KABARBURSA.COM — Amerika Serikat kembali menunjukkan wajah kontradiktif dalam konflik dengan Iran. Setelah melontarkan ancaman keras yang bisa menghancurkan negara, Presiden AS Donald Trump justru menarik langkah di detik-detik terakhir dan menyepakati gencatan senjata dua pekan.
Keputusan itu diambil kurang dari dua jam sebelum tenggat ultimatum yang sebelumnya ditebar sendiri oleh Trump. Dalam ancaman tersebut, Iran diminta menyerah atau menghadapi serangan besar yang menyasar infrastruktur vital.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah kembali lagi,” kata Trump dalam pernyataan sebelumnya, dikutip dari AP, Rabu, 8 April 2026.
Ancaman itu langsung menuai kecaman luas. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut tidak hanya berlebihan, tetapi juga mengabaikan potensi korban sipil.
Namun di tengah tekanan global, arah kebijakan AS berubah mendadak. Trump memilih meredakan konflik dan membuka ruang negosiasi, setelah sebelumnya justru menjadi pihak yang memicu eskalasi bersama Israel sejak Februari.
Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyatakan menerima gencatan senjata dan siap berunding dengan Amerika Serikat di Pakistan. Meski demikian, waktu pasti dimulainya gencatan belum diumumkan, dan serangan masih terjadi di sejumlah wilayah pada hari berikutnya.
Perubahan sikap Washington ini memperlihatkan pola yang berulang. Ancaman dilontarkan dengan keras, tetapi kemudian ditarik sebelum benar-benar dijalankan.
Trump sendiri mengakui keputusan itu diambil setelah komunikasi dengan pihak Pakistan. Ia menyebut sebagian besar poin kesepakatan sebenarnya sudah tercapai. “Hampir semua poin perselisihan sebelumnya antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati,” ujarnya.
Namun situasi di lapangan tetap jauh dari stabil. Iran menegaskan sejumlah syarat utama untuk mengakhiri konflik, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Di sisi lain, kontrol Iran atas Selat Hormuz masih menjadi faktor kunci. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan minyak dunia, dan sejak konflik pecah, Iran membatasi lalu lintas kapal yang melintas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan akses tetap dibuka, tetapi berada di bawah kendali militer Iran. Dalam skema yang dibahas, Iran bersama Oman bahkan akan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas, dengan dana tersebut akan digunakan untuk rekonstruksi.
Langkah ini menunjukkan bahwa meski ditekan secara militer, Iran masih memiliki leverage ekonomi yang signifikan terhadap pasar global. Sementara itu, di dalam negeri Iran, kemarahan publik terhadap Amerika Serikat tetap tinggi. Demonstrasi besar terjadi di Teheran dengan seruan keras terhadap AS dan Israel.
“Kematian untuk Amerika, kematian untuk Israel, kematian untuk para kompromis!” teriak massa di jalanan ibu kota.
Gelombang protes ini mencerminkan bahwa konflik tidak hanya soal militer, tetapi juga menyentuh sentimen nasional dan politik dalam negeri. Di tingkat internasional, tindakan AS juga menuai kritik tajam. Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut ancaman Trump sebagai tindakan yang berbahaya.
“Ini merupakan hasutan terhadap kejahatan perang dan berpotensi genosida,” ujarnya.
Ia menegaskan Iran siap merespons secara proporsional jika serangan benar-benar dilakukan. Sejak awal, konflik ini memang dipicu oleh serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran dengan serangkaian aksi yang memperluas ketegangan di kawasan.
Meski memiliki keterbatasan dalam teknologi militer dibanding AS, Iran memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz untuk menekan ekonomi global. Dampaknya langsung terasa pada harga energi dan stabilitas pasar internasional.
Kini, gencatan senjata dua pekan hanya menjadi jeda sementara di tengah konflik yang belum sepenuhnya selesai. Sikap Amerika Serikat yang berubah-ubah justru menambah ketidakpastian, sekaligus memperlihatkan bahwa tekanan global mulai membatasi ruang manuver Washington.
Di satu sisi, AS tampil agresif dengan ancaman ekstrem. Di sisi lain, langkah mundur di menit akhir menunjukkan bahwa konflik ini tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh kekuatan militer semata.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.