KABARBURSA.COM – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mendorong penguatan ketahanan energi nasional melalui pengembangan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Upaya ini dilakukan sebagai alternatif pengganti LPG berbasis sumber daya domestik. Langkah ini ditempuh di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional.
CEO/Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari percepatan proyek strategis nasional untuk memperkuat fondasi energi dan ekonomi Indonesia.
"Pengembangan DME di Tanjung Enim menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, yang saat ini masih mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional," paparnya dalam acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase II, Kamis, 29 April 2026.
Inisiatif ini dijalankan PTBA bersama Pertamina dengan tujuan menghadirkan sumber energi alternatif sekaligus meningkatkan nilai tambah batu bara dalam negeri.
Upaya tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita serta amanat Pasal 33 UUD 1945 terkait pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar pengembangan industri, melainkan bagian dari solusi terhadap tantangan energi nasional.
“Proyek ini juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat kedaulatan energi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Arsal.
Hal senada disampaikan Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto yang menilai pengembangan DME sebagai bagian dari transformasi bisnis perusahaan sekaligus proyek strategis nasional.
“Pengembangan DME merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, menghemat devisa, serta memperkuat industri domestik,” kata Turino.
Dari sisi holding, Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai tambah sumber daya mineral dan batu bara nasional.
"MIND ID akan terus mendorong sinergi antar anggota grup dan mitra strategis untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan optimal dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional" ujar Maroef.
Komisaris Utama MIND ID Fuad Bawazier menambahkan bahwa manfaat proyek DME tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga berdampak luas bagi negara.
"Proyek DME memberikan keuntungan yang besar bagi negara. Namun banyak keuntungan negara yang tidak dapat dicatat dalam pembukuan korporasi. Mudah-mudahan proyek ini bisa terwujud dan dijalankan sesuai target supaya kita bisa jadi negara yang mandiri energi dan pangannya," ujar Fuad.
Di tengah ketidakpastian global yang dipicu ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga energi, proyek hilirisasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain mengurangi ketergantungan impor, pengembangan DME juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri pendukung, serta peningkatan aktivitas ekonomi di daerah.(*)