KABARBURSA.COM – Bosch melihat layanan berbasis kecerdasan buatan atau (AI) sebagai salah satu motor pertumbuhan bisnis hingga 2030. Melalui divisi Bosch Global Service Solutions, perusahaan memproyeksikan rata-rata pertumbuhan penjualan dua digit, ditopang pengembangan layanan digital yang mencakup solusi mobilitas, bantuan darurat, pemeliharaan armada, hingga dukungan logistik.
Prospek tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi global yang masih menantang. Namun Bosch menilai aplikasi berbasis AI memberi ruang pertumbuhan baru, terutama untuk memperkuat efisiensi layanan dan memperluas portofolio solusi digital di berbagai sektor.
Portofolio Bosch Global Service Solutions saat ini mencakup beragam layanan, mulai dari solusi mobilitas digital seperti eCall dan bantuan darurat, hingga layanan untuk operator armada dan penyedia logistik.
Bosch memandang pengembangan layanan digital ini sebagai pijakan penting untuk memperkuat bisnis dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Bosch tetap menjaga posisi keuangannya agar mampu menopang agenda ekspansi. Pada tahun fiskal 2025, perusahaan membukukan arus kas bebas positif sekitar 300 juta euro, meski lebih rendah dibandingkan sekitar 900 juta euro pada tahun 2024.
Rasio belanja penelitian dan pengembangan tetap stabil di level 8,7 persen dari penjualan, sedikit lebih tinggi dari 8,6 persen pada tahun sebelumnya.
Total pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan mencapai 7,9 miliar euro. Bosch menegaskan investasi awal tetap dipertahankan dalam jumlah besar, terutama pada strategi sektor-sektor seperti mobilitas listrik, semikonduktor, dan sistem kontrol pengereman yang berubah-ubah.
“Bahkan di masa sulit, Bosch siap melakukan investasi awal yang substansial. Modal Belanja tetap berada pada level yang tinggi," tegas Markus.
Dari sisi struktur keuangan, rasio ekuitas Bosch tetap tinggi di angka 41,6 persen, meski turun dari 44,3 persen pada tahun 2024.
Likuiditas perusahaan juga masih berada dalam posisi solid, meskipun berdasarkan laporan arus kas konsolidasi turun menjadi 7,4 miliar euro dari 8,2 miliar euro pada tahun sebelumnya.
Secara sektoral, perkembangan penjualan Bosch sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang beragam. Pada sektor Mobilitas, pendapatan penjualan naik tipis 0,1 persen menjadi 55,8 miliar euro.
Setelah disesuaikan dengan efek nilai tukar, pertumbuhannya mencapai 2,9 persen. Namun margin EBIT operasional turun menjadi 1,8 persen dari 3,8 persen pada tahun 2024.
Di sektor Teknologi Industri, penjualan juga naik 0,1 persen menjadi 6,5 miliar euro. Jika disesuaikan dengan nilai tukar, kenaikannya mencapai 2,4 persen.
Bosch menyebut perlambatan pasar Amerika Utara menjadi salah satu faktor yang menahan pertumbuhan, meski margin EBIT justru membaik menjadi 3,5 persen dari 1,2 persen tahun sebelumnya.
Pada sektor Barang Konsumsi, pendapatan penjualan turun 1,9 persen secara tahunan menjadi 19,9 miliar euro. Namun setelah penyesuaian nilai tukar, penjualan sebenarnya tumbuh 4,1 persen.
Kinerja sektor ini sangat terdampak lemahnya industri konstruksi di Tiongkok dan Amerika Serikat. Margin EBIT operasional tercatat 3,0 persen, turun dari 3,5 persen pada tahun 2024.
Sementara itu, sektor Teknologi Energi dan Bangunan mencatat pertumbuhan paling tinggi secara nominal. Penjualan mencapai 8,5 miliar euro, naik 13 persen, atau 15,6 persen setelah penyesuaian nilai tukar.
Meski demikian, margin EBIT operasional hanya berada di level 0,5 persen, turun dari 4,9 persen pada tahun 2024, terutama akibat biaya satu kali yang terkait dengan akuisisi dan aktivitas penjualan.
Dari sisi wilayah, Bosch mencatat penurunan tipis di Eropa, namun pertumbuhan tetap terjadi di Amerika dan Asia Pasifik.
Di Eropa, pendapatan turun 0,6 persen menjadi 44,2 miliar euro, tetapi masih tumbuh 1,5 persen setelah penyesuaian nilai tukar. Di Amerika, penjualan naik 3,8 persen menjadi 18,5 miliar euro, atau 9,3 persen setelah penyesuaian nilai tukar.
Sementara di kawasan Asia Pasifik, penjualan meningkat 0,7 persen menjadi 28,3 miliar euro. Setelah memperhitungkan efek nilai tukar, laju pertumbuhannya mencapai 5 persen, menjadikan kawasan ini tetap menjadi salah satu pasar penting bagi ekspansi Bosch.
Di tengah dinamika bisnis tersebut, jumlah tenaga kerja Bosch secara global tercatat menurun. Pada akhir tahun 2025, Bosch memiliki 412.774 karyawan di seluruh dunia, turun sekitar 1 persen atau 5.085 orang dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 417.859 karyawan. Pengurangan tenaga kerja terutama terjadi di sektor mobilitas dan secara regional paling terasa di Jerman.
Meski menghadapi perlambatan perekonomian di sejumlah pasar utama, Bosch tetap menunjukkan arah bisnis yang agresif.
Bosch memilih menjaga belanja teknologi, memperkuat layanan digital berbasis AI, dan mempertahankan investasi jangka panjang sebagai fondasi pertumbuhan.
Dengan strategi itu, Bosch menempatkan AI bukan sekadar pelengkap layanan, tetapi sebagai salah satu pendorong utama prospek bisnis hingga tahun 2030.(*)