KABARBURSA.COM — Di tengah ledakan kebutuhan listrik akibat ekspansi kecerdasan buatan dan pusat data, raksasa utilitas listrik Amerika Serikat mulai melirik kembali sumber energi nuklir yang sempat dianggap masa lalu. Salah satunya adalah NextEra Energy, yang kini membuka opsi memperluas armada pembangkit nuklirnya demi menopang lapar listrik data center.
Perusahaan listrik terbesar di Amerika Serikat itu mengungkapkan tengah melakukan pembicaraan lanjutan untuk memasok tambahan kapasitas hingga 9 gigawatt listrik ke pusat-pusat data. Angka tersebut setara dengan kebutuhan listrik beberapa kota besar sekaligus. Ini mencerminkan betapa agresifnya pertumbuhan industri digital berbasis server di Negeri Paman Sam.
Data Center Mengubah Peta Energi
Lonjakan permintaan listrik dari perusahaan teknologi raksasa telah mengubah lanskap energi Amerika. Data center untuk kecerdasan buatan dan komputasi awan kini menjadi mesin utama peningkatan konsumsi listrik, memaksa perusahaan utilitas mencari sumber pasokan yang stabil, bersih, dan berjangka panjang.
Dalam beberapa kasus, tekanan tersebut bahkan memicu kebangkitan pembangkit nuklir yang sebelumnya telah ditutup. Tahun lalu, NextEra mengumumkan rencana menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Duane Arnold di Iowa, khusus untuk melayani pusat data milik Google.
Langkah itu menjadi sinyal bahwa energi nuklir kembali masuk perhitungan, bukan sekadar sebagai sumber listrik, melainkan sebagai fondasi ekonomi digital.
Dalam paparan kepada investor, NextEra menyebut memiliki ruang untuk menambah sekitar 6 gigawatt kapasitas nuklir baru di lokasi pembangkit yang sudah ada. Selain itu, perusahaan juga mempertimbangkan pembangunan pembangkit nuklir generasi baru di lokasi baru, termasuk teknologi nuklir canggih yang lebih efisien dan modular.
Ambisi tersebut berjalan seiring dengan kinerja keuangan perusahaan yang relatif solid. Pada kuartal keempat, NextEra berhasil melampaui tipis ekspektasi Wall Street, ditopang oleh pertumbuhan stabil utilitasnya di Florida serta rekor penambahan proyek energi terbarukan dan penyimpanan baterai.
Kondisi ini mencerminkan realitas baru industri energi, ketika nuklir, terbarukan, dan baterai tidak lagi diposisikan sebagai pilihan yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
Tekanan terhadap sistem kelistrikan Amerika diperkirakan belum akan mereda. Badan Informasi Energi Amerika Serikat memproyeksikan konsumsi listrik nasional akan menembus rekor tertinggi baru pada 2026. Pemicunya bukan hanya pusat data AI dan kripto, tetapi juga pergeseran rumah tangga dan bisnis dari bahan bakar fosil menuju listrik untuk pemanas dan transportasi.
Di Florida, wilayah operasi utama NextEra, minat dari pelaku data center bahkan terbilang masif. Perusahaan mencatat sekitar 20 gigawatt calon pelanggan pusat data yang ingin terhubung ke sistem mereka. Hampir separuhnya telah masuk tahap pembicaraan lanjutan, dengan potensi mulai beroperasi sebelum 2028.
Manajemen perusahaan menyebutkan bahwa sejumlah pengumuman terkait proyek-proyek tersebut diperkirakan akan muncul sepanjang 2026, mengikuti minat yang mereka lihat langsung di lapangan.
Mesin Laba dari Utilitas dan Energi Terbarukan
Dari sisi kinerja, unit utilitas Florida Power & Light mencatat laba bersih sebesar USD958 juta atau sekitar Rp16,14 triliun, tumbuh 13,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, ditopang oleh peningkatan belanja modal.
Sementara itu, lengan energi terbarukan perusahaan, NextEra Energy Resources, menambah sekitar 13,5 gigawatt proyek pembangkit dan penyimpanan baterai ke dalam daftar proyeknya sepanjang 2025, termasuk 3,6 gigawatt sejak paparan kuartal ketiga. Total backlog proyek unit ini kini mendekati 30 gigawatt.
Segmen tersebut membukukan laba bersih kuartalan sebesar USD545 juta atau sekitar Rp9,18 triliun, berbalik arah dari rugi USD442 juta atau sekitar Rp7,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Prospek Jangka Panjang Masih Terjaga
NextEra mempertahankan proyeksi laba 2026 di kisaran USD3,92 hingga USD4,02 per saham, setara dengan sekitar Rp66.052 hingga Rp67.737 per saham. Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan laba disesuaikan sebesar minimal 8 persen per tahun hingga 2032, dengan pertumbuhan dividen sekitar 10 persen per tahun hingga 2026.
Untuk kuartal yang berakhir 31 Desember, NextEra mencatat laba disesuaikan sebesar USD0,54 per saham atau sekitar Rp9.099, sedikit di atas ekspektasi analis sebesar USD0,53 per saham atau sekitar Rp8.930.
Di tengah tekanan transisi energi dan lonjakan kebutuhan listrik, strategi NextEra menunjukkan bagaimana energi nuklir, yang sempat ditinggalkan, kini kembali naik panggung sebagai solusi jangka panjang bagi era kecerdasan buatan dan ekonomi digital.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.