KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia pada perdagangan Rabu, 22 April 2026 belum menunjukkan ada indikasi penurunan. Stabilnya harga minyak di angka yang tinggi ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan energi global.
Data Trading Economics menunjukkan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) tetap berada di atas USD90 per barel pada Rabu, setelah melonjak lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah terhentinya pembicaraan damai antara kedua negara serta terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana kunjungan ke Islamabad untuk negosiasi. Keputusan tersebut diambil setelah Teheran, melalui Pakistan, menyampaikan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.
Situasi semakin kompleks ketika Iran menyatakan tidak akan membuka kembali jalur Selat Hormuz selama Angkatan Laut AS masih melakukan pencegatan kapal. Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak global.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memutuskan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Ia menyebut kepemimpinan Teheran “sangat terpecah” dan menegaskan bahwa gencatan senjata akan tetap berlaku hingga Iran menyampaikan “proposal yang bersatu” untuk mengakhiri konflik.
Kendati demikian, konflik yang masih berlangsung telah mulai menekan keseimbangan pasar energi global. Gangguan pasokan diperkirakan mencapai 4 juta barel per hari dan berpotensi meningkat hingga 5 juta barel per hari, atau sekitar 5 persen dari total pasokan global. Kawasan Asia disebut akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Sejalan dengan itu, laporan Reuters pada 21 April 2026 menunjukkan harga Brent Crude Oil naik ke USD98,48 per barel, menguat USD3,00 atau 3,14 persen. Sementara WTI tercatat di USD92,13 per barel, naik USD2,51 atau 2,81 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar, terutama akibat kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi di Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, pasar minyak saat ini menghadapi tekanan dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Goldman Sachs sebelumnya mencatat harga Brent di kisaran USD94,75 per barel dan WTI USD90,98, serta menyoroti adanya “two-way risks” akibat ketidakpastian global.
Di sisi lain, kebijakan OPEC+ tetap menjadi faktor penyeimbang, dengan upaya menjaga stabilitas pasar melalui pengaturan produksi di tengah tekanan geopolitik.
Secara keseluruhan, tren harga minyak saat ini bergerak dalam kecenderungan bullish dengan volatilitas tinggi. Kenaikan harga didorong dominan oleh faktor geopolitik dan risiko pasokan, sementara potensi koreksi masih terbuka jika terjadi de-eskalasi konflik atau pemulihan distribusi energi global.(*)