KABARBURSA.COM — Di balik derasnya pembangunan infrastruktur nasional, ada sisi lain yang mulai terlihat jelas di laporan keuangan. Investor BUMN karya justru menanggung tekanan paling besar.
Data laporan keuangan full year 2025 menunjukkan total kerugian enam emiten karya mencapai sekitar Rp27,21 triliun. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga menggambarkan masalah yang sudah menyebar di seluruh ekosistem, dari induk hingga anak usaha.
Kerugian terbesar datang dari PT Wijaya Karya Tbk atau WIKA yang mencapai Rp9,71 triliun. Disusul PT PP (Persero) Tbk atau PTPP Rp6,08 triliun, lalu PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI Rp5,40 triliun, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk atau WSKT Rp3,93 triliun. Sementara itu, PT PP Presisi Tbo atau PPRE mencatat rugi Rp1,46 triliun dan WEGE Rp630,36 miliar.
Researcher Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, melihat masalah ini bukan hanya siklus bisnis yang sedang lemah. “Ini lebih mirip krisis model bisnis dan kualitas aset, bukan sekadar siklus lemah sementara,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.
Menurut dia, akar persoalan ada pada kombinasi proyek bermargin tipis, pembayaran yang lambat, serta beban utang yang terus menekan. Dalam kondisi seperti ini, laba negatif bukan satu-satunya masalah. “Masalah paling berat bukan sekadar laba negatif, tapi arus kas,” ujarnya.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika pendapatan tercatat, tetapi kas belum benar-benar diterima. Perusahaan terlihat menghasilkan, tetapi likuiditas tetap tertekan.
Akibatnya, ruang gerak semakin sempit. Ketergantungan pada restrukturisasi utang meningkat, dan dampaknya merembet ke vendor, subkontraktor, hingga perbankan.
Di titik ini, narasi pembangunan mulai berhadapan dengan realitas pasar modal. “Tumbal pembangunan nasional sering kali justru investor BUMN Karya,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan paradoks yang terjadi. Negara mendapatkan infrastruktur seperti jalan tol, bendungan, dan pelabuhan. Namun di sisi lain, investor harus menghadapi saham yang tertekan, laba yang melemah, serta utang yang terus membengkak.
Di atas kertas, proyek tetap berjalan. Tetapi di pasar, nilai perusahaan justru terkikis. Masalah ini tidak berdiri sendiri. Pola bisnis lama disebut menjadi akar persoalan yang terus berulang.
“BUMN Karya dipaksa agresif mengejar proyek besar dengan margin tipis, pembayaran lama, kebutuhan modal kerja tinggi, lalu dibiayai utang,” kata Skydrugz27.
Ketika proyek mengalami keterlambatan atau pembayaran tersendat, tekanan langsung muncul di sisi bunga utang. Beban tetap berjalan, sementara kas belum masuk.
Dampaknya terlihat pada laporan keuangan yang semakin tertekan. Ekuitas menyusut, rights issue berulang, hingga restrukturisasi utang menjadi jalan keluar jangka pendek.
Dalam kondisi seperti ini, investor berada di posisi paling rentan. Nilai kepemilikan mereka terdilusi, sementara perbaikan fundamental belum sepenuhnya terlihat. “Selama pembangunan dikejar tanpa disiplin profit, kualitas kas, dan return yang sehat, investor BUMN Karya memang seperti pihak yang disuruh berkorban lebih dulu,” katanya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.