
Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,37 persen ke posisi 7.473,47. Nasdaq Composite menguat 0,19 persen dan ditutup di level 26.343,97.
Meski ketiga indeks utama ditutup di zona hijau, penguatannya mulai berkurang dibanding posisi tertinggi yang sempat dicapai pada awal sesi perdagangan.
“Kondisi sekarang adalah everything market. Pasar saat ini tampaknya lebih khawatir kehilangan momentum perdamaian di Timur Tengah dibanding risiko membawa posisi beli hingga akhir pekan,” ujar Chief Strategist Interactive Brokers Steve Sosnick kepada CNBC.
Hingga kini belum ada kepastian apakah Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai untuk mengakhiri perang. Reuters melaporkan tim dari Qatar terbang ke Teheran pada Jumat dalam koordinasi dengan AS guna membantu tercapainya kesepakatan penghentian konflik.
Harga minyak dunia ditutup menguat tipis pada Jumat, meski mulai menjauh dari level tertinggi yang sempat tercapai awal pekan ini. Pelaku pasar berharap konflik Iran dapat segera menemukan titik penyelesaian.
Kontrak Brent naik 0,9 persen dan ditutup di USD103,54 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,3 persen ke level USD96,60 per barel.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun hampir 3 basis poin ke sekitar 4,56 persen pada Jumat sore waktu setempat. Yield obligasi tenor 30 tahun juga turun lebih dari 4 basis poin ke kisaran 5,06 persen.
Sebelumnya, volatilitas pasar obligasi sempat membebani pasar saham sepanjang pekan ini. Yield obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 sebelum akhirnya turun kembali. Sementara yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Pelaku pasar sebelumnya khawatir perang berkepanjangan antara AS dan Iran akan membuat harga minyak tetap tinggi dan mendorong inflasi kembali naik.
Dari sisi saham individual, Qualcomm melonjak hampir 12 persen pada perdagangan Jumat dan mencatat penguatan harian ketiga berturut-turut. Secara mingguan, saham Qualcomm melesat 18,2 persen.
Secara mingguan, S&P 500 naik 0,9 persen dan mencatat penguatan delapan pekan berturut-turut, menjadi reli mingguan terpanjang sejak akhir 2023.
Dow Jones naik 2,1 persen dan membukukan pekan positif ketiga dalam empat pekan terakhir. Nasdaq juga bertambah 0,5 persen dan mencatat kenaikan mingguan ketujuh dalam delapan pekan terakhir.
Sektor kesehatan menjadi salah satu sektor dengan performa terbaik pekan ini. Sektor health care di indeks S&P 500 naik 3,4 persen sepanjang pekan dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak November tahun lalu.
DexCom memimpin penguatan sektor kesehatan dengan lonjakan 17 persen sepanjang pekan. Disusul Bio-Techne dan Baxter International yang masing-masing naik sekitar 11 persen.
Namun tidak semua saham sektor kesehatan bergerak positif. Saham Moderna, CVS, dan UnitedHealth justru ditutup melemah sepanjang pekan sehingga membatasi kenaikan sektor secara keseluruhan.(*)