Logo
>

AMMN Masuk Periode Panen Produksi, ini Saran Analis

AMMN memasuki fase pemulihan besar. Produksi tembaga dan emas melonjak, laba diproyeksikan berlipat ganda, sementara valuasi dinilai masih jauh di bawah perusahaan sejenis global.

Ditulis oleh Yunila Wati
AMMN Masuk Periode Panen Produksi, ini Saran Analis
AMMN sedang memasuki siklus pertumbuhan laba baru yang berpotensi menghasilkan kinerja terbaik sepanjang sejarah. (Foto: dok AMMN)

KABARBURSA.COM - Selama lebih dari setahun terakhir, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu saham yang paling banyak kehilangan kilau. Harga sahamnya terkoreksi tajam dari puncak tertinggi pada Mei 2024.

Dua lembaga riset melihatnya berbeda. UOB Kay Hian dan Stockbit Sekuritas menilai penurunan AMMN lebih banyak disebabkan oleh faktor sementara, dan bukan karena kerusakan fundamental bisnis.

UOB Kay Hian berpendapat, AMMN sedang memasuki siklus pertumbuhan laba baru yang berpotensi menghasilkan kinerja terbaik sepanjang sejarah. Setelah melalui masa transisi dari fase penambangan Batu Hijau Fase 7 ke Fase 8 dan proses penyesuaian operasi smelter, perusahaan diperkirakan memasuki periode panen produksi.

Perubahan fase tambang ini sangat penting karena Fase 8 memiliki kadar bijih yang lebih tinggi. Artinya, dari jumlah material yang ditambang, AMMN bisa menghasilkan lebih banyak tembaga dan emas dibanding sebelumnya. 

Di saat yang sama, smelter yang sempat mengalami penghentian operasi kini mulai kembali beroperasi dan meningkatkan utilisasinya.

Produksi Diperkirakan Melonjak 124 Persen

Hasilnya terlihat dalam proyeksi produksi. UOB memperkirakan produksi tembaga dalam konsentrat pada 2026 akan melonjak sekitar 124 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara produksi emas diproyeksikan melonjak lebih spektakuler lagi, mencapai sekitar 565 persen secara tahunan.

Lonjakan produksi tersebut langsung tercermin pada proyeksi keuangan. Pendapatan AMMN diperkirakan meningkat dari USD1,85 miliar pada 2025 menjadi hampir USD5 miliar pada 2026. 

Begitu pula dengan EBITDA yang diproyeksikan naik dari USD921 juta menjadi USD2,18 miliar. Sementara, laba bersih berpotensi melonjak dari USD249 juta menjadi lebih dari USD1 miliar.

Dengan proyeksi tersebut, UOB Kay Hian memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp7.000 per saham. Dari harga yang berada di kisaran Rp3.290 saat laporan diterbitkan, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan lebih dari 110 persen.

Tekanan Mulai Mereda

Pandangan serupa datang dari Stockbit Sekuritas. Dalam analisanya, tekanan terhadap saham AMMN selama ini berasal dari dua faktor yang sifatnya non-struktural. Pertama adalah penurunan laba akibat transisi operasional tambang dan penghentian sementara smelter. 

Kedua adalah aksi jual paksa setelah saham AMMN dikeluarkan dari indeks MSCI pada akhir Mei 2026.

Kedua faktor tersebut kini mulai mereda. Pemulihan operasional sudah terlihat pada kuartal pertama 2026, tepatnya ketika produksi konsentrat melonjak sekitar 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, tekanan jual dari eksklusi MSCI dianggap sudah selesai, sehingga beban terbesar terhadap pergerakan harga saham mulai berkurang.

Stockbit memperkirakan laba bersih AMMN akan meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi sekitar USD1 miliar pada 2026 dan kembali naik menjadi sekitar USD1,6 miliar pada 2027. 

Kenaikan ini didorong oleh kombinasi kadar emas yang lebih tinggi di Fase 8, peningkatan utilisasi smelter dan refinery, harga tembaga serta emas yang tetap kuat, hingga tambahan pendapatan dari penjualan asam sulfat.

Valuasi Semakin Murah

Yang menarik, di tengah ekspektasi pertumbuhan laba yang sangat tinggi, valuasi AMMN justru terlihat semakin murah. 

Pada harga sekitar Rp3.110 per saham, Stockbit menghitung valuasi AMMN hanya sekitar 12,7 kali P/E dan 8,4 kali EV/EBITDA untuk 2026. Angka ini berada di bawah rata-rata perusahaan tambang tembaga dan emas global yang diperdagangkan di atas 20 kali P/E dan sekitar 11 kali EV/EBITDA.

Karena itu, Stockbit menilai ada ruang re-rating valuasi ketika pasar mulai melihat bahwa penurunan laba 2025 hanyalah fase transisi sementara. Dengan menggunakan valuasi yang lebih mendekati perusahaan sejenis global, harga wajar AMMN diperkirakan berada di kisaran Rp4.510 hingga Rp4.900 per saham.

Baik UOB Kay Hian maupun Stockbit memiliki melihat 2025 menjadi titik terendah laba akibat masa transisi operasional, dan 2026-2027 diperkirakan menjadi periode pemulihan besar. 

Perbedaannya hanya terletak pada target harga dan asumsi valuasi. UOB lebih agresif dengan target Rp7.000, sedangkan Stockbit memilih pendekatan yang lebih konservatif di kisaran Rp4.500–Rp4.900.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79