KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) terus anjlok. Bank yang berfokus pada kredit perumahan ini mencoba mengubah fokus. Jika sebelumnya pertumbuhan kredit menjadi sorotan utama, kini manajemen lebih menekankan pada kualitas kredit sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Targetnya, hingga akhir 2026 BTN ingin menurunkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi di bawah 2,5 persen.
Target tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Pada akhir Maret 2026, rasio NPL KPR BTN sudah membaik menjadi 2,8 persen, turun dari 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara rasio NPL bank secara keseluruhan berada di level 3,1 persen.
Perbaikan kualitas aset ini bukan terjadi secara kebetulan. Dalam beberapa tahun terakhir BTN menjalankan transformasi besar-besaran pada proses kreditnya. Salah satu program utama adalah implementasi Loan Factory, sebuah pusat pemrosesan kredit terintegrasi yang memanfaatkan digitalisasi, data analytics, decision engine, dan otomatisasi alur kerja.
Lewat sistem ini, proses kredit yang sebelumnya memakan waktu sekitar 10 hingga 14 hari kini bisa diselesaikan hanya dalam 4 sampai 7 hari. Tingkat pemrosesan otomatis juga terus meningkat menuju 70 persen, sementara tingkat perbaikan dokumen atau rework berhasil ditekan hingga di bawah 15 persen.
Yang lebih penting, Loan Factory tidak hanya membuat proses menjadi lebih cepat, tetapi juga meningkatkan kualitas kredit baru yang masuk ke dalam portofolio bank.
Bahana Sekuritas: Profil Risiko BBTN Lebih Sehat
Temuan ini mendapat perhatian positif dari Bahana Sekuritas dalam hasil kunjungan lapangan mereka pada April 2026. Menurut analis Bahana, kredit yang dibukukan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan profil risiko yang jauh lebih sehat dibandingkan portofolio lama BTN.
Di sisi lain, BTN juga memperkuat pengelolaan kredit bermasalah melalui pendekatan Cluster Collection, yaitu sistem penanganan kredit berdasarkan karakteristik risiko dan perilaku pembayaran nasabah.
Dengan pendekatan yang lebih tersegmentasi, proses penagihan, restrukturisasi, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan lebih efektif.
Dengan kombinasi perbaikan kualitas kredit baru dan pengelolaan portofolio lama yang lebih disiplin, BTN optimistis target NPL KPR di bawah 2,5 persen pada akhir 2026 dapat tercapai.
Namun menariknya, sentimen positif dari sisi fundamental tersebut belum mampu mendorong pergerakan saham pada perdagangan hari ini.
Sesi I: Harga Turun 4,82 Persen
Berdasarkan data perdagangan 8 Juni 2026, saham BBTN pada sesi berjalan berada di level Rp1.085, turun 55 poin atau 4,82 persen. Saham ini dibuka di Rp1.130 dan sempat menyentuh level tertinggi yang sama sebelum akhirnya bergerak turun hingga menyentuh level terendah Rp1.080.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp11,29 miliar dengan volume perdagangan mencapai 102,78 juta saham dan frekuensi transaksi sekitar 2.720 kali. Harga rata-rata transaksi berada di kisaran Rp1.099 per saham.
Dari pola perdagangan tersebut terlihat bahwa tekanan jual muncul sejak awal sesi. Saham dibuka pada level tertinggi harian, tetapi gagal mempertahankan momentum sehingga terus pergerak melemah hingga mendekati level terendah perdagangan saat penutupan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.