KABARBURSA.COM - Indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026 karena investor fokus terhadap negosiasi antara AS dan Iran.
Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin, atau 0,29 persen menjadi 51.712,71. Sementara itu, S&P 500 ditutup di level 7.472,79 atau koreksi atau 0,3 persen, pun dengan Nasdaq Composite yang 1,32 persen menjadi 26.166,60.
Adapun saham SpaceX anjlok 16,4 persen, ini merupakan penurunan harian terbesar dan sangat membebani Nasdaq Composite. Namun, saham yang dipimpin Elon Musk ini masih diperdagangkan di atas harga IPO sebesar USD135 per saham.
Optimisme tentang kecerdasan buatan telah mendukung reli Wall Street baru-baru ini, tetapi analis mencatat bahwa semakin banyak investor mempertanyakan pengeluaran besar-besaran untuk perluasan infrastruktur oleh perusahaan-perusahaan hyperscaler.
Alphabet ditutup turun lima persen sementara Meta, Amazon, dan Microsoft turun antara 2,3 persen hingga 4,7 persen.
Bill Northey, direktur investasi senior di US Bank mengatakan AI merupakan sektor yang sangat dipengaruhi oleh sentimen. Menurutnya, industri ini cenderung berdagang bersama setiap harinya.
"Namun jika kita melihat lebih jauh, beberapa fundamental terkuat ada di dalam ruang pembangunan pusat data AI. Itu termasuk baik penyedia layanan cloud skala besar (hyperscalers) maupun banyak komponen yang terlibat dalam pembangunan berkelanjutan tersebut." ujar dia.
Ujian selanjutnya di sektor saham ini adalah hasil kuartalan Micron Technology pada hari Rabu mendatang. Saham produsen chip memori ini telah naik hampir 300 persen di tahun ini.
Sementara itu, tujuh dari 11 sektor utama S&P ditutup lebih tinggi, dipimpin oleh saham real estat dan energi. Sektor Jasa Komunikasi tertinggal usai turun 3,8 persen.
Penutupan Wall Street juga tersengat sentimen positif AS dan Iran yang membuat harga minyak koreksi. Diketahui, harga minyak mentah Brent turun USD1,74, atau 2,16 persen menjadi USD78,83 per barel.
Bill Northey mengatakan, harga energi sedang menurun. Ia menilai kondisi ini berpotensi menjadi katalis bagi konsumen maupun bisnis.
"Di sisi lain, kita melihat kebijakan Federal Reserve yang sangat ketat di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dan hal itu membuat pasar percaya bahwa akan ada fokus yang lebih diprioritaskan untuk mengembalikan stabilitas harga dalam waktu dekat." ungkapnya.
Adapun, Reuters mencatat fokus pekan ini akan tertuju pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Kamis, 25 Juni 2026. Angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan moneter yang ketat dari Federal Reserve, setelah Warsh menggarisbawahi perlunya menekan inflasi pada pertemuan pekan lalu.
Saat ini, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari The Fed pada bulan September, menurut data LSEG. (*)