Logo
>

UDNG, dari Enam Kolam jadi Emiten Triliunan: ini Sosok Inspiratifnya

Menjelang RUPS 17 Juni 2026, simak perjalanan UDNG, profil Direktur Utama Vincent Lukito, ekspansi bisnis udang Vannamei, serta pergerakan sahamnya dari harga IPO Rp100 hingga sempat menyentuh Rp5.700.

Ditulis oleh Yunila Wati
UDNG, dari Enam Kolam jadi Emiten Triliunan: ini Sosok Inspiratifnya
UDNG akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dengan sejumlah agenda penting. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Tidak banyak direktur utama perusahaan publik di Indonesia yang memulai bisnisnya dari nol, apalagi di usia muda. Membangun perusahaan hanya dengan enam kolam tambak dan lalu dalam beberapa tahun kemudian berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia. 

Vincent Lukito, sosok pendiri sekaligus Direktur Utama PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG). Kini, UDNG dikenal sebagai salah satu emiten sektor akuakultur yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada 17 Juni 2026, UDNG akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dengan sejumlah agenda penting. Selain mengesahkan laporan tahunan dan laporan keuangan tahun buku 2025, rapat juga akan membahas penggunaan laba bersih, penunjukan akuntan publik untuk tahun buku 2026, penetapan remunerasi direksi dan komisaris, hingga perubahan susunan pengurus perseroan. 

Agenda terakhir tersebut menjadi salah satu yang paling dinantikan investor, mengingat sosok Vincent Lukito selama ini identik dengan perjalanan dan pertumbuhan perusahaan.

Dari Enam hingga Produksi 400 Ton Udang

Vincent bukan sekadar eksekutif yang lahir dari keluarga konglomerasi tambak udang. Lulusan Victoria University, Australia, ini mengawali kariernya sebagai Project Manager di PT Indako Finance and Development. 

Pada 2019, ia melihat peluang besar di sektor budidaya udang Vannamei dan mendirikan PT Agro Bahari Nusantara di Bangka Belitung. Langkah tersebut terbilang berani. Berbekal enam kolam budidaya intensif, Vincent mengembangkan bisnis dengan pendekatan yang berbeda. 

Perseroan mengandalkan sains, statistik, dan analisis data dalam setiap proses produksi. Alhasil, perusahaan mampu menekan risiko gagal panen akibat penyakit maupun perubahan cuaca yang selama ini menjadi tantangan utama industri akuakultur.

Strategi itu membuahkan hasil. Dalam waktu singkat UDNG berhasil berkembang menjadi perusahaan dengan 14 kolam budidaya yang terdiri atas 10 kolam intensif dan empat kolam super intensif, dilengkapi tiga kolam tendon, empat kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta berbagai peralatan pendukung seperti aerator dan pompa modern. 

Sejak berdiri pada 2019, perusahaan telah memproduksi lebih dari 400 ton udang Vannamei untuk memenuhi kebutuhan ekspor maupun pasar domestik.

Melantai di Bursa Efek Indonesia

Kesuksesan operasional tersebut kemudian membawa UDNG melantai di Bursa Efek Indonesia pada 31 Oktober 2023. Vincent menjadi salah satu direktur utama termuda yang berhasil membawa perusahaan ke pasar modal sekaligus tetap mempertahankan statusnya sebagai pemegang saham pengendali. 

Berdasarkan keterbukaan informasi, Vincent memiliki 397,5 juta lembar saham atau sekitar 22,71 persen dari total saham perseroan, jumlah yang sama dengan kepemilikan Komisaris Utama Jose Loupiga Keliat.

Perjalanan saham UDNG sejak IPO menjadi salah satu cerita paling menarik di Bursa Efek Indonesia. Saat penawaran umum perdana, saham ini dilepas pada harga Rp100 per lembar. Dalam kurun waktu 2024 hingga awal 2026, harga saham UDNG mengalami lonjakan luar biasa hingga ribuan persen dan mencapai puncaknya di level Rp5.700 pada awal Januari 2026.

Reli tersebut dipicu oleh optimisme terhadap ekspansi perusahaan serta berbagai rumor pasar mengenai masuknya investor strategis. Namun setelah mencapai level tertinggi, saham UDNG mengalami koreksi tajam akibat aksi profit taking yang cukup besar. 

Harga Saham Terkini

Hingga perdagangan 15 Juni 2026, saham ini berada di level Rp1.410 atau menguat tipis 0,71 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Meski jauh di bawah level tertingginya, harga saat ini masih menunjukkan apresiasi lebih dari 1.300 persen dibandingkan harga IPO Rp100 per saham. Hal ini menjadikan UDNG sebagai salah satu saham dengan perjalanan paling volatil dalam beberapa tahun terakhir.

Pada perdagangan terakhir, saham UDNG dibuka di level Rp1.400 dan sempat bergerak hingga Rp1.480 sebelum ditutup di Rp1.410. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya upaya pemulihan setelah fase koreksi panjang, meski tekanan jual masih cukup terasa di pasar.

Struktur orderbook memperlihatkan kondisi yang relatif seimbang. Antrean beli terbesar berada di level Rp1.400 hingga Rp1.410, sementara sisi penawaran didominasi level Rp1.430 hingga Rp1.450. Total antrean beli tercatat sekitar 2.597 lot, sedangkan antrean jual mencapai sekitar 5.009 lot. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati sambil menunggu hasil RUPS serta arah kebijakan manajemen ke depan.

Di tengah volatilitas tersebut, Vincent Lukito memilih fokus pada fundamental perusahaan. Saat Bursa Efek Indonesia meminta klarifikasi terkait lonjakan harga saham yang ekstrem, manajemen menegaskan bahwa belum terdapat kesepakatan definitif mengenai penjualan saham pengendali kepada investor strategis. 

Perseroan juga memastikan seluruh kegiatan operasional tambak udang tetap berjalan normal dan ekspansi bisnis terus berlangsung sesuai rencana.

RUPS yang akan digelar 17 Juni nanti menjadi momentum penting bagi investor untuk melihat arah baru UDNG. Jika perusahaan kembali menunjukkan komitmen terhadap ekspansi berbasis teknologi dan mempertahankan efisiensi produksi, UDNG masih memiliki peluang untuk terus berkembang sebagai salah satu emiten akuakultur nasional yang dibangun oleh generasi muda dengan visi jangka panjang.

Perjalanan Vincent Lukito membuktikan bahwa inovasi dan keberanian mengambil risiko mampu mengubah enam kolam sederhana menjadi perusahaan publik bernilai triliunan rupiah. Kini, pasar menunggu babak berikutnya dari kisah tersebut, apakah UDNG mampu kembali membangun momentum seperti saat pertama kali menarik perhatian investor di Bursa Efek Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79