Logo
>

BlackRock: Investor Lebih Pilih Energi Ketimbang Big Tech untuk AI di 2026

Survei BlackRock menunjukkan fokus investasi AI global mulai bergeser dari raksasa teknologi ke sektor energi dan infrastruktur penopang data center.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
BlackRock: Investor Lebih Pilih Energi Ketimbang Big Tech untuk AI di 2026
Fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi milik Pertamina Geothermal Energy tampak beroperasi di kawasan hijau dengan semburan uap sebagai bagian dari proses produksi energi terbarukan. Panas bumi menjadi salah satu andalan Indonesia untuk memperkuat bauran energi bersih dan menopang kebutuhan listrik sektor industri serta data center. Foto: Dok. Pertamina.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — BlackRock masih percaya cerita besar kecerdasan buatan belum tamat. Namun memasuki 2026, cara bermainnya mulai berubah. Investor tidak lagi sekadar memburu saham raksasa teknologi Wall Street, melainkan mengalihkan radar ke sektor yang menopang kerja mesin AI itu sendiri.

    Dalam laporan Investment Directions, BlackRock memotret pergeseran minat investor global terhadap tema AI. Kecerdasan buatan memang masih dipandang sebagai mesin pertumbuhan, tetapi jalur investasinya kian melebar ke sektor energi dan infrastruktur.

    Survei yang dilakukan BlackRock terhadap kliennya di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika menunjukkan sinyal jelas. Dari 732 perusahaan yang disurvei, hanya sekitar seperlima yang menilai kelompok raksasa teknologi Amerika Serikat sebagai peluang investasi AI paling menarik.

    Sebaliknya, lebih dari separuh responden justru menjagokan penyedia listrik untuk pusat data. Sebanyak 37 persen lainnya menempatkan sektor infrastruktur sebagai pilihan utama dalam mengail keuntungan dari tema AI.

    Pergeseran ini muncul setelah sepanjang 2025 pasar global digerakkan oleh euforia saham teknologi besar. Nama-nama seperti Microsoft, Meta, dan Alphabet memimpin reli pasar seiring perlombaan bernilai triliunan dolar untuk membangun pusat data raksasa.

    Namun, ambisi besar itu juga membawa pertanyaan. Biaya modal yang melonjak, kebutuhan pembiayaan yang semakin mahal, serta ketidakpastian imbal hasil mulai membuat investor berpikir ulang.

    Energi dan Infrastruktur Naik Panggung

    Di balik kilau AI, ada kebutuhan energi yang terus membengkak. Pusat data membutuhkan pasokan listrik stabil dalam skala besar, sementara jaringan infrastruktur harus mampu menopang beban digital yang terus meningkat. Di sinilah investor melihat peluang yang lebih “nyata” dan terukur.

    “Ia semakin penting untuk mengelola risiko eksposur saham berkapitalisasi besar dan AI, sambil tetap menangkap peluang kenaikan yang berbeda,” ujar Kepala Ekuitas Inti Amerika Serikat BlackRock, Ibrahim Kanan, dikutip dari Reuters, Ahad, 1 Februari 2026.

    Pernyataan ini menandai perubahan nada. Jika sebelumnya AI identik dengan saham teknologi raksasa, kini narasinya bergeser ke fondasi fisik yang membuat kecerdasan buatan bisa berjalan tanpa henti.

    Menariknya, meski euforia mulai disaring, kekhawatiran akan gelembung AI relatif kecil. Hanya 7 persen responden survei BlackRock yang percaya bahwa tema AI saat ini merupakan gelembung pasar.

    Angka itu menunjukkan mayoritas investor masih yakin kecerdasan buatan akan menjadi pendorong utama ekonomi global. Hanya saja, mereka lebih selektif dalam memilih kendaraan investasinya.

    Alih-alih bertaruh besar pada satu-dua saham teknologi, investor mulai membagi risiko ke sektor yang lebih luas. Energi, jaringan listrik, hingga infrastruktur digital kini dipandang sebagai pintu masuk yang lebih seimbang untuk menikmati pertumbuhan AI di tahun-tahun mendatang.

    Dengan arah seperti ini, cerita AI belum selesai. Ia hanya berganti bab. Dari panggung utama saham teknologi, sorotan kini mengarah ke pemain-pemain di balik layar yang memastikan mesin kecerdasan buatan tetap menyala.

    Lonjakan Data Center dan Beban Baru Listrik Indonesia

    Di balik euforia AI dan ekonomi digital, Indonesia diam-diam sedang menghadapi perubahan besar pada fondasi infrastrukturnya. Salah satunya datang dari pertumbuhan data center yang jauh melampaui kapasitas saat ini.

    Dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas data center nasional diperkirakan melonjak dari sekitar 330 megawatt menjadi 1.155 megawatt, atau naik lebih dari 250 persen. Lonjakan ini bukan sekadar proyeksi di atas kertas, melainkan hasil akumulasi proyek yang sudah direncanakan, sedang dibangun, hingga dikomitmenkan oleh investor lokal maupun global.

    Sejumlah laporan industri bahkan mencatat bahwa kapasitas data center Indonesia telah mendekati 970 megawatt pada 2025, dengan laju pertumbuhan rata-rata 16,7 persen per tahun hingga 2030. Dalam skenario jangka panjang, kapasitas ini berpotensi menembus 2.110 megawatt atau 2,11 gigawatt pada akhir dekade.

    Pertumbuhan agresif ini mengubah posisi data center dari sekadar penunjang ekonomi digital menjadi sektor strategis dengan dampak sistemik, terutama terhadap konsumsi listrik nasional. Semakin banyak pusat data berdiri, semakin besar pula tekanan terhadap pasokan energi, terutama di wilayah-wilayah utama seperti Jabodetabek, Batam, dan Jawa bagian barat.

    Dari sisi ekonomi, nilainya pun tidak kecil. Berdasarkan catatan lembaga riset pasar, IMARC, pasar data center Indonesia, bernilai sekitar USD3,1 miliar atau setara Rp52,24 triliun pada 2025, dan berpotensi membengkak hingga USD8,4 miliar atau sekitar Rp141,54 triliun dalam satu dekade ke depan. Angka ini menegaskan bahwa data center bukan lagi infrastruktur pendukung, melainkan klaster ekonomi baru yang menjadi magnet investasi.

    Namun, di balik pertumbuhan itu, tantangan energi mulai muncul ke permukaan. Secara global, konsumsi listrik data center telah mencapai sekitar 415 terawatt-jam pada 2024 dan diproyeksikan melonjak menjadi 945 terawatt-jam pada 2030. Walau Indonesia belum merilis data resmi konsumsi listrik data center secara nasional, tren global dan kawasan Asia Tenggara menunjukkan arah yang sama. Permintaan energi dipastikan meningkat tajam seiring ekspansi kapasitas.

    Kondisi ini memaksa pemerintah berpikir lebih jauh. Bukan hanya soal menarik investasi digital, tetapi juga memastikan pasokan listrik tetap andal dan berkelanjutan. Di sinilah kebijakan energi terbarukan mulai relevan. Pemerintah menargetkan bauran energi hijau mencapai 23 persen, lalu naik bertahap hingga 31 persen dalam jangka panjang. Potensi panas bumi, air, dan surya mulai dilirik sebagai penopang konsep green data center.

    Contoh konkret sudah terlihat. Di Batam, proyek data center di Nongsa Digital Park memperoleh pembiayaan sekitar Rp6,92 triliun atau USD411 juta, dengan kapasitas sekitar 72 megawatt. Proyek ini saja diperkirakan menyumbang hampir 5 persen dari total kapasitas data center nasional beberapa tahun ke depan.

    Masuknya pemain global, termasuk rencana investasi besar di sektor cloud dan kecerdasan buatan, memperjelas satu hal. Masa depan AI di Indonesia bukan hanya soal algoritma dan chip, melainkan tentang kesiapan listrik, infrastruktur, dan kebijakan energi. Tanpa fondasi itu, ledakan teknologi justru bisa menjadi beban baru bagi sistem yang belum sepenuhnya siap.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).