KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat tertekan tajam hingga menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Ekonom sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Noval Adib, mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan kondisi ekonomi maupun pasar saham Indonesia telah sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data perdagangan satu bulan terakhir, IHSG sempat anjlok hingga menyentuh level 5.317,91 pada 8 Juni 2026. Tekanan tersebut terjadi setelah indeks bergerak turun dari area 6.635,13 dan kehilangan lebih dari 1.300 poin dalam periode yang relatif singkat.
Dari titik terendah tersebut, IHSG kemudian mulai menunjukkan pembalikan arah. Penguatan beruntun terjadi dalam lima hari perdagangan hingga indeks kembali menembus level psikologis 6.300 dan berada di posisi 6.309,74 pada Senin, 15 Juni 2026.
Meski demikian, secara bulanan IHSG masih mencatatkan pelemahan 413,59 poin atau 6,15 persen dibandingkan posisi satu bulan sebelumnya.
Menurut Noval, tren penguatan yang terjadi saat ini memang menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, ia memilih menunggu konfirmasi yang lebih kuat sebelum menyimpulkan bahwa pemulihan telah berlangsung secara konsisten.
"Ini sudah hari kelima IHSG naik terus. Dulu saya nulis minimal perlu tujuh hari perdagangan untuk menyimpulkan bahwa trend kenaikan IHSG sudah berjalan dengan konsisten. Kalau sampai tiga hari ke depan IHSG masih konsisten naik seperti ini maka kita sudah mulai bisa berharap bahwa kondisi ekonomi sudah mulai membaik," kata Noval kepada KabarBursa pada Senin, 15 Juni 2026.
Ia menilai perbaikan sentimen pasar saat ini didorong kombinasi faktor domestik dan global.
Dari dalam negeri, Noval melihat pemerintah mulai menunjukkan upaya efisiensi terhadap sejumlah program yang selama ini dinilai menyerap anggaran besar. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memperbaiki kondisi fiskal pemerintah ke depan.
"Saya kira faktor internal dan eksternal saat ini memang sudah mulai mendukung untuk itu," kata dia.
Menurut Noval, salah satu faktor internal yang mendukung perbaikan sentimen pasar adalah upaya pemerintah yang dinilai semakin serius melakukan efisiensi anggaran.
Menurut dia, langkah tersebut terlihat dari evaluasi terhadap sejumlah program berskala besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang selama ini dianggap menyerap anggaran cukup besar.
"Efisiensi program jumbo ini tentu akan membuat kondisi fiskal akan semakin membaik," ujarnya.
Sementara dari eksternal, ia menilai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membantu mengurangi tekanan terhadap pasar keuangan global.
"Dari faktor external perang di Timur tengah tampaknya sudah mulai mereda seiring dengan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika," kata Noval.
Selain faktor tersebut, pasar juga sempat merespons positif keputusan pemerintah menunda implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Menurut Noval, kebijakan DSI sebelumnya menjadi salah satu faktor yang turut membebani sentimen pasar dan berkontribusi terhadap pelemahan IHSG dalam dua pekan terakhir.
"Terbukti respon negatif dari pasar kemaren, dan faktor-faktor DSI yang juga menyumbang turunnya IHSG dua minggu terakhir ini. Beberapa hari yang lalu pemerintah via Bahlil menyampaikan kebijakan ekspor satu pintu agar beberapa komoditas dibatalkan atau ditangguhkan. Ini juga katalis positif bagi pergerakan IHSG," ujarnya.
Meski demikian, Noval menilai ketidakpastian terkait kelanjutan kebijakan tersebut masih perlu dicermati investor. Menurut dia, penguatan yang terjadi saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kepercayaan pasar telah pulih sepenuhnya.
"Ya bisa jadi. Itu sebabnya saya butuh 7-10 hari untuk menyimpulkan pekan lalu untuk arahan-arahan ekonomi ke depan, semakin membaik atau diam menurun. Ini baru hari kelima perdagangan, jadi itu tidak dapat disimpulkan pastinya," katanya saat menanggapi kemungkinan investor masih membebankan premi risiko lebih tinggi terhadap aset-aset Indonesia.
Di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung, Noval juga memberikan sejumlah saran bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif.
Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Selain lapangan kerja yang semakin ketat, masyarakat juga menghadapi perubahan pola hubungan kerja seperti sistem kontrak, outsourcing, maupun kemitraan. Di sisi lain, harga aset seperti rumah, tanah, dan emas terus meningkat sehingga semakin sulit dijangkau kelompok usia produktif.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Noval menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi langkah yang penting.
"Untuk kelompok usia produktif jika orang tuanya mampu menggunakan waktu ini masih belum pasti sekolah lanjut, S2 misalnya. Jika tidak mampu, mengembangkan keterampilan kewirausahaan sambil terus membangun jaringan dan jangan bosan mencari kesempatan pekerjaan serta mengirimkan proposal pekerjaan. Niscaya sambil berdoa," ujarnya.
Karena itu, meski penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir memberikan harapan baru bagi pasar, Noval menilai investor dan masyarakat masih perlu mencermati konsistensi pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan sebelum menyimpulkan bahwa pemulihan ekonomi telah benar-benar terjadi. (*)