Logo
>

Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Konflik Timteng Tekan Rantai Pasok Global

Kenaikan harga plastik di Jakarta dipicu gangguan pasokan global akibat konflik Iran, dengan ketergantungan impor bahan baku mencapai 60 persen.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Konflik Timteng Tekan Rantai Pasok Global
Harga plastik di Jakarta naik hingga 40 persen akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global bahan baku petrokimia. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga plastik di Jakarta dalam beberapa pekan terakhir tidak berdiri sebagai fenomena lokal semata. Di balik kenaikan hingga puluhan persen, terdapat tekanan global pada rantai pasok bahan baku yang bersumber dari kawasan Timur Tengah.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta mencatat, kenaikan harga plastik mulai terjadi sejak akhir Maret 2026, bertepatan dengan memanasnya konflik geopolitik di Iran.

“Berdasarkan pemantauan dan temuan kami di lapangan, kenaikan harga plastik ini terjadi sejak akhir Maret 2026 bersamaan dengan pecahnya konflik geopolitik di Iran, dan berlanjut hingga awal April 2026 ini,” demikian disampaikan dalam siaran pers resmi, Sabtu, 11 April 2026.

Secara umum, harga plastik di Jakarta naik di kisaran 30 persen hingga 40 persen. Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada satu jenis produk, melainkan merata pada hampir seluruh kategori plastik yang digunakan pelaku usaha sehari-hari.

Dari hasil pemantauan, kantong kresek mengalami kenaikan sekitar 40 persen menjadi Rp17.000 per pak. Plastik kemasan makanan dan minuman berbahan PET naik sekitar 35 persen menjadi Rp22.000 per pak. Sementara plastik jenis PE meningkat sekitar 30 persen menjadi Rp21.000 per pak.

Jika ditarik lebih rinci, data lapangan menunjukkan variasi kenaikan antarwilayah. Di Jakarta Barat, harga kantong kresek tercatat mencapai Rp19.383 per pak dari sebelumnya Rp13.342. Plastik PET naik menjadi Rp24.600 dari Rp16.875, sementara plastik PE melonjak hingga Rp36.733 dari Rp24.908.

Rata-rata harga di lima wilayah Jakarta menunjukkan pola kenaikan serupa. Kantong kresek naik dari Rp11.627 menjadi Rp17.273 per pak. Plastik PET meningkat dari Rp15.771 menjadi Rp22.159, sedangkan plastik PE dari Rp16.048 menjadi Rp21.993 per pak.

Kenaikan ini mengindikasikan tekanan tidak hanya pada sisi harga, tetapi juga distribusi. Dalam rilis tersebut disebutkan bahwa fluktuasi harga mengikuti ketersediaan barang di pasar, menandakan adanya gangguan pasokan.

“Secara umum, kenaikan harga plastik di Jakarta berada pada kisaran 30% hingga 40 persen,” tulis Dinas PPKUKM.

Secara struktural, tekanan ini berakar dari ketergantungan industri plastik terhadap bahan baku global. Industri plastik nasional masih bergantung pada impor resin, yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.

“Dapat kami sampaikan bahwa kenaikan harga plastik ini lebih disebabkan struktur industri plastik global yang masih sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah,” demikian dijelaskan dalam rilis tersebut.

Ketergantungan ini menjadi krusial karena wilayah Timur Tengah merupakan pusat produksi petrokimia dunia. Resin seperti polyethylene, polypropylene, PET, dan polystyrene yang menjadi bahan dasar plastik diproduksi dari minyak dan gas di kawasan tersebut.

Ketika konflik terjadi, terutama dengan gangguan distribusi seperti penutupan jalur strategis, rantai pasok global langsung terdampak.

“Konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz, turut mengganggu rantai pasok global pada produk plastik,” tulis Dinas PPKUKM.

Di sisi domestik, kapasitas produksi belum mampu sepenuhnya menutup kebutuhan. Produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan bahan baku plastik, sementara sisanya sekitar 60 persen masih bergantung pada impor.

Kondisi ini menjadikan harga plastik di dalam negeri sangat sensitif terhadap dinamika global, khususnya harga energi dan stabilitas geopolitik.

Bagi pelaku usaha, terutama UMKM di sektor makanan dan minuman, tekanan ini berpotensi langsung meningkatkan biaya operasional. Plastik kemasan yang selama ini menjadi kebutuhan harian sulit digantikan dalam waktu singkat.

Pemerintah daerah pun mengakui bahwa ruang intervensi harga relatif terbatas. Namun, langkah stabilisasi tetap disiapkan melalui penguatan pengawasan distribusi dan koordinasi dengan pelaku usaha.

“Kami juga akan memperkuat monitoring harga di tingkat pasar dan distributor untuk memastikan tidak terjadi lonjakan yang tidak wajar,” tulis Dinas PPKUKM.

Dalam konteks yang lebih luas, lonjakan harga plastik ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat menjalar hingga ke sektor konsumsi sehari-hari. Ketergantungan pada rantai pasok global membuat komoditas sederhana seperti plastik kemasan menjadi rentan terhadap gangguan eksternal.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas harga di tingkat lokal tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor domestik, melainkan juga oleh dinamika global yang berada di luar kendali pasar dalam negeri.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).