Logo
>

Konsumsi China Lesu, Sinyal Bahaya bagi Komoditas RI?

Penjualan ritel China turun 0,6 persen pada Mei 2026, menandai pelemahan konsumsi domestik di tengah tekanan sektor properti dan investasi.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Konsumsi China Lesu, Sinyal Bahaya bagi Komoditas RI?
Ilustrasi penurunan konsumsi ritel di China. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Penjualan ritel China turun untuk pertama kalinya dan menambah kekhawatiran terhadap kekuatan pemulihan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Melansir Reuters, Selasa, 16 Juni 2026, data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan penjualan ritel, yang menjadi indikator utama konsumsi rumah tangga, turun 0,6 persen secara tahunan pada Mei.

Angka tersebut berbalik dari kenaikan 0,2 persen pada April dan lebih rendah dibanding perkiraan pasar yang memperkirakan tidak ada pertumbuhan.

Penurunan tersebut menjadi yang pertama sejak Desember 2022 dan memperlihatkan melemahnya permintaan domestik di tengah perlambatan sektor properti yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

Reuters melaporkan, data terbaru menunjukkan pola pertumbuhan ekonomi China yang semakin tidak merata. Di satu sisi, sektor manufaktur masih ditopang ekspor yang relatif kuat. Namun di sisi lain, konsumsi rumah tangga dan investasi menunjukkan pelemahan.

Kondisi tersebut juga terlihat di sektor otomotif. Penjualan mobil domestik China mencatat penurunan selama delapan bulan berturut-turut hingga Mei, menandakan permintaan di pasar otomotif terbesar dunia masih berada di bawah tekanan.

Belanja masyarakat selama libur Hari Buruh pada Mei juga dinilai tidak terlalu kuat. Selain itu, dampak program tukar tambah barang konsumsi yang sebelumnya didorong pemerintah mulai memudar.

Reuters mengutip Jie'ao Feng, manajer sebuah bar di distrik keuangan Shanghai, yang mengatakan bisnisnya terdampak oleh menyusutnya anggaran hiburan perusahaan.

Untuk menarik lebih banyak pelanggan, ia menawarkan berbagai paket promosi kelompok meski langkah tersebut menekan margin usaha. "Para konsumen tidak lagi seimpulsif sebelumnya," kata Feng kepada Reuters, Selasa, 16 Juni 2026.

Produksi Industri Justru Menguat

Di tengah melemahnya konsumsi, produksi industri China tumbuh 4,5 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,1 persen pada April dan melampaui perkiraan pasar sebesar 4,3 persen.

Reuters melaporkan peningkatan investasi global pada teknologi kecerdasan buatan (AI) membantu menopang aktivitas manufaktur China. Output manufaktur teknologi tinggi tercatat meningkat 15,1 persen pada Mei.

Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, yang dikutip Reuters mengatakan ekonomi China saat ini menunjukkan sejumlah kesenjangan, mulai dari perbedaan antara permintaan domestik dan eksternal hingga kesenjangan antara industri berbasis AI dan sektor tradisional.

Menurut Xu, pertumbuhan ekonomi China berpotensi melambat menjadi sekitar 4,5 persen pada kuartal kedua tahun ini, dari 5 persen pada kuartal pertama.

Investasi dan Properti Masih Tertekan

Reuters juga melaporkan investasi aset tetap (fixed-asset investment) China turun 4,1 persen dalam lima bulan pertama 2026. Penurunan tersebut lebih dalam dibanding kontraksi 1,6 persen pada periode Januari-April dan lebih buruk dari perkiraan ekonom yang memperkirakan penurunan 2 persen.

Sektor properti masih menjadi sumber tekanan terbesar. Investasi properti turun 16,2 persen pada Januari-Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu, setelah sebelumnya turun 13,7 persen pada empat bulan pertama tahun ini.

Penjualan properti dan pembangunan proyek baru juga mencatat pelemahan yang lebih dalam. Sementara itu, harga rumah baru kembali turun pada Mei meski sejumlah kota besar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Bagi Indonesia, data ekonomi China menjadi perhatian karena negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar Indonesia sekaligus tujuan utama ekspor berbagai komoditas, termasuk batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO).

Meski ekspor masih menjadi penopang pertumbuhan China dalam jangka pendek, pelemahan konsumsi domestik dan investasi berpotensi menjadi faktor yang memengaruhi permintaan impor negara tersebut pada periode mendatang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.