KABARBURSA.COM – PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) mencatat lonjakan pendapatan sebesar Rp740,9 miliar sepanjang 2025 atau naik 96 persen dibandingkan Rp378,1 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah proses pemulihan kinerja operasional yang masih diwarnai rugi bersih.
Direktur Utama WMUU Ali Mas’adi menyampaikan peningkatan pendapatan tidak lepas dari kontribusi program MBG, khususnya pada produk karkas.
“Program MBG memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan, khususnya pada produk karkas. Perseroan mendukung program tersebut melalui kemitraan dengan UMKM yang terlibat, serta terus mengembangkan saluran distribusi market guna menjangkau pasar secara lebih luas di seluruh Indonesia,” ujarnya dalam Public Expose, dikutip Rabu, 8 April 2026.
Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang lonjakan penjualan segmen karkas yang meningkat hingga 132 persen secara tahunan. Peningkatan ini menjadi faktor utama di balik perbaikan kinerja operasional perusahaan.
Dari sisi profitabilitas, WMUU masih mencatat rugi bersih sebesar Rp83,3 miliar pada 2025. Namun angka ini membaik dibandingkan rugi Rp120,8 miliar pada 2024, atau berkurang sekitar 31 persen secara tahunan.
Direktur Keuangan WMUU Wahyu Andi Susilo menyebut perbaikan kinerja dipengaruhi efisiensi biaya. “Penurunan rugi bersih didorong oleh efisiensi biaya HPP serta pengendalian beban usaha,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Perbaikan juga terlihat pada EBITDA yang berbalik positif menjadi Rp20,4 miliar, dari posisi negatif Rp37,9 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara rugi kotor menyusut dari Rp54,7 miliar menjadi Rp12,8 miliar.
Dari sisi neraca, total aset tercatat Rp2,33 triliun atau turun sekitar 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekuitas juga menurun menjadi Rp777,9 miliar dari Rp857,7 miliar, sejalan dengan rugi bersih yang masih dibukukan.
Sementara itu, total liabilitas meningkat tipis menjadi Rp1,55 triliun dari Rp1,5 triliun. Kenaikan ini terutama berasal dari peningkatan beban akrual.
Ali Mas’adi menyampaikan bahwa strategi bisnis 2026 akan difokuskan pada penguatan sumber pendapatan baru. “Perseroan berencana meningkatkan populasi ayam petelur, dengan telur sebagai salah satu pendorong utama pendapatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa produk telur yang dikembangkan tidak langsung bersaing dengan peternak lokal. “Produk yang dihasilkan berupa telur bebas sangkar yang menyasar segmen menengah ke atas dengan nilai tambah melalui penerapan prinsip kesejahteraan hewan,” kata Ali.
Perseroan juga menyatakan tidak mengalokasikan tambahan belanja modal pada 2026 dan akan fokus pada optimalisasi fasilitas produksi yang telah tersedia.(*)