Logo
>

MINA Turun ke 282, Spec Buy Mulai Dekat tapi Valuasi Masih Mahal

Harga MINA mendekati area spec buy 260–274, namun valuasi jauh di atas sektor dan kinerja keuangan masih menunjukkan tekanan.

Ditulis oleh Yunila Wati
MINA Turun ke 282, Spec Buy Mulai Dekat tapi Valuasi Masih Mahal
Rekomendasi speculative buy untuk MINA pada perdagangan hari ini mulai muncul, sayangnya valuasi masih terlalu mahal jika dibandingkan dengan emiten serupa lainnya. (Foto: dok Sanurhasta Mitra)

KABARBURSA.COM – Saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) pada perdagangan terbaru menunjukkan tekanan yang masih bertahan, dengan harga terkoreksi 2,08 persen ke level 282 di tengah volume yang cenderung menurun. 

Kondisi ini menempatkan MINA dalam fase yang relatif sepi dari sisi partisipasi, sekaligus mencerminkan bahwa tekanan yang terjadi tidak diikuti lonjakan transaksi yang signifikan.

Dalam konteks teknikal, posisi harga saat ini mulai mendekati area yang disebut sebagai zona spec buy di rentang 260 hingga 274. Artinya, koreksi yang terjadi bukan berdiri sendiri, tetapi bergerak menuju area yang secara historis dianggap sebagai titik reaksi harga. 

Dengan proyeksi wave yang menempatkan MINA pada bagian wave [iii] dari wave C, pergerakan saat ini berada dalam fase yang belum sepenuhnya selesai. Namun, mulai mendekati titik yang sering menjadi area pembalikan dalam struktur gelombang.

Tetapi, ketika ditarik ke sisi fundamental, gambaran yang muncul jauh lebih kompleks. Dari sisi valuasi, MINA menunjukkan angka yang sangat ekstrem dibandingkan emiten lain di sektornya. 

Price to Sales Ratio berada di level 322,99, jauh di atas rata-rata sektor 2,10, sementara Price to Book Value mencapai 11,64 dibandingkan sektor di kisaran 3,47. Pada saat yang sama, PER berada di level negatif yang sangat dalam, mencerminkan kondisi laba yang belum stabil.

Kondisi ini diperkuat oleh struktur profitabilitas yang tidak merata. Gross profit margin tercatat tinggi di 70,35 persen, namun tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih, dengan net profit margin berada di 55,92 persen dalam kuartalan. 

Di sisi lain, indikator efektivitas manajemen menunjukkan angka negatif, dengan ROA di -1,12 persen dan ROE di -1,17 persen, menandakan bahwa pengembalian terhadap aset dan ekuitas belum optimal.

Jika dibandingkan dengan emiten lain dalam tabel yang sama seperti PLAN, HOME, dan NUSA, MINA berada dalam posisi yang unik. PLAN menunjukkan struktur yang lebih stabil meskipun margin tipis, sementara HOME dan NUSA justru mencatat tekanan yang lebih dalam pada sisi profitabilitas. 

Namun, dari sisi valuasi, MINA terlihat paling “mahal” secara relatif, dengan rasio yang jauh melampaui rata-rata sektor maupun industri.

Dari sisi laporan laba rugi, pendapatan MINA tercatat Rp9 miliar dengan penurunan 42,15 persen secara tahunan pada kuartalan, sementara net income masih berada di posisi negatif Rp3 miliar. 

Tekanan ini juga tercermin pada arus kas operasional yang negatif Rp1 miliar, serta free cash flow yang juga berada di zona negatif. Artinya, secara operasional, arus kas belum sepenuhnya menopang aktivitas bisnis.

Kombinasi antara valuasi tinggi dan kinerja keuangan yang belum stabil menciptakan kontras dengan pendekatan teknikal yang mulai melihat adanya potensi reaksi di area bawah. 

Di sinilah dinamika MINA menjadi menarik, karena pergerakan harga lebih banyak didorong oleh sentimen teknikal dibandingkan fundamental yang masih dalam fase penyesuaian.

Dalam konteks rekomendasi perdagangan, posisi saat ini belum sepenuhnya masuk ke area spec buy yang ditetapkan di 260 hingga 274. Harga 282 masih berada di atas zona tersebut, sehingga pendekatan yang digunakan lebih condong pada menunggu konfirmasi penurunan lanjutan atau pembentukan basis di area bawah. 

Target harga di 310 hingga 340 tetap menjadi acuan, tetapi hanya relevan jika harga mampu bertahan dan membentuk pola penguatan dari zona akumulasi.

Secara keseluruhan, MINA berada di persimpangan antara tekanan fundamental dan peluang teknikal. Koreksi yang terjadi membuka ruang menuju area beli, tetapi belum sepenuhnya sampai pada titik tersebut. 

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah harga mampu mencapai dan bertahan di zona akumulasi, atau justru melanjutkan tekanan yang masih tersisa di pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79