KABARBURSA.COM — Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memberi secercah harapan bagi pasar energi global yang selama ini tertekan. Namun, di balik euforia awal, pemulihan pasokan minyak dan gas diperkirakan tidak akan berjalan cepat.
Peneliti energi sekaligus kolumnis Reuters, Ron Bousso, menilai kesepakatan ini lebih bersifat sementara ketimbang solusi permanen.
“Gencatan senjata dalam perang Iran akan memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan bagi ekonomi yang terpukul oleh krisis energi terburuk di dunia, tetapi harapan bahwa gencatan ini akan segera memulihkan aliran minyak dan gas dari Timur Tengah hampir pasti keliru,” tulis Ron Bousso, dikutip dari Reuters, Kamis, 9 April 2026.
Kesepakatan gencatan selama dua pekan yang disetujui Presiden Amerika Serikat Donald Trump bergantung pada satu syarat utama, yakni Iran menghentikan blokade Selat Hormuz. Jalur ini selama ini menjadi nadi perdagangan energi global, dengan kontribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Iran sendiri menyatakan siap menghentikan serangan balasan dan menjamin keamanan pelayaran. Namun situasi di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Tak lama setelah pengumuman, serangan masih terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi ini menegaskan bahwa kesepakatan tersebut masih rapuh dan jauh dari stabil.
Pasar keuangan memang merespons positif. Indeks saham global menguat, sementara harga minyak turun signifikan. Namun, menurut Bousso, respons ini lebih didorong oleh ekspektasi jangka pendek dibanding perubahan fundamental.
Produksi dan Distribusi Belum Pulih
Salah satu dampak langsung dari gencatan adalah potensi keluarnya pasokan energi yang selama ini tertahan di kawasan Teluk.
Data menunjukkan sekitar 130 juta barel minyak mentah dan 46 juta barel bahan bakar berada di kapal tanker yang belum bisa bergerak. Selain itu, sekitar 1,3 juta ton gas alam cair juga masih tertahan menunggu jalur aman.
Volume ini berpotensi meredakan tekanan pasar dalam waktu dekat, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Namun, masalahnya tidak berhenti pada sekadar membuka jalur distribusi. Tantangan utama justru ada pada kepercayaan pelaku industri pelayaran.
Banyak pemilik kapal masih ragu untuk kembali masuk ke kawasan konflik. Risiko kapal terjebak atau kembali menjadi target serangan membuat aktivitas pengiriman belum sepenuhnya pulih.
Di sisi produksi, situasinya lebih kompleks lagi. Selama konflik berlangsung, ekspor minyak dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz turun drastis hingga sekitar 13 juta barel per hari.
Penurunan ini memaksa produsen besar memangkas produksi dalam skala besar. Diperkirakan sekitar 7,5 juta barel per hari produksi dihentikan, termasuk dari Irak dan Arab Saudi.
Menurut Bousso, pemulihan produksi tidak bisa dilakukan secara instan.
“Memulai kembali ladang minyak, terutama dalam skala besar seperti di Timur Tengah, adalah proses yang kompleks dan memakan waktu, yang bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu,” catatnya.
Selain itu, banyak infrastruktur energi mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone. Perbaikan fasilitas ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Keterbatasan peralatan dan tenaga kerja juga menjadi hambatan tambahan yang memperlambat pemulihan.
Bahkan dalam skenario terbaik, yakni tercapainya perdamaian permanen, dampak perang diperkirakan tetap membekas pada pasar energi global. Bousso menilai ketegangan ini akan meninggalkan efek jangka menengah yang signifikan terhadap keseimbangan pasokan.
“Tanpa kesepakatan damai yang lebih kuat, gencatan senjata dua minggu ini berisiko tidak lebih dari sekadar tambalan jangka pendek dalam krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.
Artinya, meski gencatan senjata mampu meredakan tekanan dalam jangka pendek, pasar energi masih akan menghadapi fase ketidakpastian dalam waktu yang lebih panjang.
Di titik ini, pasar tidak lagi hanya menunggu berakhirnya konflik, tetapi juga menguji seberapa cepat dunia energi bisa benar-benar pulih dari guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.