Logo
>

Indo Premier Turunkan Proyeksi Laba KLBF, Ada Apa?

Indo Premier memangkas target harga KLBF menjadi Rp1.200 per saham setelah menurunkan proyeksi laba 2026. Kenaikan biaya bahan baku dan tekanan daya beli menjadi faktor utama.

Ditulis oleh Yunila Wati
Indo Premier Turunkan Proyeksi Laba KLBF, Ada Apa?
Penjualan KLBF pada April hingga Mei 2026 masih tumbuh sekitar 5-7 persen secara tahunan. (Foto: dok KLBF)

KABARBURSA.COM - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dikenal sebagai salah satu emiten defensif yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi. Produk obat-obatan, susu nutrisi, hingga jaringan distribusinya yang luas membuat pertumbuhan perusahaan cenderung stabil, bahkan saat kondisi ekonomi tidak ideal.

Tidak demikian untuk saat ini. Indo Premier Sekuritas mengungkap, mesin pertumbuhan Kalbe memang masih berjalan. Hanya saja, lajunya tidak secepat seperti diperkirakan sebelumnya.

Hasil diskusi Indo Premier dengan manajemen menunjukkan bahwa penjualan pasca-Lebaran pada April hingga Mei 2026 masih tumbuh sekitar 5-7 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh segmen farmasi dan distribusi. Keduanya merupakan lini bisnis terbesar Kalbe.

Di segmen farmasi, pertumbuhan masih ditopang oleh produk bermerek dan produk lisensi yang mencatat kenaikan penjualan sekitar 10 persen. Sebaliknya, produk generik hanya tumbuh sekitar 4,6 persen. 

Artinya, sumber pertumbuhan Kalbe saat ini lebih banyak berasal dari produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Tantangan mulai muncul dari segmen Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Segmen ini mengalami perlambatan sejak tahun lalu. Periode penagihan piutang dari rumah sakit pemerintah masih berlangsung cukup Panjang, sehingga menekan efisiensi modal kerja perusahaan.

Di sisi lain, segmen distribusi masih menjadi titik terang. Kehadiran prinsipal baru, yaitu Bayer, sejak awal 2026, memberikan kontribusi tambahan terhadap pertumbuhan pendapatan distribusi.

Sementara itu, bisnis consumer health mulai kembali ke pola pertumbuhan normal setelah lonjakan permintaan selama periode Lebaran. Segmen nutrisi justru menjadi area yang paling menantang. Sekitar 70 persen pendapatan nutrisi Kalbe berasal dari susu formula premium, sehingga pelemahan daya beli masyarakat membuat pertumbuhan segmen ini belum mampu pulih secara optimal.

Tekanan Biaya Meningkat

Alasan utama Indo Premier memangkas target harga KLBF bukan berasal dari sisi penjualan, melainkan dari tekanan biaya.

Manajemen mengungkapkan bahwa harga bahan baku farmasi atau active pharmaceutical ingredient (API) mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya harga minyak dunia. Masalahnya, Kalbe belum leluasa menaikkan harga jual produk farmasi, terutama obat generik.

Untuk produk generik, ruang kenaikan harga sangat terbatas karena pemerintah masih menghadapi tekanan defisit program JKN. Sementara untuk produk lisensi dan obat bermerek, kenaikan harga juga tidak mudah dilakukan. Jika harga dinaikkan terlalu agresif, konsumen berpotensi beralih ke produk generik yang lebih murah.

Proyeksi Laba Dipangkas, Rekomendasi Beli

Dengan kata lain, Kalbe menghadapi situasi yang tidak ideal. Biaya produksi naik, tetapi kemampuan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen masih terbatas.

Kondisi tersebut membuat Indo Premier menurunkan asumsi margin laba kotor (gross profit margin/GPM) 2026 dari sebelumnya 38 persen menjadi 37,1 persen. Dampaknya, proyeksi laba bersih 2026 dipangkas sekitar 7,4 persen menjadi Rp3,44 triliun.

Meski memangkas proyeksi laba, Indo Premier tidak mengubah pandangan positif terhadap saham KLBF. Rekomendasi Buy tetap dipertahankan, meskipun target harga diturunkan dari estimasi sebelumnya menjadi Rp1.200 per saham.

Alasannya sederhana. Penurunan target harga lebih disebabkan revisi laba, bukan karena perubahan fundamental jangka panjang. Bahkan setelah revisi tersebut, KLBF masih diperdagangkan pada valuasi sekitar 9,2 kali price to earnings ratio (PER) 2026, jauh di bawah valuasi historisnya.

Dari sisi fundamental, perusahaan juga masih menunjukkan karakteristik yang disukai investor jangka panjang. Pendapatan diperkirakan terus tumbuh dari Rp35,3 triliun pada 2025 menjadi Rp37,9 triliun pada 2026 dan berlanjut menjadi Rp44,7 triliun pada 2028. Dividen yield juga tetap menarik di kisaran 5-6 persen.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79