KABARBURSA.COM - Aksi Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Lianawaty Suwono, yang memborong saham saat pasar berada dalam tekanan tajam menjadi salah satu peristiwa penting di tengah gejolak akhir Januari 2026. Transaksi ini terjadi bukan dalam kondisi pasar normal, melainkan saat sentimen domestik sedang rapuh akibat koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu trading halt dua hari berturut-turut pada 27–28 Januari 2026. Dalam situasi seperti itu, setiap pergerakan orang dalam emiten perbankan terbesar di Indonesia memiliki bobot psikologis yang besar bagi pelaku pasar.
Lianawaty tercatat membeli 300.000 saham BBCA pada 28 Januari 2026 dengan harga pelaksanaan Rp7.025 per saham. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp2,1 miliar. Momentum pembelian ini bertepatan dengan tekanan jual yang sangat kuat pada saham BBCA, di mana harga anjlok 6,33 persen dalam sehari.
Penurunan tersebut merupakan bagian dari koreksi pasar yang lebih luas, sejalan dengan pelemahan IHSG yang sempat menembus ambang batas penurunan lebih dari 8 persen dan memaksa otoritas bursa menerapkan penghentian perdagangan sementara.
Dari sisi struktur kepemilikan, transaksi ini tidak mengubah status pengendalian. Dalam keterbukaan informasi disebutkan bahwa Lianawaty bukan pemegang saham pengendali dan pembelian dilakukan untuk tujuan investasi dengan kepemilikan langsung.
Namun, justru di titik inilah makna pasar muncul. Aksi beli oleh direktur aktif di tengah tekanan ekstrem sering dibaca sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan, terutama ketika dilakukan pada fase harga tertekan dan volatilitas tinggi.
Pasca transaksi tersebut, kepemilikan saham Lianawaty meningkat dari 2.840.417 saham atau sekitar 0,0023 persen menjadi 3.140.417 saham atau setara 0,0025 persen. Secara persentase, porsi ini memang relatif kecil terhadap total saham beredar BBCA.
Tetapi, dalam konteks psikologis pasar, nominal dan timing pembelian jauh lebih relevan dibandingkan besaran kepemilikan akhir. Pasar cenderung memperhatikan keberanian manajemen menambah eksposur justru ketika risiko persepsi sedang tinggi.
Pergerakan harga saham BBCA setelah transaksi tersebut memperlihatkan perubahan arah yang cukup jelas. Sebelumnya, pada Selasa 27 Januari 2026, saham BBCA sudah terkoreksi 1,96 persen ke level Rp7.500. Tekanan berlanjut keesokan harinya dengan penurunan lebih dalam sebesar 6,33 persen hingga ditutup di Rp7.025, level yang menjadi titik masuk pembelian Lianawaty.
Setelah fase tekanan ini, saham BBCA mulai menunjukkan pemulihan. Pada Kamis 29 Januari 2026, harga rebound 2,49 persen ke Rp7.200, lalu berlanjut menguat 2,78 persen ke Rp7.400 pada Jumat 30 Januari 2026.
Rangkaian rebound dua hari beruntun ini terjadi seiring dengan stabilisasi pasar secara umum pasca trading halt, namun tidak bisa dilepaskan dari faktor internal emiten. BBCA dikenal sebagai saham perbankan berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi dan basis investor institusional yang kuat.
Ketika tekanan pasar mereda, saham dengan profil defensif dan fundamental solid cenderung menjadi tujuan awal arus beli. Dalam konteks ini, aksi beli direktur di area bawah berpotensi memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa koreksi yang terjadi lebih bersifat sentimen makro dan teknikal, bukan refleksi pelemahan kinerja perusahaan.
Dari perspektif dinamika harga, level Rp7.025 menjadi titik penting karena berfungsi sebagai area pantulan setelah tekanan ekstrem. Rebound ke Rp7.400 dalam dua hari mencerminkan pemulihan sekitar 5,3 persen dari level terendah tersebut.
Meski belum sepenuhnya menghapus koreksi sebelumnya, pergerakan ini menunjukkan bahwa minat beli kembali muncul relatif cepat setelah pasar menemukan keseimbangan baru. Dalam kondisi volatil seperti itu, aksi orang dalam sering kali berperan sebagai katalis kepercayaan, meskipun bukan satu-satunya faktor penggerak harga.
Secara keseluruhan, aksi Lianawaty Suwono membeli saham BBCA di tengah anjloknya harga mencerminkan dinamika klasik pasar saham: tekanan ekstrem diikuti oleh masuknya pembeli pada level bawah, lalu direspons oleh pemulihan harga ketika sentimen mulai membaik.
Dalam konteks BBCA, kombinasi antara stabilisasi pasar, karakter defensif saham perbankan besar, dan sinyal kepercayaan dari manajemen menjadi rangkaian yang mendorong terjadinya rebound harga dalam waktu relatif singkat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.