KABARBURSA.COM – HSBC Indonesia resmi meluncurkan layanan HSBC TradeCash.
HSBC TradeCash merupakan layanan trade finance digital yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh modal kerja secara cepat dengan mengunggah faktur penjualan (invoice) melalui platform HSBCnet.
Melalui TradeCash, HSBC Indonesia mengklaim jika nasabah yang memenuhi kriteria dapat mencairkan pendanaan dalam hitungan menit, atau setelah data dan informasi yang dibutuhkan disetujui.
Skema tersebut memungkinkan perusahaan mengakses likuiditas tanpa harus menunggu siklus pembayaran pelanggan yang umumnya berlangsung 30 hari atau lebih.
HSBC Indonesia menilai, peluncuran HSBC TradeCash dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan modal kerja akibat tekanan likuiditas global, kenaikan biaya operasional, hingga ketidakpastian ekonomi yang dipicu gejolak geopolitik dan perang tarif.
HSBC menilai, gejolak geopolitik dan perang tarif telah meningkatkan risiko keterlambatan pengiriman barang serta mendorong kenaikan harga, sehingga memperbesar kebutuhan dunia usaha terhadap pembiayaan.
Meski demikian, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan Indonesia masih tumbuh kuat.
Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD25,30 miliar atau naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor meningkat 22,49 persen menjadi USD25,21 miliar.
Pertumbuhan perdagangan tersebut dinilai dapat mendorong kebutuhan pembiayaan bagi para pelaku usaha dalam menjaga arus kas hingga kebutuhan ekspansi.
"Di tengah volatilitas yang meningkat, siklus pembayaran panjang, dan kenaikan biaya operasional, akses terhadap modal kerja kini telah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga likuiditas dan pertumbuhan. Kemudahan akses modal kerja menjadi faktor krusial yang menentukan daya saing, khususnya bagi pebisnis Indonesia yang sedang ekspansi pasar ekspor," ujar Delia Melissa, Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia dalam keterangannya, Kamis 25 Juni 2026.
Lebih lanjut, HSBC TradeCash dirancang untuk membantu perusahaan memanfaatkan dana yang masih tertahan dalam piutang, tanpa melalui proses administrasi yang kompleks seperti pembiayaan perdagangan konvensional.
Menurut hasil survei HSBC terhadap 3.000 pelaku bisnis dan investor, sebanyak 88 persen responden melakukan penyesuaian alokasi modal sebagai respons terhadap meningkatnya volatilitas global.
Sementara 89 persen lainnya secara aktif meningkatkan penempatan modal di pasar dengan pertumbuhan tinggi.
Vivek Ramachandran, Global Head of Trade HSBC mengatakan, digitalisasi proses pembiayaan menjadi kunci untuk membantu perusahaan bergerak lebih cepat di tengah ketidakpastian pasar.
"HSBC TradeCash dirancang untuk membantu nasabah memaksimalkan kas yang tertahan dalam piutang, melalui proses digital yang cepat dan meminimalisir beban administratif. Dengan menghadirkan akses pendanaan yang cepat, kami membantu bisnis mengalihkan fokus dari pengelolaan dokumen ke pemenuhan pesanan, investasi, dan ekspansi," terangnya.
Sebagai informasi, kehadiran TradeCash melengkapi portofolio trade finance HSBC yang sudah ada sebelumnya, termasuk HSBC TradePay yang memungkinkan perusahaan memperoleh pembiayaan sekaligus pembayaran kepada pemasok secara lebih cepat.(*)