KABARBURSA.COM – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sedang berada dalam fase yang tidak nyaman. Setelah resmi dikeluarkan dari indeks MSCI, saham milik grup Sinarmas itu kini kembali menerima pukulan baru ditendang dari FTSE Russell.
FTSE Russell dalam pengumuman Quarterly Review Mei 2026 menetapkan DSSA keluar dari kategori Large Cap. Perubahan tersebut efektif berlaku pada 22 Juni 2026 dengan tanggal rebalancing pada 19 Juni mendatang.
Pasar langsung menangkap sinyal itu sebagai tekanan tambahan.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham DSSA bergerak seperti kehilangan pijakan. Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, DSSA ambruk 10,66 persen atau turun 65 poin ke level 545. Padahal, saham sempat dibuka di level 600 dan bergerak di rentang 530 hingga 615 sepanjang hari.
Jika ditarik selama sepekan, koreksinya jauh lebih brutal. Pada 18 Mei, DSSA masih diperdagangkan di level 880. Kini sahamnya tinggal 545. Artinya, dalam empat hari perdagangan saja DSSA sudah longsor sekitar 335 poin atau ambles hampir 38 persen.
Tekanan jual terlihat sangat konsisten. Pada 18 Mei, saham jatuh 14,98 persen. Sehari berikutnya turun lagi 14,77 persen. Lalu melemah 5,33 persen pada 20 Mei, disusul koreksi 14,08 persen pada 21 Mei, sebelum kembali ditutup merah lebih dari 10 persen pada akhir pekan.
Artinya, hampir setiap hari DSSA berada dalam tekanan distribusi. Yang paling mencolok adalah arus dana asing.
Sepanjang lima hari terakhir, asing tercatat tidak pernah membukukan net buy harian. Semua perdagangan ditutup dengan net foreign sell.
Pada 18 Mei, asing melepas Rp68,11 miliar. Tekanan meningkat menjadi Rp83,06 miliar pada 19 Mei. Lalu bertambah lagi Rp113,68 miliar pada 20 Mei.
Aksi jual terbesar terjadi pada 21 Mei ketika net foreign sell DSSA mencapai Rp119,29 miliar. Bahkan saat saham sudah jatuh dalam, asing masih kembali mencatat net sell Rp14,73 miliar pada 22 Mei.
Jika ditotal, dalam lima hari perdagangan terakhir asing sudah membuang sekitar Rp398,87 miliar dari saham DSSA.
Orderbook DSSA pada perdagangan terakhir juga memperlihatkan situasi yang belum nyaman. Di sisi bid, total antrean beli hanya sekitar 164 ribu lot. Sementara antrean offer mencapai hampir 420 ribu lot.
Lapisan offer juga menumpuk tebal mulai dari level 550 hingga 595. Di harga 560 saja terdapat antrean jual lebih dari 68 ribu lot. Sedangkan di sisi bawah, bid terbesar hanya terlihat di area 520 dengan sekitar 80 ribu lot.
Ketika saham dikeluarkan dari MSCI maupun FTSE Russell, konsekuensinya bukan sekadar hilangnya status prestise. Banyak dana kelolaan global berbasis indeks otomatis harus melakukan penyesuaian portofolio.
Akibatnya, saham berpotensi mengalami tekanan likuiditas dan distribusi besar dalam waktu singkat.
Apalagi DSSA selama ini dikenal memiliki struktur harga yang agresif dengan pergerakan volatil dan free float relatif terbatas.
Nilai transaksi DSSA sepanjang pekan juga menunjukkan aktivitas yang masih sangat panas. Pada 19 Mei misalnya, transaksi mencapai Rp352,33 miliar dengan volume lebih dari 4,44 juta lot.
Frekuensi transaksi juga konsisten tinggi di kisaran 20 ribu hingga 35 ribu kali per hari.
Artinya, meski saham jatuh dalam, pasar belum benar-benar sepi. Yang terjadi justru perpindahan barang dalam ukuran besar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.