KABARBURSA.COM - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memutuskan untuk membagikan dividen interim sebesar Rp20 per lembar saham, pada Juni 2026. Sekilas, angka ini mungkin terlihat mengecewakan, apalagi jika dibandingkan dengan dividen interim tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara Rp25 hingga Rp55 per saham.
Manajemen menjelaskan, penurunan nominal dividen interim kali ini bukan disebabkan oleh penurunan laba, tekanan bisnis, atau melemahnya kondisi keuangan perseroan. Ini merupakan bagian dari perubahan strategi distribusi dividen yang berpotensi membuat investor menerima arus kas lebih rutin sepanjang tahun.
Perseroan menjadwalkan pembayaran dividen interim termin pertama pada 26 Juni 2026 dengan nilai total mencapai Rp2,45 triliun atau Rp20 per saham.
Bagi investor yang ingin mendapatkan hak atas dividen tersebut, tanggal penting yang harus diperhatikan adalah cum date pasar reguler dan negosiasi pada 15 Juni 2026.
Dividen Interim dalam Tiga Termin
Ini kabar baiknya. Jika selama ini BBCA hanya membayarkan satu kali dividen interim setiap tahun, mulai tahun buku 2026 perusahaan berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun.
Pada tahun buku 2025, misalnya, BBCA membagikan dividen interim tunggal sebesar Rp55 per saham. Tahun sebelumnya sebesar Rp50 per saham, lalu Rp42,5 per saham pada 2023, Rp35 per saham pada 2022, dan Rp25 per saham pada 2021.
Jika hanya melihat angka Rp20 per saham saat ini, memang terlihat terjadi penurunan. Namun sebenarnya pembayaran tersebut baru merupakan termin pertama dari tiga tahap distribusi yang direncanakan sepanjang tahun.
Berdasarkan proyeksi yang berkembang di pasar, termin kedua dan ketiga berpotensi berada pada kisaran Rp20 hingga Rp27,5 per saham. Jika asumsi tersebut terealisasi, total dividen interim tahun ini dapat mencapai Rp60 hingga Rp75 per saham.
Angka tersebut bahkan berpotensi melampaui dividen interim tahun buku 2025 yang sebesar Rp55 per saham.
Di sinilah letak perubahan besar yang sedang dilakukan BBCA. Alih-alih memberikan satu pembayaran besar di akhir tahun, perseroan memilih mendistribusikan keuntungan secara lebih berkala.
Laba Kuartal I 2026 Rp14,7 Triliun
Tidak banyak emiten yang berani meningkatkan frekuensi pembayaran dividen apabila tidak memiliki keyakinan terhadap stabilitas laba di masa depan.
Dalam kasus BBCA, optimisme tersebut memiliki dasar yang cukup kuat.
Laba bersih perseroan pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp14,7 triliun. Kinerja tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa BBCA masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan yang konsisten seperti yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Rekam jejak dividen BBCA juga menunjukkan pola yang sangat menarik.
Setelah stock split pada 2021, total dividen tahunan BBCA terus meningkat dari Rp145 per saham pada tahun buku 2021 menjadi Rp155 per saham pada 2022, kemudian naik menjadi Rp270 per saham pada 2023, Rp300 per saham pada 2024, dan mencapai Rp336 per saham pada tahun buku 2025.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan dua hal sekaligus. Pertama, kemampuan perseroan menghasilkan laba yang terus meningkat. Kedua, komitmen manajemen untuk membagikan sebagian besar keuntungan kepada pemegang saham.
Hal itu terlihat dari dividend payout ratio (DPR) yang terus meningkat. Dari sekitar 62 persen pada tahun buku 2022, rasio tersebut naik menjadi lebih dari 68 persen pada 2023 dan mencapai sekitar 72 persen untuk laba tahun buku 2025.
Artinya, proporsi laba yang dibagikan kepada investor semakin besar.
Saham Anjlok 14,7 Persen, Dividen Yield jadi 0,39 Persen
Menariknya, perubahan kebijakan dividen ini hadir pada saat harga saham BBCA justru sedang mengalami tekanan.
Per 5 Juni 2026, harga saham BBCA berada di level Rp5.075 per saham, turun sekitar 14,7 persen dalam satu bulan terakhir. Penurunan harga saham tersebut secara otomatis membuat dividend yield menjadi lebih menarik.
Jika hanya menghitung pembayaran termin pertama sebesar Rp20 per saham, investor memperoleh yield sekitar 0,39 persen.
Namun gambaran yang lebih relevan adalah potensi dividend yield tahunan.
Dengan asumsi total dividen tahunan berada di kisaran Rp336 hingga Rp350 per saham, yield indikatif BBCA saat ini mencapai sekitar 6,6 persen.
Bagi saham bank berkapitalisasi besar dengan kualitas fundamental seperti BBCA, angka tersebut tergolong sangat menarik dibandingkan rata-rata historisnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.