KABARBURSA.COM - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali berlanjut pada perdagangan awal pekan dinilai mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap tata kelola perekonomian Indonesia.
Isu independensi Bank Indonesia kembali mengemuka dan menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Sentimen tersebut menguat seiring dinamika politik yang berkembang di sekitar Bank Indonesia, termasuk masuknya nama Thomas Djiwandono, Wakil Menteri Keuangan yang juga keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang ditetapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR M. Misbakhun mengumumkan hasil fit and proper test calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Dari tiga kandidat yang diuji, Thomas Djiwandono unggul atas Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro. Keputusan ini diambil melalui mekanisme musyawarah mufakat dalam rapat internal Komisi XI DPR, Senin, 26 Januari 2026 kemarin.
Selain itu, pasar juga mencermati isu pertukaran posisi Thomas dengan mantan Deputi Gubernur BI Juda Agung yang baru saja mengundurkan diri pada 13 Januari 2026, namun ia juga diisukan menggantikan posisi Wakil Menteri Keuangan bebarengan isu kandidat itu.
Nama Thomas masuk ke bursa pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan 2 kandidat lain, yakni Dicky Kartikoyono sebelumnya menjabat Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia dan Solikin M. Juhro sebelumnya menjabat Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.
Sebenarnya isu pergantian itu sebelumnya langsung direspons pasar sejak namanya masuk bursa calon. Nilai tukar rupiah disebut sempat melemah tajam bahkan sampai di kisaran level Rp17.000 per USD. Pergerakan ini banyak diartikan bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap data fundamental, tetapi juga terhadap sinyal kelembagaan dan persepsi independensi bank sentral.
IHSG Dibuka Zona Merah
Pada perdagangan pagi, IHSG dibuka di zona merah dan terus bergerak melemah seiring berjalannya sesi.
Berdasarkan data perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan berada di level 8.926,52 atau turun 48,81 poin setara dengan 0,54 persen. Sejak pembukaan, indeks sudah menunjukkan pelemahan dengan posisi open di 8.974,56, sempat menyentuh level tertinggi 8.978,84, sebelum tertekan hingga level terendah 8.873,48.
Tekanan jual tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi yang relatif aktif. Total volume perdagangan di seluruh pasar tercatat mencapai 224,99 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp10,06 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 1,44 juta kali. Di pasar reguler, volume transaksi tercatat 223,72 juta lot dengan nilai Rp9,97 triliun dan frekuensi 1,44 juta transaksi. Data ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG bukan disebabkan oleh sepinya transaksi, melainkan oleh meningkatnya aksi jual.
Prinsip Tata Kelola Ekonomi
Ekonom sekaligus Dosen Departemen Akuntansi Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai kondisi tersebut berpotensi melanggar prinsip tata kelola ekonomi yang baik dan sehat. Menurutnya, kebijakan moneter seharusnya berperan sebagai penyeimbang kebijakan fiskal, bukan justru menjadi perpanjangan tangan dari kebijakan tersebut.
“Sudah pasti ini adalah hal yang melanggar tata kelola yang baik perekonomian suatu negara. Kepercayaan investor menjadi menurun karena pengendalian kebijakan fiskal dan moneter dijadikan satu,” ujar Noval Adib kepada KabarBursa.com pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, ketika kebijakan moneter tidak lagi berdiri independen, investor akan memandang risiko investasi di Indonesia meningkat. Dalam kondisi normal, bank sentral berfungsi sebagai jangkar stabilitas yang menjaga keseimbangan ekonomi, terutama saat kebijakan fiskal ekspansif. Namun, ketika peran tersebut bergeser, pasar akan merespons dengan kehati-hatian yang lebih tinggi.
“Kebijakan moneter yang mestinya menjadi penyeimbang kebijakan fiskal, sekarang menjadi alat bantu kebijakan fiskal,” lanjutnya.
Noval menilai pelemahan IHSG yang terjadi sejak pembukaan perdagangan hingga semakin dalam di sesi berjalan merupakan refleksi dari persepsi tersebut. Pasar, kata dia, tidak hanya merespons data ekonomi jangka pendek, tetapi juga membaca arah kebijakan dan kualitas pengelolaan ekonomi secara keseluruhan.
Menurutnya, investor memandang bahwa lingkungan investasi menjadi kurang kondusif ketika terdapat indikasi melemahnya tata kelola ekonomi. Hal ini pada akhirnya mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif, termasuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di pasar domestik.
“Pembukaan IHSG yang merah pagi ini dan sekarang semakin merah mencerminkan ketidakpercayaan investor. Investor memandang bahwa risiko investasi menjadi semakin tinggi ketika bank sentral tidak lagi independen dalam mengambil kebijakan,” kata Noval.
Independensi Bank Sentral Isu Sensitif
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi capital outflow atau pelarian modal. Investor global, menurutnya, sangat sensitif terhadap isu independensi bank sentral karena hal tersebut berkaitan langsung dengan stabilitas nilai tukar, inflasi, serta kepastian kebijakan jangka panjang.
“Potensi capital outflow meningkat karena investor melihat lingkungan investasi di Indonesia semakin tidak kondusif ketika perekonomian tidak dikelola dengan tata kelola yang baik,” ujar Noval.
Ia menambahkan, persepsi negatif pasar bisa berdampak lebih luas apabila tidak segera direspons dengan komunikasi kebijakan yang jelas dan meyakinkan. Kejelasan peran antara otoritas fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan ke depan.
Dalam situasi seperti ini, Noval menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi agar pasar tidak terus merespons dengan tekanan jual yang berkepanjangan. Tanpa upaya tersebut, fluktuasi pasar dikhawatirkan akan semakin tinggi dan membebani iklim investasi nasional.(*)